Friday, June 4, 2010

Enuresis, Masalah Mengompol pada Anak

Anak Anda selalu mengompol? Jangan dibiarkan, karena boleh jadi anak Anda menderita enuresis. Enuresis adalah proses berkemih normal tetapi terjadi pada tempat dan waktu yang tidak tepat, yaitu berkemih di tempat tidur. Jika terjadi saat tidur malam disebut enuresis nokturnal monosimtomatik, siang hari disebut enuresis diurnal, atau gabungan keduanya.

Hal ini dikemukakan Dr Taralan Tambunan SpA(K) dari Bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSUPN Cipto Mangunkusumo, dalam seminar "Masalah Mengompol", beberapa waktu lalu di Jakarta.

Menurut Dr Taralan, meski ada perbedaan definisi antara inkontinensia urin dengan enuresis, namun pada kenyataannya tidak mudah membedakan enuresis dengan inkontinensia urin karena tidak ada gejala spesifik yang membedakan keduanya secara jelas.

Tapi mengutip The American Psychiatric Association, Dr Taralan menyebutkan batasan enuresis, yaitu mengompol minimal dua kali dalam seminggu dalam periode paling sedikit tiga bulan, pada anak usia lima tahun atau lebih yang tidak disebabkan oleh efek obat-obatan. Khusus enuresis nokturnall monosomatik, diambil batasan mengompol sebanyak tiga kali atau lebih setiap bulan, atau sekali dalam seminggu.

"Enuresis sendiri terbagi menjadi enuresis primer, yaitu enuresis yang terjadi pada anak yang belum pernah berhenti mengompol selama masa hidupnya. Sedangkan enuresis sekunder, dipakai pada anak usia lebih dari lima tahun yang sebelumnya telah pernah bebas masa mengompol minimal selama periode 12 bulan", papar Dr Taralan.

Adapula enuresis nokturnal intermitten, yaitu mereka yang telah bebas mengompol dalam periode waktu yang cukup lama, tetapi sesekali mengompol dalam satu atau dua malam. "Hal ini terjadi pada hampir 80 persen anak-anak," imbuhnya.

Penyebab enuresis anak sendiri, tutur Dr Taralan, sangat beragam. Yaitu;
• Peningkatan ekskresi sodium pada kasus-kasus enuresis nokturnal, sebagai akibat berkurangnya reabsorbsi ion pada pars asendens Anza Henle yang menyebabkan peningkatan diuresis dan ekskresi zat terlarut.
• Peningkatan up take kalsium dan kalsiuria yang ditemukan pada sebagian kecil kasus enuresis nokturnal.
• Sumbatan saluran napas atau pada sleep apnea syndrome.
• Terjadinya peningkatan masukan air (minum terlalu banyak) sebelum tidur.
• Faktor heraditer. Jika ditemukan riwayat enuresis pada salah satu orangtua, maka risiko kemungkinan timbulnya enuresis pada anak sekitar 44 persen.
• Tidur terlalu dalam dan sulit bangun.
• Ritme harian kadar Arginin vasopressin (AVP) plasma.

Daftar Pustaka
http://cybermed.cbn.net.id/cbprtl/Cybermed/detail.aspx?x=Health+News&y=Cybermed|0|0|5|184

No comments:

Post a Comment