Friday, June 4, 2010

Enuresis

Latar belakang
Enuresis merupakan kondisi dimana anak mengompol di malam hari selama tidur saat anak seusianya sudah mampu menahan kencing atau saat anak tersebut baru bisa menahan kencing tidak lebih dari 6 bulan berturut-turut sebelum enuresis mulai terjadi pada anak. Prevalensi keseluruhan enuresis nokturnal diperkirakan sekitar 12,3% dengan enuresis derajat ringan, 2,5% dengan enuresis derajat sedang dan 3,6% dengan enuresis derajat berat. Kurangnya konsensus internasional dan definisi yang tidak pasti mengenai konsep, terminologi, dan klasifikasi enuresis nokturnal merupakan tantangan dalam memahami beberapa penelitian yang ditemukan di literatur. Selain itu, enuresis juga sering ditemui di masyarakat dengan berbagai persepsi dan cara pengobatannya. Dengan konsep, terminologi, dan klasifikasi yang jelas, pengobatan pasien enuresis dapat diberikan dengan tepat.
Prevalensi enuresis primer lebih tinggi pada laki-laki dan menurun sesuai dengan usia penderita. Pada usia 5 tahun, sekitar 23% anak seringkali mengompol di tempat tidur. Pada usia 7 tahun, sekitar 20% anak masih mengompol. Pada usia 10 tahun, hanya 4% anak saja yang masih mengompol. Sedangkan pada masa remaja, tepatnya di usia 18 tahun, enuresis primer hanya terjadi sekitar 1-2%. Kasus enuresis sekunder hanya mencakup 25% kasus enuresis.
Belum pernah dilaporkan adanya kematian akibat enuresis tetapi anak dengan enuresis rentan untuk menimbulkan kasus penganiayaan anak oleh orang tua atau pengasuhnya pada situasi tertentu. Enuresis dapat menimbulkan morbiditas berupa stress psikososial. Selain itu, enuresis juga dihubungkan dengan adanya masalah-masalah yang cukup berat dalam keluarga. Ruam berat di perineum, genital, dan abdomen bawah juga terjadi pada pasien dengan enuresis. Ruam tersebut berpotensi menyebabkan kulit lecet dan infeksi kulit meskipun hal ini jarang terjadi.
Sayangnya, hanya sekitar 36% pasien enuresis yang datang untuk meminta pertolongan medis meskipun anak dengan enuresis ini seringkali sudah mengalami gangguan kesehatan emosional. Padahal attention-deficit/hyperactivity disorder (ADHD), atau lazim dikenal dengan istilah ‘anak hiperaktif’, seringkali dikaitkan erat dengan enuresis ini. Dengan demikian, para penyandang profesi kesehatan anak harus rutin melakukan skrining terhadap ada/tidaknya enuresis dan pengaruhnya terhadap perkembangan emosional anak dan keluarga.
Enuresis ini merupakan salah satu masalah kesehatan yang sering dikeluhkan oleh orang tua. Adanya berbagai masalah yang terjadi secara sekunder akibat enuresis ini tidak luput dari perhatian para klinisi untuk ditangani secara medis. Berikut ini akan dipaparkan tinjauan pustaka tentang enuresis pada anak.
Terminologi, definisi dan klasifikasi
Enuresis merupakan kata dari bahasa Yunani yang berarti “membuat air”. Istilah ini digunakan sebagai istilah medis untuk mengompol, baik saat malam hari (nokturnal) maupun siang hari (diurnal). Istilah enuresis ini lebih sering dianggap mewakili enuresis saat tidur malam hari atau lazim disebut primary nocturnal enuresis (PNE) atau enuresis nokturnal. Enuresis nokturnal merupakan kondisi dimana anak yang sudah mampu menahan kencing saat terjaga tetapi mengompol saat tertidur. Sumber pustaka lainnya secara rinci menyebutkan bahwa syarat enuresis adalah anak berusia 5 tahun ke atas yang mengompol setidaknya 1-2 kali seminggu selama minimal 3 bulan. Namun, disebutkan pula bahwa PNE merupakan kondisi dimana anak mengompol di malam hari selama tidur saat anak seusianya sudah mampu menahan kencing atau saat anak tersebut baru bisa menahan kencing tidak lebih dari 6 bulan berturut-turut sebelum enuresis mulai terjadi pada anak.
Untuk membedakan enuresis nokturnal dan diurnal, International Children’s Continence Society baru-baru ini mempublikasikan standardisasi terminologi enuresis. Mereka mendefinisikan enuresis sebagai segala bentuk gejala mengompol yang terjadi dalam jumlah diskret pada malam hari, terlepas apakah hal tersebut berhubungan/tidak dengan gejala mengompol di siang hari. Hal ini perlu dibedakan dengan inkontinensia yang didefinisikan sebagai kebocoran urin tak terkendali yang terjadi secara intermiten atau kontinu dan terjadi setelah status kontinensia pernah tercapai. Inkontinensia kontinu berarti kebocoran urin konstan, seperti pada anak dengan ureter ektopik atau kerusakan iatrogenik pada sfingter eksterna. Sedangkan inkontinensia intermitten adalah kebocoran urin dalam jumlah diskret selama siang, malam, atau keduanya. Bentuk inkontinensia intermitten yang terjadi minimal di malam hari inilah yang mereka istilahkan dengan enuresis. Mereka juga menyebutkan bahwa kebocoran urin yang terjadi selama siang hari tidak lagi disebut sebagai enuresis diurnal tetapi sekarang disebut sebagai inkontinensia pada siang hari. Istilah lain yang perlu dibedakan dengan enuresis adalah dysfunctional voiding dimana terdapat inkompetensi kontraksi otot untuk menahan urin dan biasanya dihubungkan dengan konstipasi. Istilah ini juga merujuk pada sindroma eliminasi disfungsional.
Berdasarkan derajat penyakit, enuresis nokturnal terbagi menjadi derajat ringan (enuresis pada 1-6 malam di bulan terakhir), derajat sedang (enuresis pada 7 malam atau lebih di bulan terakhir dan tidak setiap malam), dan derajat berat (enuresis setiap malam). Sedangkan berdasarkan jumlah gejala yang dikeluhkan, enuresis dapat dibagi menjadi tipe monosimptomatik dan non-monosimptomatik. Anak dengan enuresis monosimptomatik hanya mengompol di malam hari dan tidak ada gejala inkontinensia pada siang hari. Sedangkan anak dengan enuresis non-monosimptomatik mengalami inkontinensia pada siang hari selain mengompol di malam hari. Enuresis non-monosimptomatik ini lebih sering terjadi karena kebanyakan pasien biasanya pernah mengalami gejala inkontinensia pada siang hari tetapi seringkali tidak cukup bermakna (subtle) untuk dikeluhkan. Hal ini baru diketahui jika anamnesis dilakukan dengan teliti.
Berdasarkan jelas/tidaknya penyebab, enuresis juga dapat dibagi menjadi enuresis primer dan enuresis sekunder. Enuresis primer didiagnosis pada individu yang belum pernah mengalami status kontinensia sejak lahir atau mengalami status kontinensia tidak lebih dari 6 bulan berturut-turut.1,8 Sedangkan enuresis sekunder didiagnosis pada individu yang telah mengalami periode kontinensia minimal 6 bulan berturut-turut sebelum onset enuresis. Manifestasi klinis enuresis primer yang sama dengan enuresis sekunder menunjukkan adanya kesamaan patogenesis umum pada kedua jenis enuresis tersebut. Oleh karena luasnya cakupan pembahasan mengenai enuresis sekunder yang merupakan akibat atau bagian dari gambaran klinis penyakit lain, makalah tinjauan pustaka ini akan lebih banyak menitikberatkan pembahasan enuresis primer yang bersifat monosimptomatik.

Faktor risiko, etiologi dan patofisiologi
Beberapa faktor risiko yang terbukti berkaitan dengan enuresis derajat berat adalah inkontinensia pada siang hari, enkopresis, disfungsi kandung kemih dan jenis kelamin laki-laki. Sedangkan stress emosional dan masalah sosial dikaitkan dengan enuresis nokturnal derajat sedang. Enuresis dilaporkan terdapat pada sekitar 18,5% anak-anak yang bersekolah di siang hari dan pada sekitar 11,5% anak-anak yang ‘bersekolah’ di rumah. Prevalensi enuresis meningkat pada anak yang tinggal di desa, dengan pendapatan rendah dan dengan riwayat keluarga enuresis. Setelah dilakukan analisis multivariat, riwayat infeksi saluran kemih, usia, pendapatan bulanan rendah dan riwayat keluarga enuresis adalah faktor-faktor risiko yang berhubungan dengan enuresis. Sekitar 46,4% orang tua dan 57,1% anak dengan enuresis memberikan perhatiannya terhadap dampak dari enuresis ini.
Seorang dokter harus menyadari bahwa PNE adalah diagnosis ‘keranjang sampah’ dan semua penyebab mengompol yang lain harus disingkirkan terlebih dahulu. Penyebab-penyebab enuresis sekunder antara lain neurogenic bladder dan kelainan medula spinalis lain yang terkait, infeksi saluran kemih, adanya katup uretra posterior pada laki-laki atau ureter ektopik pada perempuan.
Tabel 1. Etiologi primary nocturnal enuresis.
Faktor Patofisiologi Bukti penelitian
Penundaan perkembangan Penundaan maturasi fungsi sistem saraf pusat yang menyebabkan gangguan bangun tidur Tinggi angka remisi spontan ketika anak semakin dewasa, penelitian pada hewan.
Genetik Tidak jelas Riwayat keluarga, identifikasi gen, analisis hubungannya
Gangguan tidur Tidur dalam Penelitian tentang tidur
Gangguan perilaku dan psikologik Tidak jelas Lebih dominan sebagai akibat daripada sebagai penyebab
Anatomi Tidak ditemukan Anak dengan primary nocturnal enuresis memiliki pemeriksaan fisik yang normal
Kadar hormon antidiuretik Kadarnya rendah saat malam hari pada anak dengan primary nocturnal enuresis yang menyebabkan overproduksi urin Penelitian tentang hormonal.
Enuresis dapat terjadi tanpa sebab yang jelas atau idiopatik. Jika hal ini didapati, faktor patofisiologik yang patut diduga adalah gangguan bangun tidur, poliuria nokturnal, dan kapasitas nokturnal kandung kemih yang kurang. Gangguan bangun tidur adalah kondisi dimana anak tidak terbangun oleh rangsang suara yang biasanya direspon oleh anak normal, sehingga pada kasus enuresis, diduga anak tidak terbangun oleh distensi kandung kemih oleh urin. Sedangkan poliuria nokturnal adalah buang air kecil berlebihan pada malam hari yang ditentukan oleh faktor-faktor seperti jumlah makanan/cairan yang dikonsumsi sebelum tidur, sekresi antidiuretic hormone (ADH) yang rendah pada malam hari, peningkatan ekskresi cairan pada malam hari, dan kelebihan asupan kafein. Sedangkan kapasitas fungsional kandung kemih yang rendah dikaitkan dengan dengan banyaknya keluaran urin pada malam hari. Hal in terjadi karena anak dengan enuresis memiliki volume kandung kemih nokturnal yang lebih kecil. Selain itu, otot detrusor anak juga mengontraksikan kandung kemih ke volume yang lebih kecil lagi pada malam hari.
Anamnesis dan pemeriksaan fisik
Evaluasi enuresis nokturnal dimulai dengan anamnesis. Penting untuk menentukan apakah enuresis merupakan primer atau sekunder. Pola enuresis juga harus ditentukan, yaitu mencakup berapa malam per minggu dan berapa kali (episode) per malam. Pola asupan cairan malam hari harus dicatat, demikian pula asupan kafein jika ada.
Tabel 2. Hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik serta interpretasinya.
Gejala, tanda, kondisi Interpretasi yang mungkin Rujukan ke dokter spesialis
Sering buang air kecil Penurunan kapasitas kandung kemih Ya
Nokturia Penurunan kapasitas kandung kemih Ya
Urgensi urinaria Ya
Inkontinensia di siang hari Ya
Kelainan aliran kemih atau interuptus Ya
Urin merembes pada popok Poliuria nokturnal Tidak
Urin volume besar pada buang air kecil pertama pagi hari Poliuria nokturnal Tidak
Asupan air siang hari sedikit, haus saat pulang sekolah, mayoritas asupan air pada sore atau malam hari Poliuria nokturnal Tidak
Haus, poliuria Poliuria nokturnal, kemungkinan diabetes melitus atau diabetes insipidus Tidak
Sistitis Penurunan kapasitas kandung kemih Ya
Konstipasi atau enkopresis Penurunan kapasitas kandung kemih Ya
Mendengkur Gangguan bangun tidur Ya
Tinja keras di abdomen Konstipasi Ya
Tidak adanya jepitan anus Neurogenic bladder Ya
Kelainan kulit lain di daerah vertebra lumbosakral Neurogenic bladder Ya
Tidak ada perbaikan dengan terapi Ya
Anamnesis harus mencakup pertanyaan mengenai poliuria, polidipsia, urgensi, frekuensi, disuria, kelainan aliran urin, riwayat infeksi saluran kemih, mengompol spontan, dan keluhan saluran cerna (15% anak dengan enuresis juga mengalami enkopresis). Riwayat gangguan tidur seperti sleep apnea atau insomnia dan riwayat neurologik maupun perkembangan harus ditanyakan. Riwayat keluarga juga membantu investigasi enuresis.
Pemeriksaan fisik harus mencakup palpasi abdomen untuk menilai ada/tidaknya massa tinja, pemeriksaan tulang belakang segmen bawah untuk menilai ada/tidaknya stigmata kutaneus disrafisme spinalis (pigmentasi pada linea vertebralis), penilaian jepitan anus, dan evaluasi kekuatan motorik, tonus, refleks, dan sensasi di tungkai untuk membuktikan ada/tidaknya neurogenic bladder. Anak-anak yang mengalami gejala mengompol di siang hari atau tidak membaik dengan terapi harus dirujuk ke dokter spesialis anak.
Pemeriksaan penunjang
Urinalisis adalah pemeriksaan yang paling penting untuk skrining anak dengan enuresis. Anak-anak dengan sistitis biasanya memiliki bukti adanya leukosit atau bakteri pada urinalisis mikroskopik. Anak-anak dengan overactive bladder atau dysfunctional voiding, obstruksi uretra, neurogenic bladder, ureter ektopik, atau diabetes melitus merupakan predisposisi terjadinya sistitis. Jika ditemukan bukti sistitis pada urinalisis, urin harus dikirim untuk kultur dan uji sensitifitas. Obstruksi uretra dihubungkan dengan adanya sel darah merah pada urin. Adanya glukosa menunjukkan kemungkinan diabetes melitus. Pengambilan urin acak atau urin pagi hari dengan berat jenis lebih dari 1,020 menyingkirkan diabetes insipidus. Pemeriksaan darah pada pasien enuresis biasanya tidak dibutuhkan kecuali dicurigai ada kondisi lain yang menjadi indikasi pemeriksaan tersebut.
Penatalaksanaan
Terapi perilaku (behavioral therapy) merupakan salah satu terapi yang disarankan untuk pasien enuresis. Pada terapi ini, anak dibiasakan untuk buang air kecil lebih sering dan terjadwal serta membiasakan anak untuk buang air besar setelah sarapan pagi. Hal ini tentu memerlukan motivasi terus-menerus dan dievaluasi setiap 6 bulan. Anak juga dapat diajarkan untuk belajar merelaksasi kandung kemih dan dasar pelvisnya.
Pada sebuah penelitian tanpa kontrol, keberhasilan dalam menangani konstipasi, tanpa adanya intervensi lain, menyebabkan resolusi enuresis pada 63% dari 41 pasien. Obat yang mampu melunakkan tinja membantu meningkatkan keteraturan peristaltik untuk mengoptimalkan pengosongan usus. Pemberian polietilen glikol, yang tidak berasa bagi hampir semua anak dan memiliki efek samping yang minimal, merupakan cara yang efektif mengatasi konstipasi dibandingkan dengan plasebo.
Tabel 3. Rekomendasi penggunaan terapi perilaku.
Lepaskan celana dalam dan kondisikan anak untuk buang air kecil di toilet setiap pagi hari.†
Dorong anak untuk tidak menahan kencing.†
Kerjasama dengan pihak sekolah untuk menyediakan toilet yang nyaman digunakan oleh anak.†
Dorong anak untuk buang air besar setiap hari, terutama setelah makan pagi dan sebelum berangkat sekolah.†
Dorong anak makan makanan yang melunakkan tinja dan mencegah makanan yang mengeraskan tinja.†
Dorong anak untuk buang air kecil minimal sekali per 2 jam, minimal beberapa kali selama hari sekolah, dan cukup sering untuk mencegah urgensi dan inkontinensia.‡
Biarkan anak minum air sebebasnya selama pagi dan awal siang hari, minimal total 30 mL per kg berat badan.‡
Minimalisir asupan air dan minuman setelah makan malam kecuali anak ikut aktifitas sosial atau olahraga di malam hari.‡
Dorong anak mengimbangkan aktifitas fisik dan mengurangi duduk lama di depan televisi atau komputer.‡
Buat anak berada dalam posisi duduk/jongkok yang optimal di toilet untuk merelaksasikan otot dasar panggul dan mempermudah pengosongan usus (duduk di tengah toilet dengan tumit rata di lantai atau di pijakan kaki).‡
Keterangan:
† Rekomendasi berdasarkan pengalaman klinis, bukan rendomized trials.
‡ Rekomendasi berdasarkan penelitian Nevéus et al.
Terapi alarm adalah alternatif lain untuk pengobatan enuresis. Dengan terapi ini, anak dibangunkan tepat pada saat dimana dia akan buang air kecil. Terapi alarm ditujukan untuk memperbaiki kemampuan bangun dari tidur baik oleh kondisi klasik atau pengaruh lainnya. Terapi alarm seringkali dapat menghentikan enuresis tetapi anak-anak masih berkemungkinan mengalami penurunan kapasitas kandung kemih yang membuat anak bangun malam hari. Pendekatan terapeutik ini memerlukan waktu 3-6 bulan untuk bekerja dan sekitar 50% anak tidak enuresis lagi bahkan setelah terapi dihentikan.
Tabel 4. Rekomendasi penggunaan terapi alarm.
Gunakan sebagai terapi lini pertama sebelum meresepkan obat-obatan.
Lanjutkan terapi minimal 2-3 bulan.
Bangunkan anak dengan alarm setiap malam.
Dorong anak dan orang tua untuk ikut serta.
Karena anak-anak dengan cepat belajar untuk mematikan alarm dan kembali tidur, orang tua harus ikut terbangun setiap alarm berbunyi untuk memastikan anak tidak melakukannya.
Buat anak ke kamar mandi dan buang air kecil setiap alarm berbunyi.
Informasikan keluarga bahwa beberapa minggu pertama terapi adalah masa paling sulit, susun jadwal follow up lebih dini untuk mengawasi perkembangan dan mengatasi masalah lainnya.
Informasikan keluarga bahwa kegagalan anak untuk bangun atau orang tua untuk membangunkan anak adalah alasan paling sering terjadinya kegagalan terapi alarm.
Keterangan: rekomendasi didapatkan dari Glazener et al. Terapi ini efektif pada ? anak (4-55% relaps).
Terapi farmakologik terdiri atas desmopressin, antikolinergik, dan antidepressan trisiklik. Desmopressin dapat mengurangi poliuria nokturnal. Sediaannya yang dalam bentuk sprai nasal memiliki waktu paruh yang panjang sehingga perlu diwaspadai kemungkinan intoksikasi air dan hiponatremia. Formulasi oral lebih aman digunakan dengan waktu paruh yang pendek. Anak-anak memerlukan pembatasan cairan sebelum tidur ketika menggunakan obat ini. Obat ini tidak dapat menambah kapasitas kandung kemih.
Antikolinergik dapat menjaga stabilitas dan meningkatkan kapasitas kandung kemih. Penggunaan antikolinergik akan bermanfaat jika dikombinasikan dengan desmopressin. Anak-anak dengan pengobatan ini harus konsultasi ke dokter lebih rutin karena kemungkinan efek samping penggunaannya. Antidepressan trisiklik (contohnya, imipramin) hanya digunakan ketika terapi lain gagal. Perubahan afek dan gangguan tidur sering terjadi pada pasien enuresis. Antidepressan trisiklik juga dapat membawa risiko kematian akibat overdosis dan bekerja hanya pada 20% kasus.
Tabel 5. Rekomendasi penggunaan terapi farmakologik.
Karakteristik Desmopressin Agen antikolinergik Imipramin dan agen trisiklik lainnya
Evidence-based Ya Tidak Ya
Mekanisme Mengurangi poliuria nokturnal Meningkatkan kapasitas kandung kemih, menurunkan overaktifitas detrusor Tidak jelas
Pertimbangan Gunakan sebagai lini pertama terapi farmakologik, pertimbangkan untuk situasi tertentu (berkemah, dll) Gunakan sebagai lini kedua terapi farmakologik untuk anak-anak yang tidak berespon terhadap lini pertama, pertimbangkan untuk dikombinasi dengan desmopresin Gunakan hanya sebagai lini ketiga terapi farmakologik ketika semua pilihan terapi gagal
Efikasi Mengompol berhenti pada 3-48% subjek penelitian, bekerja sebagai pengontrol bukan penyembuh, dapat relaps setelah pengobatan berhenti Bekerja sebagai pengontrol bukan penyembuh, dapat relaps setelah pengobatan berhenti Mengompol berhenti pada 20% subjek penelitian, bekerja sebagai pengontrol bukan penyembuh, dapat relaps setelah pengobatan berhenti
Dosis Tablet: 200-600 µg 1 jam sebelum tidur; Formulasi cepat larut: 120-360 µg 30-60 menit sebelum tidur (pertimbangkan sediaan ini untuk anak yang sulit menelan tablet) Tablet atau sirup oksibutinin: 5 mg atau 0,1 mg/kg sebelum tidur; tablet tolterodine: 2 mg sebelum tidur Tablet: 25-50 mg sebelum tidur, tidak lebih dari 75 mg sebelum tidur
Efek samping Intoksikasi air disertai sakit kepala, mual, muntah, penurunan kesadaran, kejang; formulasi nasal-spray dengan label peringatan kotak hitam dibuat karena peningkatan risiko intoksikasi air, tidak direkomendasikan Konstipasi, mulut kering, mata kabur, muka memerah, intoleransi panas, perubahan afek, peningkatan residu urin Perubahan afek, mual, gangguan tidur, kardiotoksik dengan potensi kematian akibat overdosis, obat harus disimpan dengan baik, jauhkan dari jangkauan anak-anak
Interaksi obat NSAIDs dan antidepressan dapat menyebabkan tambahan retensi cairan
Desmopressin memang telah diterima sebagai terapi medikamentosa untuk terapi enuresis nokturnal primer yang monosimptomatik. Namun, beberapa pasien ditemukan tidak berespon terhadap terapi ini. Pada pasien ini, dapat diberikan alternatif kombinasi desmopressin dan terapi antikolinergik. Untuk menguji efikasi kombinasi ini, Austin et al melakukan penelitian mengenai hasil akhir atas kombinasi terapi ini. Setelah 1 bulan terapi, terdapat penurunan signifikan angka rata-rata terjadinya enuresis pada kelompok subjek yang mendapat kombinasi terapi dibandingkan plasebo. Dengan pendekatan rumus, diperkirakan adanya penurunan signifikan 66% risiko enuresis dibandingkan dengan plasebo.
Radmayr et al melakukan penelitian terhadap 36 penelitian acak atas 20 anak berusia antara 5 dan 16 tahun yang mendapat terapi akupunktur atau desmopressin saja dan melakukan evaluasi setelah 6 bulan terapi. Sekitar 75% dan 65% pasien tidak lagi mengalami enuresis. Tidak adanya perbedaan signifikan di antara kedua modalitas terapi pada penelitian ini menunjukkan bahwa akupunktur dapat menjadi alternatif terapi. Akupunktur diduga memicu perubahan homeostatik dengan menguatkan chi ginjal dan limpa serta meregulasi otak. Namun, peneliti tidak menyebutkan secara jelas bagaimana mekanisme yang rinci mengenai penguatan ginjal dan limpa serta regulasi otak ini. Sayangnya, penelitian yang mendukung efektifitas akupunktur pada pasien enuresis dilakukan dengan jumlah subjek penelitian yang sedikit dan desain penelitiannya tidak menggunakan kontrol sehingga sulit untuk menarik kesimpulan apakah akupunktur dapat direkomendasikan pada pasien enuresis.
Komplikasi dan prognosis
Pada enuresis primer, masalah psikologis hampir selalu menjadi akibat dari penyakit ini dan jarang sekali sebagai penyebabnya. Sebaliknya, masalah psikologis merupakan penyebab yang mungkin didapati pada enuresis sekunder. Komorbiditas masalah perilaku adalah 2-4 kali lebih tinggi pada anak dengan enuresis di semua penelitian epidemiologik. Dampak emosional enuresis pada anak dan keluarga juga dapat terjadi.
Anak-anak dengan enuresis lebih sering dihukum dan berisiko mengalami perlakuan kasar secara fisik dan emosional. Beberapa penelitian melaporkan adanya perasaan malu dan kecemasan pada anak-anak dengan enuresis, kehilangan kepercayaan diri dan berpengaruh terhadap persepsi diri, hubungan interpersonal, kualitas hidup, dan prestasi di sekolah. Dampak negatif yang signifikan pada kepercayaan diri dilaporkan bahkan pada anak dengan episode enuresis satu kali per bulan saja.5 Sebuah penelitian potong lintang (cross-sectional study) dilakukan terhadap 149 pasien berusia antara 6 dan 18 tahun yang didiagnosis enuresis nokturnal primer monosimptomatik. Delapan puluh sembilan persen (n=132) pasien mengalami kekerasan akibat mengompol. Semua kasus ditandai oleh adanya hukuman verbal (caci maki) yang berhubungan atau tidak berhubungan dengan tipe agresi. Hukuman fisik tanpa kontak terjadi pada 50,8% kasus sedangkan hukuman fisik yang disertai kontak terjadi pada 48,5% kasus. Pelaku utama kekerasan adalah ibunya sendiri (87,9%). Terdapat korelasi yang signifikan antara tingkat pendidikan pelaku dan beratnya hukuman.
Tingkat kesembuhan spontan untuk anak-anak yang tidak diobati adalah 15% per tahun. Ketika enuresis merupakan satu-satunya gejala yang dikeluhkan, terapi perilaku atau terapi alarm dapat bersifat kuratif untuk masalah ini. Desmopressin asetat dapat mengendalikan enuresis pada 55% anak. Ketika gejala ini juga terjadi pada siang hari, prognosisnya akan bergantung pada penyebab yang mendasarinya. Prognosisnya sempurna jika enuresis terjadi akibat sistitis, ureter ektopik, apneu obstruktif saat tidur, diabetes melitus, diabetes insipidus, penyakit dengan gejala kejang, blok jantung, atau hipertiroidisme. Enuresis akibat sistitis harus diatasi dengan terapi antibiotik yang tepat. Sedangkan ureter ektopik, apneu obstruktif saat tidur, dan blok jantung berespon terhadap intervensi bedah.
Tabel 6. Prevalensi kesulitan koordinasi motorik anak dengan enuresis.
Penilaian guru terhadap koordinasi anak Enuresis sebelum usia 7 tahun Enuresis pada usia 11 tahun Tidak ada masalah enuresis
Di usia 7 tahun: 1.035 anak 540 anak 10.084 anak
Kendali tangan buruk 6,4 % 10,2 % 3,5 %
Gaduh gelisah 9,8 % 15,4 % 5,6 %
Koordinasi buruk 4,4 % 5,2 % 2,0 %
Gemetaran 2,9 % 3,9 % 1,8 %
Di usia 11 tahun: 972 anak 509 anak 9.423 anak
Kendali tangan buruk 4,2 % 6,1 % 2,4 %
Gaduh gelisah 5,1 % 8,3 % 3,3 %
Koordinasi fisik buruk 4,0 % 4,6 % 2,2 %
Diabetes mellitus, diabetes insipidus, dan hipertiroidisme berespon terhadap intervensi medikamentosa yang spesifik. Enuresis akibat overactive bladder atau dysfunctional voiding biasanya dapat teratasi tetapi inkotinensia pada siang hari dapat berlanjut hingga masa pubertas dan dewasa pada sekitar 20% pasien. Prognosis enuresis akibat neurogenic bladder tergantung pada penyebab neurologik dan apakah pasien dapat menjalani pembedahan atau tidak. Enuresis di masa kecil berhubungan dengan timbulnya gejala sisa di usia dewasa, contohnya dalam hal fungsi sosial, pencapaian pendidikan, dan eksistensi diri secara psikologik. Sebuah penelitian menunjukkan penundaan perkembangan koordinasi motorik pada anak dengan riwayat enuresis di usia 7 dan 11 tahun.

Pencegahan
Alasan terpenting untuk mengobati anak dengan enuresis adalah untuk memperbaiki hilangnya kepercayaan diri dan masalah-masalah psikologik sekunder atau masalah-masalah perilaku yang berkembang akibat enuresis. Pencegahan enuresis hampir sama dengan terapi perilaku yang diberikan pada anak dengan diuresis. Anak harus dibiasakan untuk buang air kecil di toilet setiap pagi hari dan didorong agar tidak terbiasa menahan kencing. Kondisi-kondisi yang membuat anak tidak nyaman untuk menggunakan toilet sedapat mungkin dihindari. Karena konstipasi dapat menjadi faktor predisposisi enuresis, pencegahannya juga dapat mencegah terjadinya enuresis. Dengan demikian, anak juga harus dibiasakan untuk buang air besar setelah makan pagi, diet kaya serat, dan tidak terbiasa menahan buang air besar. Anak harus mengurangi minum setelah makan malam sehingga anak harus dibebaskan minum pada pagi dan awal siang hari.

Daftar Pustaka
http://imsj.globalkrching.com/enuresis/

Jenis dan Pengobatan Enuresis

Enuresis adalah nama medis untuk mengompol, atau sengaja buang air kecil pada anak-anak yang belum bisa mengontrol kandung kemih mereka. Anak perempuan biasanya lebih cepat bisa mengontrol kandung kemihnya dibanding anak laki-laki. Diagnosis enuresis diperlukan pada anak perempuan yang berusia di atas lima dan untuk anak laki-laki yang berusia di atas enam yang masih mengompol.

Beberapa jenis mengompol, antara lain:
enuresis diurnal--mengompol pada siang hari.
nokturnal enuresis--mengompol pada malam hari.
enuresis primer-- terjadi ketika anak tidak bisa kencing di toilet.

Pengobatan:

Pengobatan khusus untuk enuresis akan ditentukan oleh dokter berdasarkan:
- usia anak, kesehatan secara keseluruhan, dan sejarah medis
- kondisi anak sejauh mana kondisi

Daftar Pustaka
http://health.detik.com/read/2010/05/26/164557/1364632/770/enuresis

Enuresis, Masalah Mengompol pada Anak

Anak Anda selalu mengompol? Jangan dibiarkan, karena boleh jadi anak Anda menderita enuresis. Enuresis adalah proses berkemih normal tetapi terjadi pada tempat dan waktu yang tidak tepat, yaitu berkemih di tempat tidur. Jika terjadi saat tidur malam disebut enuresis nokturnal monosimtomatik, siang hari disebut enuresis diurnal, atau gabungan keduanya.

Hal ini dikemukakan Dr Taralan Tambunan SpA(K) dari Bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSUPN Cipto Mangunkusumo, dalam seminar "Masalah Mengompol", beberapa waktu lalu di Jakarta.

Menurut Dr Taralan, meski ada perbedaan definisi antara inkontinensia urin dengan enuresis, namun pada kenyataannya tidak mudah membedakan enuresis dengan inkontinensia urin karena tidak ada gejala spesifik yang membedakan keduanya secara jelas.

Tapi mengutip The American Psychiatric Association, Dr Taralan menyebutkan batasan enuresis, yaitu mengompol minimal dua kali dalam seminggu dalam periode paling sedikit tiga bulan, pada anak usia lima tahun atau lebih yang tidak disebabkan oleh efek obat-obatan. Khusus enuresis nokturnall monosomatik, diambil batasan mengompol sebanyak tiga kali atau lebih setiap bulan, atau sekali dalam seminggu.

"Enuresis sendiri terbagi menjadi enuresis primer, yaitu enuresis yang terjadi pada anak yang belum pernah berhenti mengompol selama masa hidupnya. Sedangkan enuresis sekunder, dipakai pada anak usia lebih dari lima tahun yang sebelumnya telah pernah bebas masa mengompol minimal selama periode 12 bulan", papar Dr Taralan.

Adapula enuresis nokturnal intermitten, yaitu mereka yang telah bebas mengompol dalam periode waktu yang cukup lama, tetapi sesekali mengompol dalam satu atau dua malam. "Hal ini terjadi pada hampir 80 persen anak-anak," imbuhnya.

Penyebab enuresis anak sendiri, tutur Dr Taralan, sangat beragam. Yaitu;
• Peningkatan ekskresi sodium pada kasus-kasus enuresis nokturnal, sebagai akibat berkurangnya reabsorbsi ion pada pars asendens Anza Henle yang menyebabkan peningkatan diuresis dan ekskresi zat terlarut.
• Peningkatan up take kalsium dan kalsiuria yang ditemukan pada sebagian kecil kasus enuresis nokturnal.
• Sumbatan saluran napas atau pada sleep apnea syndrome.
• Terjadinya peningkatan masukan air (minum terlalu banyak) sebelum tidur.
• Faktor heraditer. Jika ditemukan riwayat enuresis pada salah satu orangtua, maka risiko kemungkinan timbulnya enuresis pada anak sekitar 44 persen.
• Tidur terlalu dalam dan sulit bangun.
• Ritme harian kadar Arginin vasopressin (AVP) plasma.

Daftar Pustaka
http://cybermed.cbn.net.id/cbprtl/Cybermed/detail.aspx?x=Health+News&y=Cybermed|0|0|5|184

Penyebab Enuresis

• Faktor Keturunan.
Dari hasil penelitian. 77% anak enuresis, bila kedua orang tuanya enuresis. 44% anak enuresis, bila salah satu orang tuanya enuresis dan 15 %. anak enuresis, bila kedua orang tua sama sekali tidak enuresis.
• Keterlambatan matangnya fungsi susunan syaraf pusat (SSP).
Pada anak normal, ketika kandung kemih sudah penuh oleh urine, system syaraf di kandung kemihnya akan melapor kepada otak. Kemudian otak akan mengirim pesan balik ke kandung kemih, otak akan meminta kandung kemih untuk menahan pengeluaran urine, sampai si anak sudah siap di toilet. Tetapi ada anak dengan keterlambatan matangnya SSP, proses ini tidak terjadi. Sehingga saat kandung kemihnya penuh, anak tidak dapat menahan keluarnya urine tersebut.
• Kurangnya kadar antidiuretic hormone (ADH) dalam tubuh.
Hormon ini akan menyebabkan tubuh seseorang memproduksi sedikit urine pada malam hari. Tetapi pada anak enuresis, tubuhnya tidak bisa membuat ADH dalam jumlah yang mencukupi. Sehingga ketika sedang tidur, tubuhnya menghasilkan banyak urine. Karna hal itulah ia menjadi mengompol.
• Keterlambatan perkembangan.
Disebabkan oleh kurangnya latihan pola buang air yang baik (toilet training).
• Faktor psikologis.
Faktor stress selama usia 2-4 tahun. Biasanya berupa : pemisahan dari keluarga, kematian orang tua, kelahiran saudara kandung (adik), pindah rumah, dan pertengkaran. Enuresis karena stress, bersifat kambuhan dan sementara.
• Kondisi fisik terganggu.
Neurogenic bladder dan kelainan medula spinalis lain yang terkait, infeksi saluran kemih, adanya katup uretra posterior pada laki-laki atau ureter ektopik pada perempuan, diabetes, sembelit dan alergi.

Daftar Pustaka
http://ratnaabas.multiply.com/journal/item/11/New_Pants
http://imsj.globalkrching.com/enuresis/

Enuresis Nokturnal

Enuresis nokturnal (bed-wetting) adalah buang air kecil secara tidak sengaja dan terjadi secara berulang ketika sedang tidur, pada seorang anak yang sudah cukup besar dan semestinya sudah tidak mengompol lagi di tempat tidur.

Sekitar 30% anak berumur 4 tahun, 10% anak berumur 6 tahun, 3% anak berumur 12 tahun dan 1% anak berumur 18 tahun masih mengompol di tempat tidur.
Bed-wetting lebih sering ditemukan pada anak laki-laki.

Penyebabnya biasanya adalah terlambatnya proses pendewasaan, yang kadang disertai dengan gangguan tidur (misanya tidur sambil berjalan atau teror malam).
1-2% kasus disebabkan oleh kelainan fisik (biasanya berupa infeksi saluran kemih).
Bed-wetting juga kadang disebabkan oleh masalah psikis.

Kadang bed-wetting berhenti kemudian timbul lagi. Kekambuhan ini biasanya terjadi karena anak mengalami peristiwa yang menegangkan atau karena anak menderita kelainan fisik (misalnya infeksi saluran kemih).

Untuk anak yang berumur kurang dari 6 tahun, biasanya tidak perlu dilakukan pengobatan, hanya menunggu sampai gejalanya hilang dengan sendirinya.
Setiap tahunnya, pada 15% anak yang berumur lebih dari 6 tahun, bed-wetting akan berhenti dengan sendirinya. Jika hal ini tidak terjadi, bisa dicoba salah satu dari 3 jenis pengobatan berikut: (melindungi) serta menghindari perpisahan maupun lingkungan yang baru. Respon seperti ini bisa menyebabkan terjadinya gangguan pada pematangan/pendewasaan dan perkembangan anak.
1. Konsultasi dan terapi perilaku.
Konsultasi melibatkan anak dan orang tua; diberikan penjelasan bahwa bed-wetting memang agak sering terjadi, dapat diperbaiki dan tidak perlu menimbulkan rasa bersalah pada siapapun. Terapi perilaku untuk anak:
- Menandai pada penanggalan/kalender malam-malam dimana dia mengompol maupun tidak
- Menahan diri untuk tidak minum 2-3 jam sebelum tidur
- Melakukan buang air kecil sebelum tidur
- Mengganti pakaian dan seprenya sendiri jika mengompol.
Terapi perilaku untuk orang tua:
- Tidak menghukum atau memarahi anak karena mengompol
- Memberikan pujian/hadiah jika anak tidak mengompol (misalnya memberikan tanda bintang pada kalender atau hadiah lainnya, tergantung kepada usia anak).
2. Alarm ngompol.
Merupakan metode pengobatan yang paling efektif, mampu menyembuhkan 70% anak yang mengompol dan hanya 10-15% yang mengompol kembali setelah metode ini dihentikan.
Metode ini tidak mahal dan mudah diterapkan meskipun cara kerjanya lambat.
Alarm akan berbunyi jika telah keluar beberapa tetes air kemih. Pada beberapa minggu pertama, anak akan terbangun setelah ngompol. Beberapa minggu berikutnya anak terbangun setelah sedikit mengeluarkan air kemihnya dan tempat tidurnya belum terlalu basah. Lama-lama anak akan terbangun karena ingin buang air kecil dan tempat tidurnya masih kering. Alam ini boleh dilepas setelah 3 minggu anak tidak mengompol.
3. Terapi obat.
Pemberian obat pada saat ini lebih jarang dilakukan karena alarm ngompol lebih efektif dan obat-obatan mungkin akan menimbulkan efek samping.
Jika pengobatan lainnya gagal dan orang tua sangat menginginkan pemberian obat, biasanya diberikan imipramin.
Imipramin adalah obat anti-depresi yang mengendurkan kandung kemih dan memperkuat sfingter yang menghambat aliran air kemih. Keuntungan dari pemberian obat adalah cara kerjanya yang cepat.
Setelah selama 1 bulan anak tidak mengompol, dosisnya diturunkan dan diberikan selama 2-4 minggu, kemudian pemberian obat dihentikan.
Sekitar 75% anak akan ngompol kembali setelah obat dihentikan. Jika hal ini terjadi, bisa dicoba diberikan obat selama 3 bulan.
Contoh darah diperiksa setiap 2-4 minggu untuk memastikan bahwa jumlah sel darah putih tidak berkurang (karena salah satu efek samping dari obat ini adalah penurunan jumlah sel darah putih).
Pilihan lainnya dalah obat semprot hidung desmopressin, yang mengurangi pengeluaran air kemih. Efek sampingnya sedikit tetapi harganya mahal.

Daftar Pustaka
http://www.tanyadokter.com/disease.asp?id=1001387

Treatment Enuresis

Enuresis ini dapat diatasi tanpa obat dan dengan obat untuk anak berusia diatas 7 tahun yang tidak berhasil diatasi tanpa obat. Prinsip pengobatan yaitu membuat kandung kencing dapat menahan lebih banyak kencing dan membantu ginjal untuk mengurangi produksi kencing. Pengobatan dengan obat-obatan tentulah memiliki efek samping.

•Obat-obat yang dipakai yaitu, dessmopressin merupakan sintetik analog arginin vasopresin, bekerja mengurangi produksi air kencing dimalam hari dan mengurangi tekanan dalam kandung kencing (intravesikular). Efek samping yang sering adalah iritasi hidung bila obat diberikan melalui semprotan hidung dan sakit kepala bahkan menjadi agresif dan mimpi buruk, tapi hilang dengan pemberhentian obat. Dessmopresin diberikan sebelum tidur.
Obat lain yang dapat yaituimip ramin yang bersifat antikolinergik tapi mekanismenya belum dimengerti. Ada teori yang mengatakan obat ini menurunkan kontraktilitas kandung kencing sehingga kemampuan pengisian kandung kencing dan kapasitanya diperbesar. Imipramin mempunyai efek yang buruk terhadap jantung.
•Cara mengatasi tanpa obat :
- terapi motivasi (motivational therapy)
dengan memberikan hadiah pada anak bila tidak ngompol, hal ini dilihat dari catatan harian ngompol anak, bila dalam 3-6 bulan tidak berhasil maka dicari cara lain.
- terapi alarm (behaviour modification)
alarm diletakkan dekat alat kelamin anak, bila anak mulai ngompol maka alarm berbunyi sehingga anak terbangun dan menahan kencingnya dan selanjutnya orang tua membantu anak meneruskan buang air kecil di toilet. Cara ini dapat dikombinasikan dengan terapi motivasi. Perubahan positif akan terlihat sekitar 2 minggu atau beberapa bulan. Cara ini memiliki keberhasilan 50 % hingga 70%
- latihan menahan keluarnya air kencing (bledder training exercise) cara ini dilakukan pada anak yang memiliki kandung kencing yang kecil
-terapi kejiwaan(physioterapy), terapi diet, terapi hipnotis(hypnotherapy) belum banyak dilakukan pada penanganan enuresis primer. Terapi diet yaitu membatasi makanan yang memiliki efek terhadap episode enuresis seperti yang mengandung coklat, soda, kafein. Mengatasi anak ngompol bukanlah suatu hal yang mudah. Hal ini diperlukan kerja sama antara orang tua, anak bahkan dokter. Sebagai orang tua kita harus menyingkapi masalah ini dengan penuh kesabaran dan pengertian kepada anak dengan tidak memojokkan atau mengolok-oloknya. Anak justru harus diberi motivasi dan kasih sayang agar terbentuk kepercayaan diri sehingga mereka dapat mengatasi masalah ngompol pada dirinya. Karena ngompol yang berlarut-larut akan mengganggu kehidupan sosial
dan psikologis yang akan menghambat pertumbuhan dan perkembangan anak itu sendiri.

Daftar Pustaka
http://www.scribd.com/doc/23231365/Enuresis-Adalah-Keadaan-Tidak-Dapat-Menahan-Keluarnya-Air-Kencing-Yang

Anak Jadi Agresif Sejak Punya Adik

KEPONAKAN saya R bulan ini usianya genap 5 tahun. Ia anak laki-laki yang cukup cerdas, aktif, dan bicaranya lancar. R adalah anak pertama dari pasangan suami istri, ayah bekerja sebagai PNS sedangkan istri swasta. Ia lahir cukup bulan dan normal tidak kurang sesuatu apa.
Terakhir kami bertemu dengan tampak cemas, gelisah, dan tegang. Menurut orang tuanya, ia menjadi lebih aktif dan agresif sejak 8 bulan yang lalu, yaitu setelah kelahiran adiknya. Bila dalam keadaan marah sekali R dapat mendorong, memukul, bahkan menggigit adiknya.Kedua orang tua R kehabisan kata-kata menghadapinya, terlebih sejak 4 bulan yang lalu R menjadi sulit makan, sulit untuk tidur dan sejak 2 bulan terakhir mulai mengompol dan buang air besar di celana.
Kedua orang tua merasa sangat khawatir terhadap perkembangan anaknya. Mereka kemudian membawa R berobat ke puskesmas dan dokter. Akan tetapi, sampai saat ini keadaan R belum banyak berubah. Mohon pengasuh dapat memberikan penjelasan mengenai apa yang terjadi pada R dan mencarikan jalan keluarnya.
Terima kasih.
Din di Bandung
KEMAMPUAN menata emosi dan kesadaran sebagai makhluk ciptaan Tuhan adalah hasil dari proses yang dijalani selama masa perkembangan. Cara merawat, mengasuh, dan mendidik anak diyakini sangatbesar pengaruhnya terhadap pembentukan kepribadian anak, kelak sebagai orang dewasa. Artinya, banyak kesempatan yang dapat dimanfaatkan untuk melakukan intervensi dari mana pun anak berasal agar dia menjadi pribadi yang sehat jasmani dan rohani, mampu menyesuaikan diri, dan selalu dapat menyikapi dan menyiasati semua perubahan kondisi dan situasi secara positif. Di antara cerminan adanya kemampuan menata emosi adalah cara seseorang mengemukakan pendapat dan mengekspresikan perasaannya. Apakah ia dapat menyatakannya secara sehat, yang artinya tidak menimbulkan kesulitan pada dirinya sendiri, orang lain dan lingkungan pada umumnya? Ataukah pernyataan pendapat dan ekspresi perasaan itu menimbulkan luka mental dan fisik pada orang lain.
Gangguan emosional anak Tuan Din, gangguan mental emosional bisa juga dialami oleh anak -anak. Perkembangan anak tidak selalu berjalan normal. Ada anak yang mengalami kesulitan dalam berperilaku, yang dikeluhkan orang tua sebagai perkembangan yang terlambat, ketidakmampuan menyesuaikan diri, tidak bisa diam, sulit konsentrasi, agresif dan sebagainya. Dari berbagai media pemberitaan kita sering melihat kasus gangguan mental emosional yang juga menyangkut anak-anak usia di bawah 10 tahun. Bahkan, yang lebih memprihatinkan masih ada anak yang mendapat perlakuan yang tidak senonoh di usia yang sa-ngat muda seperti perkosaan, penelantaran, tindak kekerasan yang tentunya berdampak negatif terhadap perkembangan jiwa anak.
"Sibling rivairry"
Dari informasi di atas, tampaknya R mengalami masalah mental emosional yang berkaitan dengan persaingan dan iri antara saudara, depresi pada anak, enkopresis (buang air besar di celana) dan enuresis (ngom-pol). Masalah persaingan dan iri antara saudara merupakan kejadian yang biasa dijumpai. Sebagian besar anak usia dini memperlihatkan masalah emosional dengan kelahiran adiknya. Gangguan yang timbul biasanya bersilat ringan meskipun rasa persaingan atau iri hati yang timbul dapat berlangsung cukup lama. Rasa persaingan atau iri hati merupakan upaya bersaing antarsaudara untuk merebut perhatian atau cinta orang tuanya.
Dalam kasus yang berat, dapat disertai oleh rasa permusuhan yang terbuka terutama trauma fisik, atau upaya menyakiti saudaranya. Dalam kasus yang ringan dapat terlihat dalam bentuk keengganan untuk berbagi dan tidak menunjukkan sikap yang ramah. Seorang anak tidak mudah mengerti dan mengutarakan perasaannya. Sering kali perasaan iri atau persaingan antarsaudara dapat dideteksi dari perilaku anak. Gangguan emosional pada anak dapat berbentuk macam-macam regresi (kemunduran ke tahap yang lebih dini) dengan hilangnya berbagai keterampilan yang telah dimilikinya, sepertipengendalian buang air besar dan buang air kecil dan cenderung berperilaku seperti bayi. Dapat pula anak menunjukkan perilaku menentang terhadap orang tua, mengamuk atau temper tantrum, cemas, atau kecewa, dan penarikan diri secara sosial. Adanya gangguan akibat persaingan antarsaudara (.sibling rivalry) ditegakkan bilaa.Ditemukan adanya rasa persaingan dan atau iri hati terhadap saudara.b.Awitan selama beberapa bulan setelah kelahiran adik (terutama adik langsung).c.Gangguan emosional melampaui taraf normal dan atau berkelanjutan dan berhubungan dengan masalah psikososial.
Enkopresis adalah gangguan yang tidak mampu menahan buang air besar bila terjadi setelah periode pengendalian fekal yang lama (usia anak telah lebih dari 3 tahun) kadang-kadang merupakan regresi setelah stres tertentu seperti perpisahan dengan orang tua, pindah rumah atau kelahiran adik. Sedang enuresis adalah gangguan kencing berulang-ulang sehingga pakaian dan tempat tidur anak basah. Biasanya terjadi pada anak yang usianya sekurang-kurangnya 5 tahun.
Selain itu yang perlu dipertimbangkan adanya depresi pada anak. Depresi pada anak sering didasari oleh suatu kehilangan objek cinta, yang bermakna bagi anak. Kehilangan dapat merupakan suatu kejadian yang nyata, atau dapat pula hanya terjadi dalam imajinasi anak (keha-diran adik, kakak "kehilangan" cinta dan perhatian ibu) Gangguan depresi pada anak kadang-kadang sulit teridentifikasi karena anak sulit mengutarakan perasaannya. Pernyataan perasaan sering berupa penyimpangan perilaku dalam bentuk cepat marah, temper tantrum, menolak makan dan keluhan fisik yang samar-samar (tanpa kelainan organ) seperti sakit perut, muntah-muntah, dan sakit kepala. Pada anak usia kurang dari 5 tahun memperlihatkan gejala depresi yang terselubung seperti agresif dan hiperaktif.
Mengatasi
Upaya yang dapat dilakukan terhadap R antara lain konseling pada kedua orang tua. Persaingan antarsaudara merupakan hal yang umum terjadi dalam perkembangan anak. Bila terdapat faktor yang lebih kompleks seperti sampai terjadi disharmoni keluarga, merupakan trauma psikis yang berkepanjangan. Usaha berbagai cara untuk mengatasi persaingan atau rasa iri hati antarsaudara dengan cara lebih mendekatkan rasa persaudaraan adik-kakak dan mempersiapkan perasaan kakak dalam menerima kelahiran adiknya serta melibatkan kakak dalam mengasuh adik. Bila upaya yang dilakukan masih belum dapat mengatasi masalah anak, segera bawa ke fasilitas pelayanan psikiatn terdekat untuk menjalani pemeriksaan dan pengobatan seperti psikoterapi dan terapi keluarga. Perawatan di rumah sakit harus dipertimbangkan jika keadaan anak memburuk.

Sumber:
http://bataviase.co.id/node/184364