Latar belakang
Enuresis merupakan kondisi dimana anak mengompol di malam hari selama tidur saat anak seusianya sudah mampu menahan kencing atau saat anak tersebut baru bisa menahan kencing tidak lebih dari 6 bulan berturut-turut sebelum enuresis mulai terjadi pada anak. Prevalensi keseluruhan enuresis nokturnal diperkirakan sekitar 12,3% dengan enuresis derajat ringan, 2,5% dengan enuresis derajat sedang dan 3,6% dengan enuresis derajat berat. Kurangnya konsensus internasional dan definisi yang tidak pasti mengenai konsep, terminologi, dan klasifikasi enuresis nokturnal merupakan tantangan dalam memahami beberapa penelitian yang ditemukan di literatur. Selain itu, enuresis juga sering ditemui di masyarakat dengan berbagai persepsi dan cara pengobatannya. Dengan konsep, terminologi, dan klasifikasi yang jelas, pengobatan pasien enuresis dapat diberikan dengan tepat.
Prevalensi enuresis primer lebih tinggi pada laki-laki dan menurun sesuai dengan usia penderita. Pada usia 5 tahun, sekitar 23% anak seringkali mengompol di tempat tidur. Pada usia 7 tahun, sekitar 20% anak masih mengompol. Pada usia 10 tahun, hanya 4% anak saja yang masih mengompol. Sedangkan pada masa remaja, tepatnya di usia 18 tahun, enuresis primer hanya terjadi sekitar 1-2%. Kasus enuresis sekunder hanya mencakup 25% kasus enuresis.
Belum pernah dilaporkan adanya kematian akibat enuresis tetapi anak dengan enuresis rentan untuk menimbulkan kasus penganiayaan anak oleh orang tua atau pengasuhnya pada situasi tertentu. Enuresis dapat menimbulkan morbiditas berupa stress psikososial. Selain itu, enuresis juga dihubungkan dengan adanya masalah-masalah yang cukup berat dalam keluarga. Ruam berat di perineum, genital, dan abdomen bawah juga terjadi pada pasien dengan enuresis. Ruam tersebut berpotensi menyebabkan kulit lecet dan infeksi kulit meskipun hal ini jarang terjadi.
Sayangnya, hanya sekitar 36% pasien enuresis yang datang untuk meminta pertolongan medis meskipun anak dengan enuresis ini seringkali sudah mengalami gangguan kesehatan emosional. Padahal attention-deficit/hyperactivity disorder (ADHD), atau lazim dikenal dengan istilah ‘anak hiperaktif’, seringkali dikaitkan erat dengan enuresis ini. Dengan demikian, para penyandang profesi kesehatan anak harus rutin melakukan skrining terhadap ada/tidaknya enuresis dan pengaruhnya terhadap perkembangan emosional anak dan keluarga.
Enuresis ini merupakan salah satu masalah kesehatan yang sering dikeluhkan oleh orang tua. Adanya berbagai masalah yang terjadi secara sekunder akibat enuresis ini tidak luput dari perhatian para klinisi untuk ditangani secara medis. Berikut ini akan dipaparkan tinjauan pustaka tentang enuresis pada anak.
Terminologi, definisi dan klasifikasi
Enuresis merupakan kata dari bahasa Yunani yang berarti “membuat air”. Istilah ini digunakan sebagai istilah medis untuk mengompol, baik saat malam hari (nokturnal) maupun siang hari (diurnal). Istilah enuresis ini lebih sering dianggap mewakili enuresis saat tidur malam hari atau lazim disebut primary nocturnal enuresis (PNE) atau enuresis nokturnal. Enuresis nokturnal merupakan kondisi dimana anak yang sudah mampu menahan kencing saat terjaga tetapi mengompol saat tertidur. Sumber pustaka lainnya secara rinci menyebutkan bahwa syarat enuresis adalah anak berusia 5 tahun ke atas yang mengompol setidaknya 1-2 kali seminggu selama minimal 3 bulan. Namun, disebutkan pula bahwa PNE merupakan kondisi dimana anak mengompol di malam hari selama tidur saat anak seusianya sudah mampu menahan kencing atau saat anak tersebut baru bisa menahan kencing tidak lebih dari 6 bulan berturut-turut sebelum enuresis mulai terjadi pada anak.
Untuk membedakan enuresis nokturnal dan diurnal, International Children’s Continence Society baru-baru ini mempublikasikan standardisasi terminologi enuresis. Mereka mendefinisikan enuresis sebagai segala bentuk gejala mengompol yang terjadi dalam jumlah diskret pada malam hari, terlepas apakah hal tersebut berhubungan/tidak dengan gejala mengompol di siang hari. Hal ini perlu dibedakan dengan inkontinensia yang didefinisikan sebagai kebocoran urin tak terkendali yang terjadi secara intermiten atau kontinu dan terjadi setelah status kontinensia pernah tercapai. Inkontinensia kontinu berarti kebocoran urin konstan, seperti pada anak dengan ureter ektopik atau kerusakan iatrogenik pada sfingter eksterna. Sedangkan inkontinensia intermitten adalah kebocoran urin dalam jumlah diskret selama siang, malam, atau keduanya. Bentuk inkontinensia intermitten yang terjadi minimal di malam hari inilah yang mereka istilahkan dengan enuresis. Mereka juga menyebutkan bahwa kebocoran urin yang terjadi selama siang hari tidak lagi disebut sebagai enuresis diurnal tetapi sekarang disebut sebagai inkontinensia pada siang hari. Istilah lain yang perlu dibedakan dengan enuresis adalah dysfunctional voiding dimana terdapat inkompetensi kontraksi otot untuk menahan urin dan biasanya dihubungkan dengan konstipasi. Istilah ini juga merujuk pada sindroma eliminasi disfungsional.
Berdasarkan derajat penyakit, enuresis nokturnal terbagi menjadi derajat ringan (enuresis pada 1-6 malam di bulan terakhir), derajat sedang (enuresis pada 7 malam atau lebih di bulan terakhir dan tidak setiap malam), dan derajat berat (enuresis setiap malam). Sedangkan berdasarkan jumlah gejala yang dikeluhkan, enuresis dapat dibagi menjadi tipe monosimptomatik dan non-monosimptomatik. Anak dengan enuresis monosimptomatik hanya mengompol di malam hari dan tidak ada gejala inkontinensia pada siang hari. Sedangkan anak dengan enuresis non-monosimptomatik mengalami inkontinensia pada siang hari selain mengompol di malam hari. Enuresis non-monosimptomatik ini lebih sering terjadi karena kebanyakan pasien biasanya pernah mengalami gejala inkontinensia pada siang hari tetapi seringkali tidak cukup bermakna (subtle) untuk dikeluhkan. Hal ini baru diketahui jika anamnesis dilakukan dengan teliti.
Berdasarkan jelas/tidaknya penyebab, enuresis juga dapat dibagi menjadi enuresis primer dan enuresis sekunder. Enuresis primer didiagnosis pada individu yang belum pernah mengalami status kontinensia sejak lahir atau mengalami status kontinensia tidak lebih dari 6 bulan berturut-turut.1,8 Sedangkan enuresis sekunder didiagnosis pada individu yang telah mengalami periode kontinensia minimal 6 bulan berturut-turut sebelum onset enuresis. Manifestasi klinis enuresis primer yang sama dengan enuresis sekunder menunjukkan adanya kesamaan patogenesis umum pada kedua jenis enuresis tersebut. Oleh karena luasnya cakupan pembahasan mengenai enuresis sekunder yang merupakan akibat atau bagian dari gambaran klinis penyakit lain, makalah tinjauan pustaka ini akan lebih banyak menitikberatkan pembahasan enuresis primer yang bersifat monosimptomatik.
Faktor risiko, etiologi dan patofisiologi
Beberapa faktor risiko yang terbukti berkaitan dengan enuresis derajat berat adalah inkontinensia pada siang hari, enkopresis, disfungsi kandung kemih dan jenis kelamin laki-laki. Sedangkan stress emosional dan masalah sosial dikaitkan dengan enuresis nokturnal derajat sedang. Enuresis dilaporkan terdapat pada sekitar 18,5% anak-anak yang bersekolah di siang hari dan pada sekitar 11,5% anak-anak yang ‘bersekolah’ di rumah. Prevalensi enuresis meningkat pada anak yang tinggal di desa, dengan pendapatan rendah dan dengan riwayat keluarga enuresis. Setelah dilakukan analisis multivariat, riwayat infeksi saluran kemih, usia, pendapatan bulanan rendah dan riwayat keluarga enuresis adalah faktor-faktor risiko yang berhubungan dengan enuresis. Sekitar 46,4% orang tua dan 57,1% anak dengan enuresis memberikan perhatiannya terhadap dampak dari enuresis ini.
Seorang dokter harus menyadari bahwa PNE adalah diagnosis ‘keranjang sampah’ dan semua penyebab mengompol yang lain harus disingkirkan terlebih dahulu. Penyebab-penyebab enuresis sekunder antara lain neurogenic bladder dan kelainan medula spinalis lain yang terkait, infeksi saluran kemih, adanya katup uretra posterior pada laki-laki atau ureter ektopik pada perempuan.
Tabel 1. Etiologi primary nocturnal enuresis.
Faktor Patofisiologi Bukti penelitian
Penundaan perkembangan Penundaan maturasi fungsi sistem saraf pusat yang menyebabkan gangguan bangun tidur Tinggi angka remisi spontan ketika anak semakin dewasa, penelitian pada hewan.
Genetik Tidak jelas Riwayat keluarga, identifikasi gen, analisis hubungannya
Gangguan tidur Tidur dalam Penelitian tentang tidur
Gangguan perilaku dan psikologik Tidak jelas Lebih dominan sebagai akibat daripada sebagai penyebab
Anatomi Tidak ditemukan Anak dengan primary nocturnal enuresis memiliki pemeriksaan fisik yang normal
Kadar hormon antidiuretik Kadarnya rendah saat malam hari pada anak dengan primary nocturnal enuresis yang menyebabkan overproduksi urin Penelitian tentang hormonal.
Enuresis dapat terjadi tanpa sebab yang jelas atau idiopatik. Jika hal ini didapati, faktor patofisiologik yang patut diduga adalah gangguan bangun tidur, poliuria nokturnal, dan kapasitas nokturnal kandung kemih yang kurang. Gangguan bangun tidur adalah kondisi dimana anak tidak terbangun oleh rangsang suara yang biasanya direspon oleh anak normal, sehingga pada kasus enuresis, diduga anak tidak terbangun oleh distensi kandung kemih oleh urin. Sedangkan poliuria nokturnal adalah buang air kecil berlebihan pada malam hari yang ditentukan oleh faktor-faktor seperti jumlah makanan/cairan yang dikonsumsi sebelum tidur, sekresi antidiuretic hormone (ADH) yang rendah pada malam hari, peningkatan ekskresi cairan pada malam hari, dan kelebihan asupan kafein. Sedangkan kapasitas fungsional kandung kemih yang rendah dikaitkan dengan dengan banyaknya keluaran urin pada malam hari. Hal in terjadi karena anak dengan enuresis memiliki volume kandung kemih nokturnal yang lebih kecil. Selain itu, otot detrusor anak juga mengontraksikan kandung kemih ke volume yang lebih kecil lagi pada malam hari.
Anamnesis dan pemeriksaan fisik
Evaluasi enuresis nokturnal dimulai dengan anamnesis. Penting untuk menentukan apakah enuresis merupakan primer atau sekunder. Pola enuresis juga harus ditentukan, yaitu mencakup berapa malam per minggu dan berapa kali (episode) per malam. Pola asupan cairan malam hari harus dicatat, demikian pula asupan kafein jika ada.
Tabel 2. Hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik serta interpretasinya.
Gejala, tanda, kondisi Interpretasi yang mungkin Rujukan ke dokter spesialis
Sering buang air kecil Penurunan kapasitas kandung kemih Ya
Nokturia Penurunan kapasitas kandung kemih Ya
Urgensi urinaria Ya
Inkontinensia di siang hari Ya
Kelainan aliran kemih atau interuptus Ya
Urin merembes pada popok Poliuria nokturnal Tidak
Urin volume besar pada buang air kecil pertama pagi hari Poliuria nokturnal Tidak
Asupan air siang hari sedikit, haus saat pulang sekolah, mayoritas asupan air pada sore atau malam hari Poliuria nokturnal Tidak
Haus, poliuria Poliuria nokturnal, kemungkinan diabetes melitus atau diabetes insipidus Tidak
Sistitis Penurunan kapasitas kandung kemih Ya
Konstipasi atau enkopresis Penurunan kapasitas kandung kemih Ya
Mendengkur Gangguan bangun tidur Ya
Tinja keras di abdomen Konstipasi Ya
Tidak adanya jepitan anus Neurogenic bladder Ya
Kelainan kulit lain di daerah vertebra lumbosakral Neurogenic bladder Ya
Tidak ada perbaikan dengan terapi Ya
Anamnesis harus mencakup pertanyaan mengenai poliuria, polidipsia, urgensi, frekuensi, disuria, kelainan aliran urin, riwayat infeksi saluran kemih, mengompol spontan, dan keluhan saluran cerna (15% anak dengan enuresis juga mengalami enkopresis). Riwayat gangguan tidur seperti sleep apnea atau insomnia dan riwayat neurologik maupun perkembangan harus ditanyakan. Riwayat keluarga juga membantu investigasi enuresis.
Pemeriksaan fisik harus mencakup palpasi abdomen untuk menilai ada/tidaknya massa tinja, pemeriksaan tulang belakang segmen bawah untuk menilai ada/tidaknya stigmata kutaneus disrafisme spinalis (pigmentasi pada linea vertebralis), penilaian jepitan anus, dan evaluasi kekuatan motorik, tonus, refleks, dan sensasi di tungkai untuk membuktikan ada/tidaknya neurogenic bladder. Anak-anak yang mengalami gejala mengompol di siang hari atau tidak membaik dengan terapi harus dirujuk ke dokter spesialis anak.
Pemeriksaan penunjang
Urinalisis adalah pemeriksaan yang paling penting untuk skrining anak dengan enuresis. Anak-anak dengan sistitis biasanya memiliki bukti adanya leukosit atau bakteri pada urinalisis mikroskopik. Anak-anak dengan overactive bladder atau dysfunctional voiding, obstruksi uretra, neurogenic bladder, ureter ektopik, atau diabetes melitus merupakan predisposisi terjadinya sistitis. Jika ditemukan bukti sistitis pada urinalisis, urin harus dikirim untuk kultur dan uji sensitifitas. Obstruksi uretra dihubungkan dengan adanya sel darah merah pada urin. Adanya glukosa menunjukkan kemungkinan diabetes melitus. Pengambilan urin acak atau urin pagi hari dengan berat jenis lebih dari 1,020 menyingkirkan diabetes insipidus. Pemeriksaan darah pada pasien enuresis biasanya tidak dibutuhkan kecuali dicurigai ada kondisi lain yang menjadi indikasi pemeriksaan tersebut.
Penatalaksanaan
Terapi perilaku (behavioral therapy) merupakan salah satu terapi yang disarankan untuk pasien enuresis. Pada terapi ini, anak dibiasakan untuk buang air kecil lebih sering dan terjadwal serta membiasakan anak untuk buang air besar setelah sarapan pagi. Hal ini tentu memerlukan motivasi terus-menerus dan dievaluasi setiap 6 bulan. Anak juga dapat diajarkan untuk belajar merelaksasi kandung kemih dan dasar pelvisnya.
Pada sebuah penelitian tanpa kontrol, keberhasilan dalam menangani konstipasi, tanpa adanya intervensi lain, menyebabkan resolusi enuresis pada 63% dari 41 pasien. Obat yang mampu melunakkan tinja membantu meningkatkan keteraturan peristaltik untuk mengoptimalkan pengosongan usus. Pemberian polietilen glikol, yang tidak berasa bagi hampir semua anak dan memiliki efek samping yang minimal, merupakan cara yang efektif mengatasi konstipasi dibandingkan dengan plasebo.
Tabel 3. Rekomendasi penggunaan terapi perilaku.
Lepaskan celana dalam dan kondisikan anak untuk buang air kecil di toilet setiap pagi hari.†
Dorong anak untuk tidak menahan kencing.†
Kerjasama dengan pihak sekolah untuk menyediakan toilet yang nyaman digunakan oleh anak.†
Dorong anak untuk buang air besar setiap hari, terutama setelah makan pagi dan sebelum berangkat sekolah.†
Dorong anak makan makanan yang melunakkan tinja dan mencegah makanan yang mengeraskan tinja.†
Dorong anak untuk buang air kecil minimal sekali per 2 jam, minimal beberapa kali selama hari sekolah, dan cukup sering untuk mencegah urgensi dan inkontinensia.‡
Biarkan anak minum air sebebasnya selama pagi dan awal siang hari, minimal total 30 mL per kg berat badan.‡
Minimalisir asupan air dan minuman setelah makan malam kecuali anak ikut aktifitas sosial atau olahraga di malam hari.‡
Dorong anak mengimbangkan aktifitas fisik dan mengurangi duduk lama di depan televisi atau komputer.‡
Buat anak berada dalam posisi duduk/jongkok yang optimal di toilet untuk merelaksasikan otot dasar panggul dan mempermudah pengosongan usus (duduk di tengah toilet dengan tumit rata di lantai atau di pijakan kaki).‡
Keterangan:
† Rekomendasi berdasarkan pengalaman klinis, bukan rendomized trials.
‡ Rekomendasi berdasarkan penelitian Nevéus et al.
Terapi alarm adalah alternatif lain untuk pengobatan enuresis. Dengan terapi ini, anak dibangunkan tepat pada saat dimana dia akan buang air kecil. Terapi alarm ditujukan untuk memperbaiki kemampuan bangun dari tidur baik oleh kondisi klasik atau pengaruh lainnya. Terapi alarm seringkali dapat menghentikan enuresis tetapi anak-anak masih berkemungkinan mengalami penurunan kapasitas kandung kemih yang membuat anak bangun malam hari. Pendekatan terapeutik ini memerlukan waktu 3-6 bulan untuk bekerja dan sekitar 50% anak tidak enuresis lagi bahkan setelah terapi dihentikan.
Tabel 4. Rekomendasi penggunaan terapi alarm.
Gunakan sebagai terapi lini pertama sebelum meresepkan obat-obatan.
Lanjutkan terapi minimal 2-3 bulan.
Bangunkan anak dengan alarm setiap malam.
Dorong anak dan orang tua untuk ikut serta.
Karena anak-anak dengan cepat belajar untuk mematikan alarm dan kembali tidur, orang tua harus ikut terbangun setiap alarm berbunyi untuk memastikan anak tidak melakukannya.
Buat anak ke kamar mandi dan buang air kecil setiap alarm berbunyi.
Informasikan keluarga bahwa beberapa minggu pertama terapi adalah masa paling sulit, susun jadwal follow up lebih dini untuk mengawasi perkembangan dan mengatasi masalah lainnya.
Informasikan keluarga bahwa kegagalan anak untuk bangun atau orang tua untuk membangunkan anak adalah alasan paling sering terjadinya kegagalan terapi alarm.
Keterangan: rekomendasi didapatkan dari Glazener et al. Terapi ini efektif pada ? anak (4-55% relaps).
Terapi farmakologik terdiri atas desmopressin, antikolinergik, dan antidepressan trisiklik. Desmopressin dapat mengurangi poliuria nokturnal. Sediaannya yang dalam bentuk sprai nasal memiliki waktu paruh yang panjang sehingga perlu diwaspadai kemungkinan intoksikasi air dan hiponatremia. Formulasi oral lebih aman digunakan dengan waktu paruh yang pendek. Anak-anak memerlukan pembatasan cairan sebelum tidur ketika menggunakan obat ini. Obat ini tidak dapat menambah kapasitas kandung kemih.
Antikolinergik dapat menjaga stabilitas dan meningkatkan kapasitas kandung kemih. Penggunaan antikolinergik akan bermanfaat jika dikombinasikan dengan desmopressin. Anak-anak dengan pengobatan ini harus konsultasi ke dokter lebih rutin karena kemungkinan efek samping penggunaannya. Antidepressan trisiklik (contohnya, imipramin) hanya digunakan ketika terapi lain gagal. Perubahan afek dan gangguan tidur sering terjadi pada pasien enuresis. Antidepressan trisiklik juga dapat membawa risiko kematian akibat overdosis dan bekerja hanya pada 20% kasus.
Tabel 5. Rekomendasi penggunaan terapi farmakologik.
Karakteristik Desmopressin Agen antikolinergik Imipramin dan agen trisiklik lainnya
Evidence-based Ya Tidak Ya
Mekanisme Mengurangi poliuria nokturnal Meningkatkan kapasitas kandung kemih, menurunkan overaktifitas detrusor Tidak jelas
Pertimbangan Gunakan sebagai lini pertama terapi farmakologik, pertimbangkan untuk situasi tertentu (berkemah, dll) Gunakan sebagai lini kedua terapi farmakologik untuk anak-anak yang tidak berespon terhadap lini pertama, pertimbangkan untuk dikombinasi dengan desmopresin Gunakan hanya sebagai lini ketiga terapi farmakologik ketika semua pilihan terapi gagal
Efikasi Mengompol berhenti pada 3-48% subjek penelitian, bekerja sebagai pengontrol bukan penyembuh, dapat relaps setelah pengobatan berhenti Bekerja sebagai pengontrol bukan penyembuh, dapat relaps setelah pengobatan berhenti Mengompol berhenti pada 20% subjek penelitian, bekerja sebagai pengontrol bukan penyembuh, dapat relaps setelah pengobatan berhenti
Dosis Tablet: 200-600 µg 1 jam sebelum tidur; Formulasi cepat larut: 120-360 µg 30-60 menit sebelum tidur (pertimbangkan sediaan ini untuk anak yang sulit menelan tablet) Tablet atau sirup oksibutinin: 5 mg atau 0,1 mg/kg sebelum tidur; tablet tolterodine: 2 mg sebelum tidur Tablet: 25-50 mg sebelum tidur, tidak lebih dari 75 mg sebelum tidur
Efek samping Intoksikasi air disertai sakit kepala, mual, muntah, penurunan kesadaran, kejang; formulasi nasal-spray dengan label peringatan kotak hitam dibuat karena peningkatan risiko intoksikasi air, tidak direkomendasikan Konstipasi, mulut kering, mata kabur, muka memerah, intoleransi panas, perubahan afek, peningkatan residu urin Perubahan afek, mual, gangguan tidur, kardiotoksik dengan potensi kematian akibat overdosis, obat harus disimpan dengan baik, jauhkan dari jangkauan anak-anak
Interaksi obat NSAIDs dan antidepressan dapat menyebabkan tambahan retensi cairan
Desmopressin memang telah diterima sebagai terapi medikamentosa untuk terapi enuresis nokturnal primer yang monosimptomatik. Namun, beberapa pasien ditemukan tidak berespon terhadap terapi ini. Pada pasien ini, dapat diberikan alternatif kombinasi desmopressin dan terapi antikolinergik. Untuk menguji efikasi kombinasi ini, Austin et al melakukan penelitian mengenai hasil akhir atas kombinasi terapi ini. Setelah 1 bulan terapi, terdapat penurunan signifikan angka rata-rata terjadinya enuresis pada kelompok subjek yang mendapat kombinasi terapi dibandingkan plasebo. Dengan pendekatan rumus, diperkirakan adanya penurunan signifikan 66% risiko enuresis dibandingkan dengan plasebo.
Radmayr et al melakukan penelitian terhadap 36 penelitian acak atas 20 anak berusia antara 5 dan 16 tahun yang mendapat terapi akupunktur atau desmopressin saja dan melakukan evaluasi setelah 6 bulan terapi. Sekitar 75% dan 65% pasien tidak lagi mengalami enuresis. Tidak adanya perbedaan signifikan di antara kedua modalitas terapi pada penelitian ini menunjukkan bahwa akupunktur dapat menjadi alternatif terapi. Akupunktur diduga memicu perubahan homeostatik dengan menguatkan chi ginjal dan limpa serta meregulasi otak. Namun, peneliti tidak menyebutkan secara jelas bagaimana mekanisme yang rinci mengenai penguatan ginjal dan limpa serta regulasi otak ini. Sayangnya, penelitian yang mendukung efektifitas akupunktur pada pasien enuresis dilakukan dengan jumlah subjek penelitian yang sedikit dan desain penelitiannya tidak menggunakan kontrol sehingga sulit untuk menarik kesimpulan apakah akupunktur dapat direkomendasikan pada pasien enuresis.
Komplikasi dan prognosis
Pada enuresis primer, masalah psikologis hampir selalu menjadi akibat dari penyakit ini dan jarang sekali sebagai penyebabnya. Sebaliknya, masalah psikologis merupakan penyebab yang mungkin didapati pada enuresis sekunder. Komorbiditas masalah perilaku adalah 2-4 kali lebih tinggi pada anak dengan enuresis di semua penelitian epidemiologik. Dampak emosional enuresis pada anak dan keluarga juga dapat terjadi.
Anak-anak dengan enuresis lebih sering dihukum dan berisiko mengalami perlakuan kasar secara fisik dan emosional. Beberapa penelitian melaporkan adanya perasaan malu dan kecemasan pada anak-anak dengan enuresis, kehilangan kepercayaan diri dan berpengaruh terhadap persepsi diri, hubungan interpersonal, kualitas hidup, dan prestasi di sekolah. Dampak negatif yang signifikan pada kepercayaan diri dilaporkan bahkan pada anak dengan episode enuresis satu kali per bulan saja.5 Sebuah penelitian potong lintang (cross-sectional study) dilakukan terhadap 149 pasien berusia antara 6 dan 18 tahun yang didiagnosis enuresis nokturnal primer monosimptomatik. Delapan puluh sembilan persen (n=132) pasien mengalami kekerasan akibat mengompol. Semua kasus ditandai oleh adanya hukuman verbal (caci maki) yang berhubungan atau tidak berhubungan dengan tipe agresi. Hukuman fisik tanpa kontak terjadi pada 50,8% kasus sedangkan hukuman fisik yang disertai kontak terjadi pada 48,5% kasus. Pelaku utama kekerasan adalah ibunya sendiri (87,9%). Terdapat korelasi yang signifikan antara tingkat pendidikan pelaku dan beratnya hukuman.
Tingkat kesembuhan spontan untuk anak-anak yang tidak diobati adalah 15% per tahun. Ketika enuresis merupakan satu-satunya gejala yang dikeluhkan, terapi perilaku atau terapi alarm dapat bersifat kuratif untuk masalah ini. Desmopressin asetat dapat mengendalikan enuresis pada 55% anak. Ketika gejala ini juga terjadi pada siang hari, prognosisnya akan bergantung pada penyebab yang mendasarinya. Prognosisnya sempurna jika enuresis terjadi akibat sistitis, ureter ektopik, apneu obstruktif saat tidur, diabetes melitus, diabetes insipidus, penyakit dengan gejala kejang, blok jantung, atau hipertiroidisme. Enuresis akibat sistitis harus diatasi dengan terapi antibiotik yang tepat. Sedangkan ureter ektopik, apneu obstruktif saat tidur, dan blok jantung berespon terhadap intervensi bedah.
Tabel 6. Prevalensi kesulitan koordinasi motorik anak dengan enuresis.
Penilaian guru terhadap koordinasi anak Enuresis sebelum usia 7 tahun Enuresis pada usia 11 tahun Tidak ada masalah enuresis
Di usia 7 tahun: 1.035 anak 540 anak 10.084 anak
Kendali tangan buruk 6,4 % 10,2 % 3,5 %
Gaduh gelisah 9,8 % 15,4 % 5,6 %
Koordinasi buruk 4,4 % 5,2 % 2,0 %
Gemetaran 2,9 % 3,9 % 1,8 %
Di usia 11 tahun: 972 anak 509 anak 9.423 anak
Kendali tangan buruk 4,2 % 6,1 % 2,4 %
Gaduh gelisah 5,1 % 8,3 % 3,3 %
Koordinasi fisik buruk 4,0 % 4,6 % 2,2 %
Diabetes mellitus, diabetes insipidus, dan hipertiroidisme berespon terhadap intervensi medikamentosa yang spesifik. Enuresis akibat overactive bladder atau dysfunctional voiding biasanya dapat teratasi tetapi inkotinensia pada siang hari dapat berlanjut hingga masa pubertas dan dewasa pada sekitar 20% pasien. Prognosis enuresis akibat neurogenic bladder tergantung pada penyebab neurologik dan apakah pasien dapat menjalani pembedahan atau tidak. Enuresis di masa kecil berhubungan dengan timbulnya gejala sisa di usia dewasa, contohnya dalam hal fungsi sosial, pencapaian pendidikan, dan eksistensi diri secara psikologik. Sebuah penelitian menunjukkan penundaan perkembangan koordinasi motorik pada anak dengan riwayat enuresis di usia 7 dan 11 tahun.
Pencegahan
Alasan terpenting untuk mengobati anak dengan enuresis adalah untuk memperbaiki hilangnya kepercayaan diri dan masalah-masalah psikologik sekunder atau masalah-masalah perilaku yang berkembang akibat enuresis. Pencegahan enuresis hampir sama dengan terapi perilaku yang diberikan pada anak dengan diuresis. Anak harus dibiasakan untuk buang air kecil di toilet setiap pagi hari dan didorong agar tidak terbiasa menahan kencing. Kondisi-kondisi yang membuat anak tidak nyaman untuk menggunakan toilet sedapat mungkin dihindari. Karena konstipasi dapat menjadi faktor predisposisi enuresis, pencegahannya juga dapat mencegah terjadinya enuresis. Dengan demikian, anak juga harus dibiasakan untuk buang air besar setelah makan pagi, diet kaya serat, dan tidak terbiasa menahan buang air besar. Anak harus mengurangi minum setelah makan malam sehingga anak harus dibebaskan minum pada pagi dan awal siang hari.
Daftar Pustaka
http://imsj.globalkrching.com/enuresis/
Friday, June 4, 2010
Jenis dan Pengobatan Enuresis
Enuresis adalah nama medis untuk mengompol, atau sengaja buang air kecil pada anak-anak yang belum bisa mengontrol kandung kemih mereka. Anak perempuan biasanya lebih cepat bisa mengontrol kandung kemihnya dibanding anak laki-laki. Diagnosis enuresis diperlukan pada anak perempuan yang berusia di atas lima dan untuk anak laki-laki yang berusia di atas enam yang masih mengompol.
Beberapa jenis mengompol, antara lain:
enuresis diurnal--mengompol pada siang hari.
nokturnal enuresis--mengompol pada malam hari.
enuresis primer-- terjadi ketika anak tidak bisa kencing di toilet.
Pengobatan:
Pengobatan khusus untuk enuresis akan ditentukan oleh dokter berdasarkan:
- usia anak, kesehatan secara keseluruhan, dan sejarah medis
- kondisi anak sejauh mana kondisi
Daftar Pustaka
http://health.detik.com/read/2010/05/26/164557/1364632/770/enuresis
Beberapa jenis mengompol, antara lain:
enuresis diurnal--mengompol pada siang hari.
nokturnal enuresis--mengompol pada malam hari.
enuresis primer-- terjadi ketika anak tidak bisa kencing di toilet.
Pengobatan:
Pengobatan khusus untuk enuresis akan ditentukan oleh dokter berdasarkan:
- usia anak, kesehatan secara keseluruhan, dan sejarah medis
- kondisi anak sejauh mana kondisi
Daftar Pustaka
http://health.detik.com/read/2010/05/26/164557/1364632/770/enuresis
Enuresis, Masalah Mengompol pada Anak
Anak Anda selalu mengompol? Jangan dibiarkan, karena boleh jadi anak Anda menderita enuresis. Enuresis adalah proses berkemih normal tetapi terjadi pada tempat dan waktu yang tidak tepat, yaitu berkemih di tempat tidur. Jika terjadi saat tidur malam disebut enuresis nokturnal monosimtomatik, siang hari disebut enuresis diurnal, atau gabungan keduanya.
Hal ini dikemukakan Dr Taralan Tambunan SpA(K) dari Bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSUPN Cipto Mangunkusumo, dalam seminar "Masalah Mengompol", beberapa waktu lalu di Jakarta.
Menurut Dr Taralan, meski ada perbedaan definisi antara inkontinensia urin dengan enuresis, namun pada kenyataannya tidak mudah membedakan enuresis dengan inkontinensia urin karena tidak ada gejala spesifik yang membedakan keduanya secara jelas.
Tapi mengutip The American Psychiatric Association, Dr Taralan menyebutkan batasan enuresis, yaitu mengompol minimal dua kali dalam seminggu dalam periode paling sedikit tiga bulan, pada anak usia lima tahun atau lebih yang tidak disebabkan oleh efek obat-obatan. Khusus enuresis nokturnall monosomatik, diambil batasan mengompol sebanyak tiga kali atau lebih setiap bulan, atau sekali dalam seminggu.
"Enuresis sendiri terbagi menjadi enuresis primer, yaitu enuresis yang terjadi pada anak yang belum pernah berhenti mengompol selama masa hidupnya. Sedangkan enuresis sekunder, dipakai pada anak usia lebih dari lima tahun yang sebelumnya telah pernah bebas masa mengompol minimal selama periode 12 bulan", papar Dr Taralan.
Adapula enuresis nokturnal intermitten, yaitu mereka yang telah bebas mengompol dalam periode waktu yang cukup lama, tetapi sesekali mengompol dalam satu atau dua malam. "Hal ini terjadi pada hampir 80 persen anak-anak," imbuhnya.
Penyebab enuresis anak sendiri, tutur Dr Taralan, sangat beragam. Yaitu;
• Peningkatan ekskresi sodium pada kasus-kasus enuresis nokturnal, sebagai akibat berkurangnya reabsorbsi ion pada pars asendens Anza Henle yang menyebabkan peningkatan diuresis dan ekskresi zat terlarut.
• Peningkatan up take kalsium dan kalsiuria yang ditemukan pada sebagian kecil kasus enuresis nokturnal.
• Sumbatan saluran napas atau pada sleep apnea syndrome.
• Terjadinya peningkatan masukan air (minum terlalu banyak) sebelum tidur.
• Faktor heraditer. Jika ditemukan riwayat enuresis pada salah satu orangtua, maka risiko kemungkinan timbulnya enuresis pada anak sekitar 44 persen.
• Tidur terlalu dalam dan sulit bangun.
• Ritme harian kadar Arginin vasopressin (AVP) plasma.
Daftar Pustaka
http://cybermed.cbn.net.id/cbprtl/Cybermed/detail.aspx?x=Health+News&y=Cybermed|0|0|5|184
Hal ini dikemukakan Dr Taralan Tambunan SpA(K) dari Bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSUPN Cipto Mangunkusumo, dalam seminar "Masalah Mengompol", beberapa waktu lalu di Jakarta.
Menurut Dr Taralan, meski ada perbedaan definisi antara inkontinensia urin dengan enuresis, namun pada kenyataannya tidak mudah membedakan enuresis dengan inkontinensia urin karena tidak ada gejala spesifik yang membedakan keduanya secara jelas.
Tapi mengutip The American Psychiatric Association, Dr Taralan menyebutkan batasan enuresis, yaitu mengompol minimal dua kali dalam seminggu dalam periode paling sedikit tiga bulan, pada anak usia lima tahun atau lebih yang tidak disebabkan oleh efek obat-obatan. Khusus enuresis nokturnall monosomatik, diambil batasan mengompol sebanyak tiga kali atau lebih setiap bulan, atau sekali dalam seminggu.
"Enuresis sendiri terbagi menjadi enuresis primer, yaitu enuresis yang terjadi pada anak yang belum pernah berhenti mengompol selama masa hidupnya. Sedangkan enuresis sekunder, dipakai pada anak usia lebih dari lima tahun yang sebelumnya telah pernah bebas masa mengompol minimal selama periode 12 bulan", papar Dr Taralan.
Adapula enuresis nokturnal intermitten, yaitu mereka yang telah bebas mengompol dalam periode waktu yang cukup lama, tetapi sesekali mengompol dalam satu atau dua malam. "Hal ini terjadi pada hampir 80 persen anak-anak," imbuhnya.
Penyebab enuresis anak sendiri, tutur Dr Taralan, sangat beragam. Yaitu;
• Peningkatan ekskresi sodium pada kasus-kasus enuresis nokturnal, sebagai akibat berkurangnya reabsorbsi ion pada pars asendens Anza Henle yang menyebabkan peningkatan diuresis dan ekskresi zat terlarut.
• Peningkatan up take kalsium dan kalsiuria yang ditemukan pada sebagian kecil kasus enuresis nokturnal.
• Sumbatan saluran napas atau pada sleep apnea syndrome.
• Terjadinya peningkatan masukan air (minum terlalu banyak) sebelum tidur.
• Faktor heraditer. Jika ditemukan riwayat enuresis pada salah satu orangtua, maka risiko kemungkinan timbulnya enuresis pada anak sekitar 44 persen.
• Tidur terlalu dalam dan sulit bangun.
• Ritme harian kadar Arginin vasopressin (AVP) plasma.
Daftar Pustaka
http://cybermed.cbn.net.id/cbprtl/Cybermed/detail.aspx?x=Health+News&y=Cybermed|0|0|5|184
Penyebab Enuresis
• Faktor Keturunan.
Dari hasil penelitian. 77% anak enuresis, bila kedua orang tuanya enuresis. 44% anak enuresis, bila salah satu orang tuanya enuresis dan 15 %. anak enuresis, bila kedua orang tua sama sekali tidak enuresis.
• Keterlambatan matangnya fungsi susunan syaraf pusat (SSP).
Pada anak normal, ketika kandung kemih sudah penuh oleh urine, system syaraf di kandung kemihnya akan melapor kepada otak. Kemudian otak akan mengirim pesan balik ke kandung kemih, otak akan meminta kandung kemih untuk menahan pengeluaran urine, sampai si anak sudah siap di toilet. Tetapi ada anak dengan keterlambatan matangnya SSP, proses ini tidak terjadi. Sehingga saat kandung kemihnya penuh, anak tidak dapat menahan keluarnya urine tersebut.
• Kurangnya kadar antidiuretic hormone (ADH) dalam tubuh.
Hormon ini akan menyebabkan tubuh seseorang memproduksi sedikit urine pada malam hari. Tetapi pada anak enuresis, tubuhnya tidak bisa membuat ADH dalam jumlah yang mencukupi. Sehingga ketika sedang tidur, tubuhnya menghasilkan banyak urine. Karna hal itulah ia menjadi mengompol.
• Keterlambatan perkembangan.
Disebabkan oleh kurangnya latihan pola buang air yang baik (toilet training).
• Faktor psikologis.
Faktor stress selama usia 2-4 tahun. Biasanya berupa : pemisahan dari keluarga, kematian orang tua, kelahiran saudara kandung (adik), pindah rumah, dan pertengkaran. Enuresis karena stress, bersifat kambuhan dan sementara.
• Kondisi fisik terganggu.
Neurogenic bladder dan kelainan medula spinalis lain yang terkait, infeksi saluran kemih, adanya katup uretra posterior pada laki-laki atau ureter ektopik pada perempuan, diabetes, sembelit dan alergi.
Daftar Pustaka
http://ratnaabas.multiply.com/journal/item/11/New_Pants
http://imsj.globalkrching.com/enuresis/
Dari hasil penelitian. 77% anak enuresis, bila kedua orang tuanya enuresis. 44% anak enuresis, bila salah satu orang tuanya enuresis dan 15 %. anak enuresis, bila kedua orang tua sama sekali tidak enuresis.
• Keterlambatan matangnya fungsi susunan syaraf pusat (SSP).
Pada anak normal, ketika kandung kemih sudah penuh oleh urine, system syaraf di kandung kemihnya akan melapor kepada otak. Kemudian otak akan mengirim pesan balik ke kandung kemih, otak akan meminta kandung kemih untuk menahan pengeluaran urine, sampai si anak sudah siap di toilet. Tetapi ada anak dengan keterlambatan matangnya SSP, proses ini tidak terjadi. Sehingga saat kandung kemihnya penuh, anak tidak dapat menahan keluarnya urine tersebut.
• Kurangnya kadar antidiuretic hormone (ADH) dalam tubuh.
Hormon ini akan menyebabkan tubuh seseorang memproduksi sedikit urine pada malam hari. Tetapi pada anak enuresis, tubuhnya tidak bisa membuat ADH dalam jumlah yang mencukupi. Sehingga ketika sedang tidur, tubuhnya menghasilkan banyak urine. Karna hal itulah ia menjadi mengompol.
• Keterlambatan perkembangan.
Disebabkan oleh kurangnya latihan pola buang air yang baik (toilet training).
• Faktor psikologis.
Faktor stress selama usia 2-4 tahun. Biasanya berupa : pemisahan dari keluarga, kematian orang tua, kelahiran saudara kandung (adik), pindah rumah, dan pertengkaran. Enuresis karena stress, bersifat kambuhan dan sementara.
• Kondisi fisik terganggu.
Neurogenic bladder dan kelainan medula spinalis lain yang terkait, infeksi saluran kemih, adanya katup uretra posterior pada laki-laki atau ureter ektopik pada perempuan, diabetes, sembelit dan alergi.
Daftar Pustaka
http://ratnaabas.multiply.com/journal/item/11/New_Pants
http://imsj.globalkrching.com/enuresis/
Enuresis Nokturnal
Enuresis nokturnal (bed-wetting) adalah buang air kecil secara tidak sengaja dan terjadi secara berulang ketika sedang tidur, pada seorang anak yang sudah cukup besar dan semestinya sudah tidak mengompol lagi di tempat tidur.
Sekitar 30% anak berumur 4 tahun, 10% anak berumur 6 tahun, 3% anak berumur 12 tahun dan 1% anak berumur 18 tahun masih mengompol di tempat tidur.
Bed-wetting lebih sering ditemukan pada anak laki-laki.
Penyebabnya biasanya adalah terlambatnya proses pendewasaan, yang kadang disertai dengan gangguan tidur (misanya tidur sambil berjalan atau teror malam).
1-2% kasus disebabkan oleh kelainan fisik (biasanya berupa infeksi saluran kemih).
Bed-wetting juga kadang disebabkan oleh masalah psikis.
Kadang bed-wetting berhenti kemudian timbul lagi. Kekambuhan ini biasanya terjadi karena anak mengalami peristiwa yang menegangkan atau karena anak menderita kelainan fisik (misalnya infeksi saluran kemih).
Untuk anak yang berumur kurang dari 6 tahun, biasanya tidak perlu dilakukan pengobatan, hanya menunggu sampai gejalanya hilang dengan sendirinya.
Setiap tahunnya, pada 15% anak yang berumur lebih dari 6 tahun, bed-wetting akan berhenti dengan sendirinya. Jika hal ini tidak terjadi, bisa dicoba salah satu dari 3 jenis pengobatan berikut: (melindungi) serta menghindari perpisahan maupun lingkungan yang baru. Respon seperti ini bisa menyebabkan terjadinya gangguan pada pematangan/pendewasaan dan perkembangan anak.
1. Konsultasi dan terapi perilaku.
Konsultasi melibatkan anak dan orang tua; diberikan penjelasan bahwa bed-wetting memang agak sering terjadi, dapat diperbaiki dan tidak perlu menimbulkan rasa bersalah pada siapapun. Terapi perilaku untuk anak:
- Menandai pada penanggalan/kalender malam-malam dimana dia mengompol maupun tidak
- Menahan diri untuk tidak minum 2-3 jam sebelum tidur
- Melakukan buang air kecil sebelum tidur
- Mengganti pakaian dan seprenya sendiri jika mengompol.
Terapi perilaku untuk orang tua:
- Tidak menghukum atau memarahi anak karena mengompol
- Memberikan pujian/hadiah jika anak tidak mengompol (misalnya memberikan tanda bintang pada kalender atau hadiah lainnya, tergantung kepada usia anak).
2. Alarm ngompol.
Merupakan metode pengobatan yang paling efektif, mampu menyembuhkan 70% anak yang mengompol dan hanya 10-15% yang mengompol kembali setelah metode ini dihentikan.
Metode ini tidak mahal dan mudah diterapkan meskipun cara kerjanya lambat.
Alarm akan berbunyi jika telah keluar beberapa tetes air kemih. Pada beberapa minggu pertama, anak akan terbangun setelah ngompol. Beberapa minggu berikutnya anak terbangun setelah sedikit mengeluarkan air kemihnya dan tempat tidurnya belum terlalu basah. Lama-lama anak akan terbangun karena ingin buang air kecil dan tempat tidurnya masih kering. Alam ini boleh dilepas setelah 3 minggu anak tidak mengompol.
3. Terapi obat.
Pemberian obat pada saat ini lebih jarang dilakukan karena alarm ngompol lebih efektif dan obat-obatan mungkin akan menimbulkan efek samping.
Jika pengobatan lainnya gagal dan orang tua sangat menginginkan pemberian obat, biasanya diberikan imipramin.
Imipramin adalah obat anti-depresi yang mengendurkan kandung kemih dan memperkuat sfingter yang menghambat aliran air kemih. Keuntungan dari pemberian obat adalah cara kerjanya yang cepat.
Setelah selama 1 bulan anak tidak mengompol, dosisnya diturunkan dan diberikan selama 2-4 minggu, kemudian pemberian obat dihentikan.
Sekitar 75% anak akan ngompol kembali setelah obat dihentikan. Jika hal ini terjadi, bisa dicoba diberikan obat selama 3 bulan.
Contoh darah diperiksa setiap 2-4 minggu untuk memastikan bahwa jumlah sel darah putih tidak berkurang (karena salah satu efek samping dari obat ini adalah penurunan jumlah sel darah putih).
Pilihan lainnya dalah obat semprot hidung desmopressin, yang mengurangi pengeluaran air kemih. Efek sampingnya sedikit tetapi harganya mahal.
Daftar Pustaka
http://www.tanyadokter.com/disease.asp?id=1001387
Sekitar 30% anak berumur 4 tahun, 10% anak berumur 6 tahun, 3% anak berumur 12 tahun dan 1% anak berumur 18 tahun masih mengompol di tempat tidur.
Bed-wetting lebih sering ditemukan pada anak laki-laki.
Penyebabnya biasanya adalah terlambatnya proses pendewasaan, yang kadang disertai dengan gangguan tidur (misanya tidur sambil berjalan atau teror malam).
1-2% kasus disebabkan oleh kelainan fisik (biasanya berupa infeksi saluran kemih).
Bed-wetting juga kadang disebabkan oleh masalah psikis.
Kadang bed-wetting berhenti kemudian timbul lagi. Kekambuhan ini biasanya terjadi karena anak mengalami peristiwa yang menegangkan atau karena anak menderita kelainan fisik (misalnya infeksi saluran kemih).
Untuk anak yang berumur kurang dari 6 tahun, biasanya tidak perlu dilakukan pengobatan, hanya menunggu sampai gejalanya hilang dengan sendirinya.
Setiap tahunnya, pada 15% anak yang berumur lebih dari 6 tahun, bed-wetting akan berhenti dengan sendirinya. Jika hal ini tidak terjadi, bisa dicoba salah satu dari 3 jenis pengobatan berikut: (melindungi) serta menghindari perpisahan maupun lingkungan yang baru. Respon seperti ini bisa menyebabkan terjadinya gangguan pada pematangan/pendewasaan dan perkembangan anak.
1. Konsultasi dan terapi perilaku.
Konsultasi melibatkan anak dan orang tua; diberikan penjelasan bahwa bed-wetting memang agak sering terjadi, dapat diperbaiki dan tidak perlu menimbulkan rasa bersalah pada siapapun. Terapi perilaku untuk anak:
- Menandai pada penanggalan/kalender malam-malam dimana dia mengompol maupun tidak
- Menahan diri untuk tidak minum 2-3 jam sebelum tidur
- Melakukan buang air kecil sebelum tidur
- Mengganti pakaian dan seprenya sendiri jika mengompol.
Terapi perilaku untuk orang tua:
- Tidak menghukum atau memarahi anak karena mengompol
- Memberikan pujian/hadiah jika anak tidak mengompol (misalnya memberikan tanda bintang pada kalender atau hadiah lainnya, tergantung kepada usia anak).
2. Alarm ngompol.
Merupakan metode pengobatan yang paling efektif, mampu menyembuhkan 70% anak yang mengompol dan hanya 10-15% yang mengompol kembali setelah metode ini dihentikan.
Metode ini tidak mahal dan mudah diterapkan meskipun cara kerjanya lambat.
Alarm akan berbunyi jika telah keluar beberapa tetes air kemih. Pada beberapa minggu pertama, anak akan terbangun setelah ngompol. Beberapa minggu berikutnya anak terbangun setelah sedikit mengeluarkan air kemihnya dan tempat tidurnya belum terlalu basah. Lama-lama anak akan terbangun karena ingin buang air kecil dan tempat tidurnya masih kering. Alam ini boleh dilepas setelah 3 minggu anak tidak mengompol.
3. Terapi obat.
Pemberian obat pada saat ini lebih jarang dilakukan karena alarm ngompol lebih efektif dan obat-obatan mungkin akan menimbulkan efek samping.
Jika pengobatan lainnya gagal dan orang tua sangat menginginkan pemberian obat, biasanya diberikan imipramin.
Imipramin adalah obat anti-depresi yang mengendurkan kandung kemih dan memperkuat sfingter yang menghambat aliran air kemih. Keuntungan dari pemberian obat adalah cara kerjanya yang cepat.
Setelah selama 1 bulan anak tidak mengompol, dosisnya diturunkan dan diberikan selama 2-4 minggu, kemudian pemberian obat dihentikan.
Sekitar 75% anak akan ngompol kembali setelah obat dihentikan. Jika hal ini terjadi, bisa dicoba diberikan obat selama 3 bulan.
Contoh darah diperiksa setiap 2-4 minggu untuk memastikan bahwa jumlah sel darah putih tidak berkurang (karena salah satu efek samping dari obat ini adalah penurunan jumlah sel darah putih).
Pilihan lainnya dalah obat semprot hidung desmopressin, yang mengurangi pengeluaran air kemih. Efek sampingnya sedikit tetapi harganya mahal.
Daftar Pustaka
http://www.tanyadokter.com/disease.asp?id=1001387
Treatment Enuresis
Enuresis ini dapat diatasi tanpa obat dan dengan obat untuk anak berusia diatas 7 tahun yang tidak berhasil diatasi tanpa obat. Prinsip pengobatan yaitu membuat kandung kencing dapat menahan lebih banyak kencing dan membantu ginjal untuk mengurangi produksi kencing. Pengobatan dengan obat-obatan tentulah memiliki efek samping.
•Obat-obat yang dipakai yaitu, dessmopressin merupakan sintetik analog arginin vasopresin, bekerja mengurangi produksi air kencing dimalam hari dan mengurangi tekanan dalam kandung kencing (intravesikular). Efek samping yang sering adalah iritasi hidung bila obat diberikan melalui semprotan hidung dan sakit kepala bahkan menjadi agresif dan mimpi buruk, tapi hilang dengan pemberhentian obat. Dessmopresin diberikan sebelum tidur.
Obat lain yang dapat yaituimip ramin yang bersifat antikolinergik tapi mekanismenya belum dimengerti. Ada teori yang mengatakan obat ini menurunkan kontraktilitas kandung kencing sehingga kemampuan pengisian kandung kencing dan kapasitanya diperbesar. Imipramin mempunyai efek yang buruk terhadap jantung.
•Cara mengatasi tanpa obat :
- terapi motivasi (motivational therapy)
dengan memberikan hadiah pada anak bila tidak ngompol, hal ini dilihat dari catatan harian ngompol anak, bila dalam 3-6 bulan tidak berhasil maka dicari cara lain.
- terapi alarm (behaviour modification)
alarm diletakkan dekat alat kelamin anak, bila anak mulai ngompol maka alarm berbunyi sehingga anak terbangun dan menahan kencingnya dan selanjutnya orang tua membantu anak meneruskan buang air kecil di toilet. Cara ini dapat dikombinasikan dengan terapi motivasi. Perubahan positif akan terlihat sekitar 2 minggu atau beberapa bulan. Cara ini memiliki keberhasilan 50 % hingga 70%
- latihan menahan keluarnya air kencing (bledder training exercise) cara ini dilakukan pada anak yang memiliki kandung kencing yang kecil
-terapi kejiwaan(physioterapy), terapi diet, terapi hipnotis(hypnotherapy) belum banyak dilakukan pada penanganan enuresis primer. Terapi diet yaitu membatasi makanan yang memiliki efek terhadap episode enuresis seperti yang mengandung coklat, soda, kafein. Mengatasi anak ngompol bukanlah suatu hal yang mudah. Hal ini diperlukan kerja sama antara orang tua, anak bahkan dokter. Sebagai orang tua kita harus menyingkapi masalah ini dengan penuh kesabaran dan pengertian kepada anak dengan tidak memojokkan atau mengolok-oloknya. Anak justru harus diberi motivasi dan kasih sayang agar terbentuk kepercayaan diri sehingga mereka dapat mengatasi masalah ngompol pada dirinya. Karena ngompol yang berlarut-larut akan mengganggu kehidupan sosial
dan psikologis yang akan menghambat pertumbuhan dan perkembangan anak itu sendiri.
Daftar Pustaka
http://www.scribd.com/doc/23231365/Enuresis-Adalah-Keadaan-Tidak-Dapat-Menahan-Keluarnya-Air-Kencing-Yang
•Obat-obat yang dipakai yaitu, dessmopressin merupakan sintetik analog arginin vasopresin, bekerja mengurangi produksi air kencing dimalam hari dan mengurangi tekanan dalam kandung kencing (intravesikular). Efek samping yang sering adalah iritasi hidung bila obat diberikan melalui semprotan hidung dan sakit kepala bahkan menjadi agresif dan mimpi buruk, tapi hilang dengan pemberhentian obat. Dessmopresin diberikan sebelum tidur.
Obat lain yang dapat yaituimip ramin yang bersifat antikolinergik tapi mekanismenya belum dimengerti. Ada teori yang mengatakan obat ini menurunkan kontraktilitas kandung kencing sehingga kemampuan pengisian kandung kencing dan kapasitanya diperbesar. Imipramin mempunyai efek yang buruk terhadap jantung.
•Cara mengatasi tanpa obat :
- terapi motivasi (motivational therapy)
dengan memberikan hadiah pada anak bila tidak ngompol, hal ini dilihat dari catatan harian ngompol anak, bila dalam 3-6 bulan tidak berhasil maka dicari cara lain.
- terapi alarm (behaviour modification)
alarm diletakkan dekat alat kelamin anak, bila anak mulai ngompol maka alarm berbunyi sehingga anak terbangun dan menahan kencingnya dan selanjutnya orang tua membantu anak meneruskan buang air kecil di toilet. Cara ini dapat dikombinasikan dengan terapi motivasi. Perubahan positif akan terlihat sekitar 2 minggu atau beberapa bulan. Cara ini memiliki keberhasilan 50 % hingga 70%
- latihan menahan keluarnya air kencing (bledder training exercise) cara ini dilakukan pada anak yang memiliki kandung kencing yang kecil
-terapi kejiwaan(physioterapy), terapi diet, terapi hipnotis(hypnotherapy) belum banyak dilakukan pada penanganan enuresis primer. Terapi diet yaitu membatasi makanan yang memiliki efek terhadap episode enuresis seperti yang mengandung coklat, soda, kafein. Mengatasi anak ngompol bukanlah suatu hal yang mudah. Hal ini diperlukan kerja sama antara orang tua, anak bahkan dokter. Sebagai orang tua kita harus menyingkapi masalah ini dengan penuh kesabaran dan pengertian kepada anak dengan tidak memojokkan atau mengolok-oloknya. Anak justru harus diberi motivasi dan kasih sayang agar terbentuk kepercayaan diri sehingga mereka dapat mengatasi masalah ngompol pada dirinya. Karena ngompol yang berlarut-larut akan mengganggu kehidupan sosial
dan psikologis yang akan menghambat pertumbuhan dan perkembangan anak itu sendiri.
Daftar Pustaka
http://www.scribd.com/doc/23231365/Enuresis-Adalah-Keadaan-Tidak-Dapat-Menahan-Keluarnya-Air-Kencing-Yang
Anak Jadi Agresif Sejak Punya Adik
KEPONAKAN saya R bulan ini usianya genap 5 tahun. Ia anak laki-laki yang cukup cerdas, aktif, dan bicaranya lancar. R adalah anak pertama dari pasangan suami istri, ayah bekerja sebagai PNS sedangkan istri swasta. Ia lahir cukup bulan dan normal tidak kurang sesuatu apa.
Terakhir kami bertemu dengan tampak cemas, gelisah, dan tegang. Menurut orang tuanya, ia menjadi lebih aktif dan agresif sejak 8 bulan yang lalu, yaitu setelah kelahiran adiknya. Bila dalam keadaan marah sekali R dapat mendorong, memukul, bahkan menggigit adiknya.Kedua orang tua R kehabisan kata-kata menghadapinya, terlebih sejak 4 bulan yang lalu R menjadi sulit makan, sulit untuk tidur dan sejak 2 bulan terakhir mulai mengompol dan buang air besar di celana.
Kedua orang tua merasa sangat khawatir terhadap perkembangan anaknya. Mereka kemudian membawa R berobat ke puskesmas dan dokter. Akan tetapi, sampai saat ini keadaan R belum banyak berubah. Mohon pengasuh dapat memberikan penjelasan mengenai apa yang terjadi pada R dan mencarikan jalan keluarnya.
Terima kasih.
Din di Bandung
KEMAMPUAN menata emosi dan kesadaran sebagai makhluk ciptaan Tuhan adalah hasil dari proses yang dijalani selama masa perkembangan. Cara merawat, mengasuh, dan mendidik anak diyakini sangatbesar pengaruhnya terhadap pembentukan kepribadian anak, kelak sebagai orang dewasa. Artinya, banyak kesempatan yang dapat dimanfaatkan untuk melakukan intervensi dari mana pun anak berasal agar dia menjadi pribadi yang sehat jasmani dan rohani, mampu menyesuaikan diri, dan selalu dapat menyikapi dan menyiasati semua perubahan kondisi dan situasi secara positif. Di antara cerminan adanya kemampuan menata emosi adalah cara seseorang mengemukakan pendapat dan mengekspresikan perasaannya. Apakah ia dapat menyatakannya secara sehat, yang artinya tidak menimbulkan kesulitan pada dirinya sendiri, orang lain dan lingkungan pada umumnya? Ataukah pernyataan pendapat dan ekspresi perasaan itu menimbulkan luka mental dan fisik pada orang lain.
Gangguan emosional anak Tuan Din, gangguan mental emosional bisa juga dialami oleh anak -anak. Perkembangan anak tidak selalu berjalan normal. Ada anak yang mengalami kesulitan dalam berperilaku, yang dikeluhkan orang tua sebagai perkembangan yang terlambat, ketidakmampuan menyesuaikan diri, tidak bisa diam, sulit konsentrasi, agresif dan sebagainya. Dari berbagai media pemberitaan kita sering melihat kasus gangguan mental emosional yang juga menyangkut anak-anak usia di bawah 10 tahun. Bahkan, yang lebih memprihatinkan masih ada anak yang mendapat perlakuan yang tidak senonoh di usia yang sa-ngat muda seperti perkosaan, penelantaran, tindak kekerasan yang tentunya berdampak negatif terhadap perkembangan jiwa anak.
"Sibling rivairry"
Dari informasi di atas, tampaknya R mengalami masalah mental emosional yang berkaitan dengan persaingan dan iri antara saudara, depresi pada anak, enkopresis (buang air besar di celana) dan enuresis (ngom-pol). Masalah persaingan dan iri antara saudara merupakan kejadian yang biasa dijumpai. Sebagian besar anak usia dini memperlihatkan masalah emosional dengan kelahiran adiknya. Gangguan yang timbul biasanya bersilat ringan meskipun rasa persaingan atau iri hati yang timbul dapat berlangsung cukup lama. Rasa persaingan atau iri hati merupakan upaya bersaing antarsaudara untuk merebut perhatian atau cinta orang tuanya.
Dalam kasus yang berat, dapat disertai oleh rasa permusuhan yang terbuka terutama trauma fisik, atau upaya menyakiti saudaranya. Dalam kasus yang ringan dapat terlihat dalam bentuk keengganan untuk berbagi dan tidak menunjukkan sikap yang ramah. Seorang anak tidak mudah mengerti dan mengutarakan perasaannya. Sering kali perasaan iri atau persaingan antarsaudara dapat dideteksi dari perilaku anak. Gangguan emosional pada anak dapat berbentuk macam-macam regresi (kemunduran ke tahap yang lebih dini) dengan hilangnya berbagai keterampilan yang telah dimilikinya, sepertipengendalian buang air besar dan buang air kecil dan cenderung berperilaku seperti bayi. Dapat pula anak menunjukkan perilaku menentang terhadap orang tua, mengamuk atau temper tantrum, cemas, atau kecewa, dan penarikan diri secara sosial. Adanya gangguan akibat persaingan antarsaudara (.sibling rivalry) ditegakkan bilaa.Ditemukan adanya rasa persaingan dan atau iri hati terhadap saudara.b.Awitan selama beberapa bulan setelah kelahiran adik (terutama adik langsung).c.Gangguan emosional melampaui taraf normal dan atau berkelanjutan dan berhubungan dengan masalah psikososial.
Enkopresis adalah gangguan yang tidak mampu menahan buang air besar bila terjadi setelah periode pengendalian fekal yang lama (usia anak telah lebih dari 3 tahun) kadang-kadang merupakan regresi setelah stres tertentu seperti perpisahan dengan orang tua, pindah rumah atau kelahiran adik. Sedang enuresis adalah gangguan kencing berulang-ulang sehingga pakaian dan tempat tidur anak basah. Biasanya terjadi pada anak yang usianya sekurang-kurangnya 5 tahun.
Selain itu yang perlu dipertimbangkan adanya depresi pada anak. Depresi pada anak sering didasari oleh suatu kehilangan objek cinta, yang bermakna bagi anak. Kehilangan dapat merupakan suatu kejadian yang nyata, atau dapat pula hanya terjadi dalam imajinasi anak (keha-diran adik, kakak "kehilangan" cinta dan perhatian ibu) Gangguan depresi pada anak kadang-kadang sulit teridentifikasi karena anak sulit mengutarakan perasaannya. Pernyataan perasaan sering berupa penyimpangan perilaku dalam bentuk cepat marah, temper tantrum, menolak makan dan keluhan fisik yang samar-samar (tanpa kelainan organ) seperti sakit perut, muntah-muntah, dan sakit kepala. Pada anak usia kurang dari 5 tahun memperlihatkan gejala depresi yang terselubung seperti agresif dan hiperaktif.
Mengatasi
Upaya yang dapat dilakukan terhadap R antara lain konseling pada kedua orang tua. Persaingan antarsaudara merupakan hal yang umum terjadi dalam perkembangan anak. Bila terdapat faktor yang lebih kompleks seperti sampai terjadi disharmoni keluarga, merupakan trauma psikis yang berkepanjangan. Usaha berbagai cara untuk mengatasi persaingan atau rasa iri hati antarsaudara dengan cara lebih mendekatkan rasa persaudaraan adik-kakak dan mempersiapkan perasaan kakak dalam menerima kelahiran adiknya serta melibatkan kakak dalam mengasuh adik. Bila upaya yang dilakukan masih belum dapat mengatasi masalah anak, segera bawa ke fasilitas pelayanan psikiatn terdekat untuk menjalani pemeriksaan dan pengobatan seperti psikoterapi dan terapi keluarga. Perawatan di rumah sakit harus dipertimbangkan jika keadaan anak memburuk.
Sumber:
http://bataviase.co.id/node/184364
Terakhir kami bertemu dengan tampak cemas, gelisah, dan tegang. Menurut orang tuanya, ia menjadi lebih aktif dan agresif sejak 8 bulan yang lalu, yaitu setelah kelahiran adiknya. Bila dalam keadaan marah sekali R dapat mendorong, memukul, bahkan menggigit adiknya.Kedua orang tua R kehabisan kata-kata menghadapinya, terlebih sejak 4 bulan yang lalu R menjadi sulit makan, sulit untuk tidur dan sejak 2 bulan terakhir mulai mengompol dan buang air besar di celana.
Kedua orang tua merasa sangat khawatir terhadap perkembangan anaknya. Mereka kemudian membawa R berobat ke puskesmas dan dokter. Akan tetapi, sampai saat ini keadaan R belum banyak berubah. Mohon pengasuh dapat memberikan penjelasan mengenai apa yang terjadi pada R dan mencarikan jalan keluarnya.
Terima kasih.
Din di Bandung
KEMAMPUAN menata emosi dan kesadaran sebagai makhluk ciptaan Tuhan adalah hasil dari proses yang dijalani selama masa perkembangan. Cara merawat, mengasuh, dan mendidik anak diyakini sangatbesar pengaruhnya terhadap pembentukan kepribadian anak, kelak sebagai orang dewasa. Artinya, banyak kesempatan yang dapat dimanfaatkan untuk melakukan intervensi dari mana pun anak berasal agar dia menjadi pribadi yang sehat jasmani dan rohani, mampu menyesuaikan diri, dan selalu dapat menyikapi dan menyiasati semua perubahan kondisi dan situasi secara positif. Di antara cerminan adanya kemampuan menata emosi adalah cara seseorang mengemukakan pendapat dan mengekspresikan perasaannya. Apakah ia dapat menyatakannya secara sehat, yang artinya tidak menimbulkan kesulitan pada dirinya sendiri, orang lain dan lingkungan pada umumnya? Ataukah pernyataan pendapat dan ekspresi perasaan itu menimbulkan luka mental dan fisik pada orang lain.
Gangguan emosional anak Tuan Din, gangguan mental emosional bisa juga dialami oleh anak -anak. Perkembangan anak tidak selalu berjalan normal. Ada anak yang mengalami kesulitan dalam berperilaku, yang dikeluhkan orang tua sebagai perkembangan yang terlambat, ketidakmampuan menyesuaikan diri, tidak bisa diam, sulit konsentrasi, agresif dan sebagainya. Dari berbagai media pemberitaan kita sering melihat kasus gangguan mental emosional yang juga menyangkut anak-anak usia di bawah 10 tahun. Bahkan, yang lebih memprihatinkan masih ada anak yang mendapat perlakuan yang tidak senonoh di usia yang sa-ngat muda seperti perkosaan, penelantaran, tindak kekerasan yang tentunya berdampak negatif terhadap perkembangan jiwa anak.
"Sibling rivairry"
Dari informasi di atas, tampaknya R mengalami masalah mental emosional yang berkaitan dengan persaingan dan iri antara saudara, depresi pada anak, enkopresis (buang air besar di celana) dan enuresis (ngom-pol). Masalah persaingan dan iri antara saudara merupakan kejadian yang biasa dijumpai. Sebagian besar anak usia dini memperlihatkan masalah emosional dengan kelahiran adiknya. Gangguan yang timbul biasanya bersilat ringan meskipun rasa persaingan atau iri hati yang timbul dapat berlangsung cukup lama. Rasa persaingan atau iri hati merupakan upaya bersaing antarsaudara untuk merebut perhatian atau cinta orang tuanya.
Dalam kasus yang berat, dapat disertai oleh rasa permusuhan yang terbuka terutama trauma fisik, atau upaya menyakiti saudaranya. Dalam kasus yang ringan dapat terlihat dalam bentuk keengganan untuk berbagi dan tidak menunjukkan sikap yang ramah. Seorang anak tidak mudah mengerti dan mengutarakan perasaannya. Sering kali perasaan iri atau persaingan antarsaudara dapat dideteksi dari perilaku anak. Gangguan emosional pada anak dapat berbentuk macam-macam regresi (kemunduran ke tahap yang lebih dini) dengan hilangnya berbagai keterampilan yang telah dimilikinya, sepertipengendalian buang air besar dan buang air kecil dan cenderung berperilaku seperti bayi. Dapat pula anak menunjukkan perilaku menentang terhadap orang tua, mengamuk atau temper tantrum, cemas, atau kecewa, dan penarikan diri secara sosial. Adanya gangguan akibat persaingan antarsaudara (.sibling rivalry) ditegakkan bilaa.Ditemukan adanya rasa persaingan dan atau iri hati terhadap saudara.b.Awitan selama beberapa bulan setelah kelahiran adik (terutama adik langsung).c.Gangguan emosional melampaui taraf normal dan atau berkelanjutan dan berhubungan dengan masalah psikososial.
Enkopresis adalah gangguan yang tidak mampu menahan buang air besar bila terjadi setelah periode pengendalian fekal yang lama (usia anak telah lebih dari 3 tahun) kadang-kadang merupakan regresi setelah stres tertentu seperti perpisahan dengan orang tua, pindah rumah atau kelahiran adik. Sedang enuresis adalah gangguan kencing berulang-ulang sehingga pakaian dan tempat tidur anak basah. Biasanya terjadi pada anak yang usianya sekurang-kurangnya 5 tahun.
Selain itu yang perlu dipertimbangkan adanya depresi pada anak. Depresi pada anak sering didasari oleh suatu kehilangan objek cinta, yang bermakna bagi anak. Kehilangan dapat merupakan suatu kejadian yang nyata, atau dapat pula hanya terjadi dalam imajinasi anak (keha-diran adik, kakak "kehilangan" cinta dan perhatian ibu) Gangguan depresi pada anak kadang-kadang sulit teridentifikasi karena anak sulit mengutarakan perasaannya. Pernyataan perasaan sering berupa penyimpangan perilaku dalam bentuk cepat marah, temper tantrum, menolak makan dan keluhan fisik yang samar-samar (tanpa kelainan organ) seperti sakit perut, muntah-muntah, dan sakit kepala. Pada anak usia kurang dari 5 tahun memperlihatkan gejala depresi yang terselubung seperti agresif dan hiperaktif.
Mengatasi
Upaya yang dapat dilakukan terhadap R antara lain konseling pada kedua orang tua. Persaingan antarsaudara merupakan hal yang umum terjadi dalam perkembangan anak. Bila terdapat faktor yang lebih kompleks seperti sampai terjadi disharmoni keluarga, merupakan trauma psikis yang berkepanjangan. Usaha berbagai cara untuk mengatasi persaingan atau rasa iri hati antarsaudara dengan cara lebih mendekatkan rasa persaudaraan adik-kakak dan mempersiapkan perasaan kakak dalam menerima kelahiran adiknya serta melibatkan kakak dalam mengasuh adik. Bila upaya yang dilakukan masih belum dapat mengatasi masalah anak, segera bawa ke fasilitas pelayanan psikiatn terdekat untuk menjalani pemeriksaan dan pengobatan seperti psikoterapi dan terapi keluarga. Perawatan di rumah sakit harus dipertimbangkan jika keadaan anak memburuk.
Sumber:
http://bataviase.co.id/node/184364
Enkopresis
Enkopresis berasal dari bahasa Yunani en- dan kopros, yang artinya “feses”. Enkopresis (encopresis) adalah kurangnya kontrol terhadap keinginan buang air besar yang bukan disebabkan oleh masalah organik. Anak harus memiliki usia kronologis minimal 4 tahun, atau pada anak- anak dengan perkemabangan yang lambat, usia mentalnya minimal 4 tahun (APA, 2000). Sekitar 1% dari anak- anak usia 5 tahun mengalami enkopresis. Seperti halnya enuresis, gangguan ini lebih umum terjadi pada anak laki- laki. Enkopresis jarang terjadi pada remaja usia pertengahan kecuali mereka yang mengalami retardasi mental yang parah atau intens. Soiling (mengotori) dapat dilakukan secara sengaja maupun tidak dan bukan disebabkan oleh maslah organik, kecuali pada kasus dengan konstipasi (APA, 2000). Faktor- faktor predisposisi yang mungkin di antaranya adalah toilet training yang tidak konsisten atau tidak lengkap dan sumber stresspsikologis, seperti kelahiran saudara sekandung atau mulai bersekolah.
Soiling, tidak seperti enuresis, lebih sering terjadi pada siang hari dibandingkan malam hari. Jadi akan amat memalukan bagi bagi anak. Teman sekelas sering menghindari atau mempermalukan anak dengan enkopresis. Karena tinja memiliki bau yang menyengat, guru- guru merasa kesulitan untuk berperilaku seolah- olah tidak terjadi apa pun. Orang tua juga akhirnya sakit hati karena masalah tersebut berulang dan dapat menigkatkan tuntutan mereka terhadap self- control dan pemberian hukuman berat bila terjadi kegagalan. Karena hal- hal tersebut, anak mungkin mulai menyembunyikan pakaian dalam yang kotor. Anak- anak ini membuat jarak dengan teman- temannya atau pura- pura sakit agar bisa tinggal di rumah. Kecemasan mereka sehubungan dengn soiling meningkat. Karena kecemasan (keterangsangan cabang simpatis dari sistem saraf otonom) mendorong BAB, control menjadi lebih sulit.
Bila BAB tidak disnegaja, biasanya terkait dengan konstipasi, impaction (jepitan), atau retensi (penahanan) yang mengakibatkan penegeluaran beruntun. Konstipasi dapat berhubungan dengan faktor- faktor psikologis, seperti ketakutan yang diasosiasikan dengan BAB di tempat tertentu atau dengan pola perilaku negative atau menetang yang lebih umum. Konstipasi juga dapat terkait dengan faktor- faktor fisiologis seperti komplikasi dari penyakit atau pengobatan. Yang amat jarang terjadi adalah enkopresis yang disengaja.
Soiling sering tampak setelah pemberian hukuman berat terhadap satu “kecelakaan” atau lebih, terutama pada anak- anak yang telah sangat stres atau cemas. Hukuman berat dapat mempfokuskan perhatian anak pada soiling. Mereka kemudian mungkin merenung tentang soiling, yang menaikkan tingkat kecemasan sampai self- control terganggu.
Metode operant conditioning dapat membantu dalam mengatasi soiling. Di sini diberikan reward (dengan pujian atau cara- cara lain) untuk keberhasilan usaha self- control dan hukuman untuk ketidaksengajaan (misalnya, dengan member peringatan agar lebih memperhatikan rasa ingin BAB dan meminta anak untuk membersihkan pakaian dalamnya). Bila enkopresis bertahan, direkomendasikan evaluasi medis dan psikologis untuk menentukan kemungkinan penyebab dan penanganan yang tepat.
Sumber:
Greene B., Rathus. A, & Nevid S. 2005. Psikologi Abnormal Jilid 2. PT. Gelora Aksara Pratama: ERLANGGA.
Soiling, tidak seperti enuresis, lebih sering terjadi pada siang hari dibandingkan malam hari. Jadi akan amat memalukan bagi bagi anak. Teman sekelas sering menghindari atau mempermalukan anak dengan enkopresis. Karena tinja memiliki bau yang menyengat, guru- guru merasa kesulitan untuk berperilaku seolah- olah tidak terjadi apa pun. Orang tua juga akhirnya sakit hati karena masalah tersebut berulang dan dapat menigkatkan tuntutan mereka terhadap self- control dan pemberian hukuman berat bila terjadi kegagalan. Karena hal- hal tersebut, anak mungkin mulai menyembunyikan pakaian dalam yang kotor. Anak- anak ini membuat jarak dengan teman- temannya atau pura- pura sakit agar bisa tinggal di rumah. Kecemasan mereka sehubungan dengn soiling meningkat. Karena kecemasan (keterangsangan cabang simpatis dari sistem saraf otonom) mendorong BAB, control menjadi lebih sulit.
Bila BAB tidak disnegaja, biasanya terkait dengan konstipasi, impaction (jepitan), atau retensi (penahanan) yang mengakibatkan penegeluaran beruntun. Konstipasi dapat berhubungan dengan faktor- faktor psikologis, seperti ketakutan yang diasosiasikan dengan BAB di tempat tertentu atau dengan pola perilaku negative atau menetang yang lebih umum. Konstipasi juga dapat terkait dengan faktor- faktor fisiologis seperti komplikasi dari penyakit atau pengobatan. Yang amat jarang terjadi adalah enkopresis yang disengaja.
Soiling sering tampak setelah pemberian hukuman berat terhadap satu “kecelakaan” atau lebih, terutama pada anak- anak yang telah sangat stres atau cemas. Hukuman berat dapat mempfokuskan perhatian anak pada soiling. Mereka kemudian mungkin merenung tentang soiling, yang menaikkan tingkat kecemasan sampai self- control terganggu.
Metode operant conditioning dapat membantu dalam mengatasi soiling. Di sini diberikan reward (dengan pujian atau cara- cara lain) untuk keberhasilan usaha self- control dan hukuman untuk ketidaksengajaan (misalnya, dengan member peringatan agar lebih memperhatikan rasa ingin BAB dan meminta anak untuk membersihkan pakaian dalamnya). Bila enkopresis bertahan, direkomendasikan evaluasi medis dan psikologis untuk menentukan kemungkinan penyebab dan penanganan yang tepat.
Sumber:
Greene B., Rathus. A, & Nevid S. 2005. Psikologi Abnormal Jilid 2. PT. Gelora Aksara Pratama: ERLANGGA.
Enkopresis
Enkopresis adalah secara tidak sengaja buang air besar, tetapi bukan disebabkan oleh penyakit maupuan kelainan fisik.
Sekitar 17% anak berumur 3 tahun dan 1% anak berumur 4 tahun mengalami enkopresis.
Kebanyakan hal ini terjadi karena anak tidak mau menjalani toilet training. Tetapi kadang enkopresis disebabkan oleh sembelit, yang menyebabkan teregangnya dinding usus dan berkurangnya kesiagaan/kesadaran anak akan ususnya yang telah penuh serta terganggunya pengendalian otot.
Jika penyebabnya adalah sembelit, maka diberikan obat pencahar dan tindakan lainnya agar jadwal buang air besar anak menjadi teratur.
Jika penyebabnya adalah karena tidak mau menjalani toilet trainng, mungkin perlu dilakukan konsultasi dengan psikolog.
Penyebab sembelit kronis yang bisa menyebabkan terjadinya enkopresis:
- Menahan buang air besar karena takut menggunakan jamban
- Tidak mau belajar menggunakan jamban
- Fissura anus (robekan pada lapisan anus yang menimbulkan nyeri)
- Kelainan bawaan (misalnya kelainan korda spinalis
- Penyakit Hirschsprung
- Kadar tiroid yang rendah
- Gizi yang buruk
- Cerebral palsy
- Kelainan psikis pada anak atau keluarganya.
Daftar Pustaka
http://www.tanyadokter.com/disease.asp?id=1001387
Sekitar 17% anak berumur 3 tahun dan 1% anak berumur 4 tahun mengalami enkopresis.
Kebanyakan hal ini terjadi karena anak tidak mau menjalani toilet training. Tetapi kadang enkopresis disebabkan oleh sembelit, yang menyebabkan teregangnya dinding usus dan berkurangnya kesiagaan/kesadaran anak akan ususnya yang telah penuh serta terganggunya pengendalian otot.
Jika penyebabnya adalah sembelit, maka diberikan obat pencahar dan tindakan lainnya agar jadwal buang air besar anak menjadi teratur.
Jika penyebabnya adalah karena tidak mau menjalani toilet trainng, mungkin perlu dilakukan konsultasi dengan psikolog.
Penyebab sembelit kronis yang bisa menyebabkan terjadinya enkopresis:
- Menahan buang air besar karena takut menggunakan jamban
- Tidak mau belajar menggunakan jamban
- Fissura anus (robekan pada lapisan anus yang menimbulkan nyeri)
- Kelainan bawaan (misalnya kelainan korda spinalis
- Penyakit Hirschsprung
- Kadar tiroid yang rendah
- Gizi yang buruk
- Cerebral palsy
- Kelainan psikis pada anak atau keluarganya.
Daftar Pustaka
http://www.tanyadokter.com/disease.asp?id=1001387
Enkopresis adalah secara tidak sengaja buang air besar, tetapi bukan disebabkan oleh penyakit maupuan kelainan fisik.
Sekitar 17% anak berumur 3 tahun dan 1% anak berumur 4 tahun mengalami enkopresis.
Kebanyakan hal ini terjadi karena anak tidak mau menjalani toilet training. Tetapi kadang enkopresis disebabkan oleh sembelit, yang menyebabkan teregangnya dinding usus dan berkurangnya kesiagaan/kesadaran anak akan ususnya yang telah penuh serta terganggunya pengendalian otot.
Jika penyebabnya adalah sembelit, maka diberikan obat pencahar dan tindakan lainnya agar jadwal buang air besar anak menjadi teratur.
Jika penyebabnya adalah karena tidak mau menjalani toilet trainng, mungkin perlu dilakukan konsultasi dengan psikolog.
Penyebab sembelit kronis yang bisa menyebabkan terjadinya enkopresis:
- Menahan buang air besar karena takut menggunakan jamban
- Tidak mau belajar menggunakan jamban
- Fissura anus (robekan pada lapisan anus yang menimbulkan nyeri)
- Kelainan bawaan (misalnya kelainan korda spinalis
- Penyakit Hirschsprung
- Kadar tiroid yang rendah
- Gizi yang buruk
- Cerebral palsy
- Kelainan psikis pada anak atau keluarganya.
Daftar Pustaka
http://www.tanyadokter.com/disease.asp?id=1001387
Sekitar 17% anak berumur 3 tahun dan 1% anak berumur 4 tahun mengalami enkopresis.
Kebanyakan hal ini terjadi karena anak tidak mau menjalani toilet training. Tetapi kadang enkopresis disebabkan oleh sembelit, yang menyebabkan teregangnya dinding usus dan berkurangnya kesiagaan/kesadaran anak akan ususnya yang telah penuh serta terganggunya pengendalian otot.
Jika penyebabnya adalah sembelit, maka diberikan obat pencahar dan tindakan lainnya agar jadwal buang air besar anak menjadi teratur.
Jika penyebabnya adalah karena tidak mau menjalani toilet trainng, mungkin perlu dilakukan konsultasi dengan psikolog.
Penyebab sembelit kronis yang bisa menyebabkan terjadinya enkopresis:
- Menahan buang air besar karena takut menggunakan jamban
- Tidak mau belajar menggunakan jamban
- Fissura anus (robekan pada lapisan anus yang menimbulkan nyeri)
- Kelainan bawaan (misalnya kelainan korda spinalis
- Penyakit Hirschsprung
- Kadar tiroid yang rendah
- Gizi yang buruk
- Cerebral palsy
- Kelainan psikis pada anak atau keluarganya.
Daftar Pustaka
http://www.tanyadokter.com/disease.asp?id=1001387
Gangguan Otak Asal Gagap
"MMMAMAMMAU, pppepeppesan pppappasta," itu suara Suheri saat memesan makanan di sebuah kafe di Jakarta Selatan. Ayah satu putri itu bukan sedang menirukan pelawak sinetron komedi yang lagi naik daun, Muhammad Azis. "Saya memang paling susah menyebut kata yang diawali huruf m dan p," katanya.
Sementara Azis cuma berperan di televisi, Heri, 35 tahun, benar-benar penderita gagap. "Yang membuat saya resah, justru kini putri saya juga gagap, padahal dulunya enggak ketahuan," ujarnya.
Heri tergolong keluarga gagap. Ayah dan dua saudara kandungnya juga gagap. "Yang paling parah saya dan adik bungsu. Bapak saya sudah mulai berkurang," katanya.
Eksekutif muda yang bekerja di sebuah perusahaan swasta asing itu dulu merasa sangat terganggu. Apalagi ketika masih SMA disuruh membaca lantang. "Itulah masa yang paling saya takuti," ujar Heri. Semakin takut dan bingung, bicaranya semakin terbata-bata, ya, gagap kambuh.
Kasus Heri, yang menjadi gagap hingga dewasa, termasuk langka. Menurut Vivien Puspitasari, dokter saraf Rumah Sakit Siloam Tangerang, yang paling sering ditemukan adalah gagap yang muncul pada usia prasekolah. Pada masa itulah anak memasuki periode perkembangan fungsi bahasa dan bicara. Karena itu, gagap pada usia ini disebut developmental stuttering atau gagap pada masa tumbuh-kembang, yang biasanya muncul sebelum usia 12 tahun, atau rata-rata usia 2 sampai 5 tahun. "Gagap dapat bersifat sementara atau menetap. Angka kejadian pada anak hanya 5 persen dan 1 persennya akan permanen sampai dewasa," ujar lulusan spesialis saraf Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia itu.
Menurut Purboyo Solek, dokter spesialis anak Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung, gagap paling sering disebabkan faktor psikologis dan tingkat kecerdasan. "Ada hal-hal yang membuat perasaan dan emosi terganggu akibat sesuatu. Kemudian kalau diucapkan dengan kata atau kalimat jadi terbata-bata," ujarnya.
Gangguan emosional, menurut dokter lulusan Universitas Padjadjaran, Bandung, itu, menyebabkan anak menjadi sulit bicara lancar. Dalam kasus anak yang sudah duduk di sekolah dasar, misalnya, gagap muncul karena si anak kesulitan mengerjakan tugas sekolah atau berkelahi dengan temannya. "Tidak nyaman di kelas, juga takut pada guru dan orang tua, bisa mengakibatkan gagap," kata Purboyo.
Faktor lainnya berkaitan dengan tingkat kecerdasan. Menurut spesialis konsultan neurologi anak dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ini, banyak pasien anak yang datang dengan tingkat kecerdasan di atas normal. "IQ-nya lebih dari 90-110. Kerja otaknya lebih cepat daripada bicaranya," ujar Purboyo.
Dari jenis kelamin, anak laki-laki lebih banyak didera gagap. Rasionya tiga banding satu. Di Rumah Sakit Hasan Sadikin, dalam setahun Purboyo menerima paling banyak lima pasien gagap. Jumlah ini sangat sedikit dibanding pasien anak autis dan hiperaktif, yang mampir setiap hari.
Penyebab utama gagap, menurut Purboyo, bukan adanya kerusakan otak pada anak-anak. Dari pemeriksaan menyeluruh, pasien secara fisik tidak bermasalah, begitupun sarafnya. "Perkembangan mereka normal. Artinya, secara neurologis, pemeriksaan saraf, kami tidak menemukan apa-apa. Gangguan sensoris juga tak ada," katanya.
Namun, menurut dokter Vivien, memang terdapat jenis gagap lain, yaitu acquired stuttering, jenis gagap yang terjadi pada orang yang sebelumnya tidak gagap. Gangguan ini disebabkan oleh adanya kerusakan di otak, stroke, cedera kepala, atau penyakit degenerasi otak seperti parkinson dan alzheimer. "Bentuk ini lebih jarang ditemukan," ujarnya.
Menurut penelitian yang pernah dibaca dosen di Fakultas Kedokteran Universitas Pelita Harapan itu, ada pula gagap yang berhubungan dengan gangguan fungsional ataupun struktural pada ganglia basal-sekumpulan inti di otak manusia yang berhubung-hubungan dan memproduksi zat penting seperti dopamin.
Ganglia basal di dalam otak terletak di subkortikal, daerah di bawah cerebral cortex, otak bagian depan dalam struktur tengkorak manusia. Padahal struktur itu berfungsi mengontrol gerakan anggota tubuh, emosi, dan proses berpikir. Berbicara merupakan proses kompleks yang melibatkan struktur tersebut. Jika ada gangguan pada struktur ini, proses bicara jadi tersendat-sendat.
Gagap memang lebih sering dikaitkan dengan keadaan gugup, tegang, atau gelisah. Seperti dalam kasus Suheri tadi, gejala itu sebenarnya sudah ada sejak lahir. Menurut penelitian The National Institute on Deafness and Other Communication Disorders di Amerika Serikat, penyakit gagap merupakan penyakit turunan. Para peneliti menemukan ada tiga gen yang menyebabkan seseorang berbicara gagap.
Tiga gen itu ditemukan di Pakistan, Amerika Serikat, dan Inggris. Hasil analisis gen terhadap 123 orang gagap asal Pakistan, 270 asal Amerika, dan 276 asal Inggris menunjukkan ada tiga jenis mutasi gen yang menyebabkan seseorang berbicara terbata-bata. Gen tersebut juga berhubungan dengan beberapa penyakit metabolik, dan peneliti menemukan titik terang cara menonaktifkan gen tersebut.
Temuan itu sekaligus memungkinkan pengembangan obat baru yang bisa mematikan gen tersebut. Satu persen dari populasi dunia yang diketahui mengalami gagap dalam hidupnya akan bisa diatasi. "Dengan adanya temuan gen ini, tiga juta orang Amerika yang menderita gagap bisa disembuhkan," kata direktur lembaga tersebut, James Battey, seperti yang dimuat Telegraph dua pekan lalu.
Menurut salah seorang peneliti lembaga tersebut, Dennis Drayna, terapi enzim dapat mengatasi gagap jenis itu. Nah, enzim inilah yang nantinya mematikan tiga gen yang selalu berhubungan dengan gangguan sel otak penyebab gagap. Penemuan ini tentu saja membawa harapan bagi Suheri, yang putrinya terkena gangguan yang sama. "Mmmumungkin, cucu saya enggak kena, pppepppepenyakit ini.
Tip Mengobati Gagap
MENURUT dokter ahli saraf, Vivien Puspitasari, ada beberapa cara mengobati gagap, antara lain dengan obat seperti Haloperidol, Risperidon, Sertraline, dan Paroxetine. Selain itu, dengan terapi wicara oleh petugas khusus yang ahli dan dengan alat elektronik khusus. Atau terapi perilaku yang dapat dilakukan bila ditemukan gejala psikis. Namun ada pula yang sembuh sendiri tanpa pengobatan.
Beberapa saran agar anak tidak gagap:
• Lingkungan rumah seharusnya santai dan dapat memberi anak peluang untuk banyak berbicara.
• Biarkan anak mengucapkan kata-kata, tidak peduli seberapa parah ia gagap. Dalam hal ini orang tua harus sabar. Jangan pernah mencoba melengkapi kalimat anak.
• Orang tua harus bicara pelan dan santai. Ini akan mendorong anak melakukan hal yang sama.
• Orang tua harus menghindari mengkritik anak ketika ia gagap.
• Jangan menghukum anak bila gagap. Banyak orang tua yang melarang anaknya melanjutkan pembicaraan sebelum si anak bisa mengucapkan kata yang tergagap itu dengan lancar. Ini harus benar-benar dihindari.
• Orang tua disarankan mendengarkan dengan penuh perhatian ketika anak berbicara.
Sumber:
http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2010/03/01/KSH/mbm.20100301.KSH132851.id.html#
Sementara Azis cuma berperan di televisi, Heri, 35 tahun, benar-benar penderita gagap. "Yang membuat saya resah, justru kini putri saya juga gagap, padahal dulunya enggak ketahuan," ujarnya.
Heri tergolong keluarga gagap. Ayah dan dua saudara kandungnya juga gagap. "Yang paling parah saya dan adik bungsu. Bapak saya sudah mulai berkurang," katanya.
Eksekutif muda yang bekerja di sebuah perusahaan swasta asing itu dulu merasa sangat terganggu. Apalagi ketika masih SMA disuruh membaca lantang. "Itulah masa yang paling saya takuti," ujar Heri. Semakin takut dan bingung, bicaranya semakin terbata-bata, ya, gagap kambuh.
Kasus Heri, yang menjadi gagap hingga dewasa, termasuk langka. Menurut Vivien Puspitasari, dokter saraf Rumah Sakit Siloam Tangerang, yang paling sering ditemukan adalah gagap yang muncul pada usia prasekolah. Pada masa itulah anak memasuki periode perkembangan fungsi bahasa dan bicara. Karena itu, gagap pada usia ini disebut developmental stuttering atau gagap pada masa tumbuh-kembang, yang biasanya muncul sebelum usia 12 tahun, atau rata-rata usia 2 sampai 5 tahun. "Gagap dapat bersifat sementara atau menetap. Angka kejadian pada anak hanya 5 persen dan 1 persennya akan permanen sampai dewasa," ujar lulusan spesialis saraf Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia itu.
Menurut Purboyo Solek, dokter spesialis anak Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung, gagap paling sering disebabkan faktor psikologis dan tingkat kecerdasan. "Ada hal-hal yang membuat perasaan dan emosi terganggu akibat sesuatu. Kemudian kalau diucapkan dengan kata atau kalimat jadi terbata-bata," ujarnya.
Gangguan emosional, menurut dokter lulusan Universitas Padjadjaran, Bandung, itu, menyebabkan anak menjadi sulit bicara lancar. Dalam kasus anak yang sudah duduk di sekolah dasar, misalnya, gagap muncul karena si anak kesulitan mengerjakan tugas sekolah atau berkelahi dengan temannya. "Tidak nyaman di kelas, juga takut pada guru dan orang tua, bisa mengakibatkan gagap," kata Purboyo.
Faktor lainnya berkaitan dengan tingkat kecerdasan. Menurut spesialis konsultan neurologi anak dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ini, banyak pasien anak yang datang dengan tingkat kecerdasan di atas normal. "IQ-nya lebih dari 90-110. Kerja otaknya lebih cepat daripada bicaranya," ujar Purboyo.
Dari jenis kelamin, anak laki-laki lebih banyak didera gagap. Rasionya tiga banding satu. Di Rumah Sakit Hasan Sadikin, dalam setahun Purboyo menerima paling banyak lima pasien gagap. Jumlah ini sangat sedikit dibanding pasien anak autis dan hiperaktif, yang mampir setiap hari.
Penyebab utama gagap, menurut Purboyo, bukan adanya kerusakan otak pada anak-anak. Dari pemeriksaan menyeluruh, pasien secara fisik tidak bermasalah, begitupun sarafnya. "Perkembangan mereka normal. Artinya, secara neurologis, pemeriksaan saraf, kami tidak menemukan apa-apa. Gangguan sensoris juga tak ada," katanya.
Namun, menurut dokter Vivien, memang terdapat jenis gagap lain, yaitu acquired stuttering, jenis gagap yang terjadi pada orang yang sebelumnya tidak gagap. Gangguan ini disebabkan oleh adanya kerusakan di otak, stroke, cedera kepala, atau penyakit degenerasi otak seperti parkinson dan alzheimer. "Bentuk ini lebih jarang ditemukan," ujarnya.
Menurut penelitian yang pernah dibaca dosen di Fakultas Kedokteran Universitas Pelita Harapan itu, ada pula gagap yang berhubungan dengan gangguan fungsional ataupun struktural pada ganglia basal-sekumpulan inti di otak manusia yang berhubung-hubungan dan memproduksi zat penting seperti dopamin.
Ganglia basal di dalam otak terletak di subkortikal, daerah di bawah cerebral cortex, otak bagian depan dalam struktur tengkorak manusia. Padahal struktur itu berfungsi mengontrol gerakan anggota tubuh, emosi, dan proses berpikir. Berbicara merupakan proses kompleks yang melibatkan struktur tersebut. Jika ada gangguan pada struktur ini, proses bicara jadi tersendat-sendat.
Gagap memang lebih sering dikaitkan dengan keadaan gugup, tegang, atau gelisah. Seperti dalam kasus Suheri tadi, gejala itu sebenarnya sudah ada sejak lahir. Menurut penelitian The National Institute on Deafness and Other Communication Disorders di Amerika Serikat, penyakit gagap merupakan penyakit turunan. Para peneliti menemukan ada tiga gen yang menyebabkan seseorang berbicara gagap.
Tiga gen itu ditemukan di Pakistan, Amerika Serikat, dan Inggris. Hasil analisis gen terhadap 123 orang gagap asal Pakistan, 270 asal Amerika, dan 276 asal Inggris menunjukkan ada tiga jenis mutasi gen yang menyebabkan seseorang berbicara terbata-bata. Gen tersebut juga berhubungan dengan beberapa penyakit metabolik, dan peneliti menemukan titik terang cara menonaktifkan gen tersebut.
Temuan itu sekaligus memungkinkan pengembangan obat baru yang bisa mematikan gen tersebut. Satu persen dari populasi dunia yang diketahui mengalami gagap dalam hidupnya akan bisa diatasi. "Dengan adanya temuan gen ini, tiga juta orang Amerika yang menderita gagap bisa disembuhkan," kata direktur lembaga tersebut, James Battey, seperti yang dimuat Telegraph dua pekan lalu.
Menurut salah seorang peneliti lembaga tersebut, Dennis Drayna, terapi enzim dapat mengatasi gagap jenis itu. Nah, enzim inilah yang nantinya mematikan tiga gen yang selalu berhubungan dengan gangguan sel otak penyebab gagap. Penemuan ini tentu saja membawa harapan bagi Suheri, yang putrinya terkena gangguan yang sama. "Mmmumungkin, cucu saya enggak kena, pppepppepenyakit ini.
Tip Mengobati Gagap
MENURUT dokter ahli saraf, Vivien Puspitasari, ada beberapa cara mengobati gagap, antara lain dengan obat seperti Haloperidol, Risperidon, Sertraline, dan Paroxetine. Selain itu, dengan terapi wicara oleh petugas khusus yang ahli dan dengan alat elektronik khusus. Atau terapi perilaku yang dapat dilakukan bila ditemukan gejala psikis. Namun ada pula yang sembuh sendiri tanpa pengobatan.
Beberapa saran agar anak tidak gagap:
• Lingkungan rumah seharusnya santai dan dapat memberi anak peluang untuk banyak berbicara.
• Biarkan anak mengucapkan kata-kata, tidak peduli seberapa parah ia gagap. Dalam hal ini orang tua harus sabar. Jangan pernah mencoba melengkapi kalimat anak.
• Orang tua harus bicara pelan dan santai. Ini akan mendorong anak melakukan hal yang sama.
• Orang tua harus menghindari mengkritik anak ketika ia gagap.
• Jangan menghukum anak bila gagap. Banyak orang tua yang melarang anaknya melanjutkan pembicaraan sebelum si anak bisa mengucapkan kata yang tergagap itu dengan lancar. Ini harus benar-benar dihindari.
• Orang tua disarankan mendengarkan dengan penuh perhatian ketika anak berbicara.
Sumber:
http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2010/03/01/KSH/mbm.20100301.KSH132851.id.html#
Klasifikasi communication and language disorder pada anak
A. Developmental language disorders (ganguan perkembangan berbahasa)
1.Hanya mengalami gangguan ekspresif dengan pemahaman normal dengan sedikit atau tanpa komorbiditas - gangguan lain yang menyertainya (pure dysphasia development atau expressive language disorder menurut DSM IV)
2.Gangguan campuran antara perkembangan bahasa ekspresif dan reseptif (mixed receptive-expressive language disorder DSM IV). Seringkali terjadi adanya deskrepansi (perbedaan) yang bermakna antara skor tes verbal IQ dengan performal (non-verbal) IQ, dimana skor verbal IQ mencapai skor yang sangatrendah. Atau non-verbal IQ mencapai skor lebih tinggi daripada tes pemahaman bahasa. Pemahaman bahasa lebih rendah daripada rata-rata anak seusianya, artinya ada gangguan perkembangan bahasa reseptif (receptive dysphasia). 1 dan 2 di atas dapat terjadi pada anak yang mengalami gangguan perkembangan bahasa dan bicara.
B. Gangguan bahasa reseptif: diluar definisi dysphasia development, karena pemahaman bahasa lebih jelek daripada bahasa ekspresif.
1.Kemampuan reseptif dan ekspresif sangat rendah (delay atau tertinggal); seringkali diikuti dengan gangguan nonverbal (mengalami juga keterbelakangan mental). Dalam bentuk yang parah didapatkan asymbolic mental retardation atau "mute autistic". Pemahaman bahasa dan bicara sama sekali tak nampak.
2.Verbal-auditory agnosia atau congenital word deafness (bentuk ringan dari phonologic perception problem)
3.Cortical deafness, total auditory agnosia (congenital auditory imperception).
4.Gangguan sensorik pendengaran yang parah.
C. Gangguan semantik-pragmatik
Gangguan bahasa Semantik (pengertian) - pragmatik (penggunaan) sering dimulai dengan bahasa dengan echolalia yang banyak.
D. Gangguan kelancaran bicara, atau gagap.
E. Mutisme selektif (tidak mau bicara dalam situasi atau tempat tertentu)
F. Miskin bahasa karena kurang stimulasi
G. Gangguan artikulasi dan gangguan perkembangan bahasa dan bicara, sering disebabkan karena masalah seperti dalam pembangian 1 & 2
Gangguan perkembangan bicara dan bahasa karena sebab-sebab lain:
1. Child-afasia (disebabkan karena traumatic, tumor, infeksi)
2. Landau-Kleffner- syndrom (gejala mirip pada pembangian B)
3. Kemunduran perkembangan bahasa dan bicara dengan penyebab tak diketahui dengan atau tanpa epilepsi saat tidur dan gangguan nosologi yang tak diketahui penyebabnya, sering juga terjadi pada Autisme Spectrum Disorder (ASD).
BAGAIMANA ANAK BELAJAR BICARA
1. Aspek Semantik (arti bahasa).
Bila seorang anak akan mengatakan atau memahami sesuatu, ia harus mempunyai daftar kata-kata atau vokabulari yang cukup memadai, yang dengan kata lain kita bisa mengatakan bahwa:
- si anak mempunyai cukup kata-kata agar bisa memproduksi dan memahami (bahasa aktif dan pasif);
- menemukan kata-kata yang tepat (memanggil kata dari daftar memori);
- memahami apa yang diucapkan (pengertian kalimat).
Seorang anak kecil belajar berbicara mula-mula adalah dengan cara menunjuk berbagai benda-benda yang ada di sekitarnya atau kata kerja yang harus digunakannya. Menunjuk benda-benda yang dapat dilihatnya (kursi, meja, makan, boneka dlsb), atau kata yang dapat menunjukkan pada pengertian tempat "disini" atau "sekarang".
Daftar kata-kata ini akan segera meningkat tanpa batas. Namun bisa diperkirakan bahwa seorang anak pada usia dua tahun setidaknya memerlukan 270 kata, 900 kata di usianya yang ketiga, dan sekitar 2500 hingga 4000 kata di usianya yang ke enam. Walau begitu seorang anak sebetulnya mempunyai lebih banyak lagi kata-kata (daftar kata-kata yang pasif) daripada yang bisa ia produksi (sebagai daftar kata aktif). Daftar kata pasif seorang anak berusia enam tahun bisa dua kali lipat banyaknya dibanding dengan daftar kata aktif yang dimilikinya. Dengan kata lain anak berusia tiga hingga lima tahun akan mengalami kesulitan memanggil kata-kata yang berada di dalam memorinya; seringkali sulit menggunakan kata pada tempat dan waktu yang tepat. Kadang terjadi seorang anak akan membuat kata-kata sendiri (neologis), atau bicaranya kacau, sepotong-sepotong, dan diulang-ulang.
2. Pembentukan bahasa.
Bagaimana sebuah kata atau kalimat dibentuk? Aspek pembentukan kata dan kalimat seperti yang kutuliskan di atas akan menyangkut pada tiga bagian aspek yaitu:
a. aspek fonologis
Anak kita harus bisa belajar menggunakan dan mengucapkan bunyian dengan cara yang benar. Artinya bahwa bicara mempunyai kaitan dengan aspek fonologis ini. Bila seorang anak mengalami gangguan fonologis ini, maka kelak ia akan mengalami masalah dalam bahasa dan bicara. Di usia kira-kira lima bulan, refleks oral (mulut) seperti misalnya refleks menghisap (untuk menyusu) akan hilang, berganti dengan gerakan-gerakan yang baik dengan lidahnya, bibirnya, suara decak halus, rahang bawah, dan tenggorokan. Ia juga belajar membedakan bunyian dan mengingatnya sebagai bunyian tertentu. Apabila ia mendenger bunyian itu kembali, maka ia bisa mengenalnya kembali, serta menggunakannya untuk tujuan tertentu. Pada akhirnya kemudian ia bisa berbicara dengan tujuan tertentu: misalnya mengucapkan kata mama akan berbeda artinya jika mengucapkan maem atau makan.
Pada akhir tahun pertama umumnya anak-anak mempelajari bunyian dengan pola bunyian yang sama.
Pada akhir tahun kedua ia mulai bisa mengucapkan kata-kata berupa beberapa suku kata dengan baik
karena kontrol otot-otot sudah semakin baik, yaitu otot lidah, bibir dan langit-langit. Dan juga ia sudah mampu mendengarkan dengan baik. Tinggal beberapa kata seperti s/l/r/ barulah akan dikuasai dengan baik di usianya yang kelima atau keenam.
Sekalipun seorang anak bisa mengucapkan bunyian dengan baik, bukan berarti ia akan bisa juga dengan baik mengucapkan kata-kata. Ia masih harus belajar lebih banyak lagi untuk mengucapkan kata-kata dengan baik, sehingga tidak meletakkan bunyian itu di tempat yang salah. Misalnya pabrik menjadi perabik. Lokomotip menjadi molokotip. Baru pada usia enam tahun, kita boleh mengharapkan bahwa seorang anak haruslah sudah bisa dengan baik mengucapkan urutan bunyian itu dengan benar, menjadi sebuah kata yang mempunyai makna.
b. aspek morfologis
Dengan cara yang tepat anak mempelajari sebuah kata dan mengubahnya dengan cara yang benar, yaitu:
- penggunaan kata-kata jamak
- penggunaan awalan dan imbuhan
- penggunaan kata yang memberi penjelasan pertambahan dan perbedaan
- penggunaan kata kerja
Pada anak usia empat tahun biasanya sudah bisa menggunakan bentuk kata jamak
secara baik tanpa kesalahan, penggunaan imbuhan, pertambahan - perbedaan, dan kata kerja.
c. aspek sintaksis
Dalam fase ini anak akan belajar membangun kalimat dengan baik.
- ia akan berbicara dengan urutan kata-kata secara benar dalam sebuah kalimat
- kalimat dalam bentuk lengkap, dan tidak ada kata yang tertinggal
- ia memahami berbagai perbedaan muatan kalimat misalnya kalimat bertanya, kalimat berempati, kalimat mengharap, atau kalimat menyangkal.
Anak yang mengalami masalah dalam siktaksis akan berkata misalnya: "Kabel sudah telepon rusak", yang seharusnya diucapkan: "Kabel telepon sudah rusak." Atau "Mau minum." Seharusnya: "Saya mau minum."
3. Penggunaan bahasa, aspek pragmatik
Dalam hal ini si anak akan menggunakan bahasa dalam konteks yang tepat dan untuk apa. Beberapa contoh yang berkaitan dengan aspek pragmatik:
- Bila ada seseorang tengah berbicara, maka ia tidak akan berbicara secara bersamaan, tetapi menunggu seseorang tadi selesai bicara.
- Ia menjawab apa yang ditanya teman bicaranya, misalnya:
. Pada pertanyaan : "Apakah engkau akan menggunakan jaket? " ia menjawab : "Tidak saya merasa cukup hangat". Jawaban ini cocok dengan pertanyaannya.
. Seorang anak bercerita bahwa saat berulang tahun ia diajak berenang oleh orang tuanya, temannya
bereaksi: "Tadi pagi saya melihat anjing besar sekali?" Reaksi ini tidak sesuai dengan apa yang menjadi topic bicara.
. Kita bertanya pada anak kita: "Apakah engkau sudah mengikat tali sepatumu?" Lalu dijawab oleh anak kita: "Saya baru saja makan es krim." Jawaban ini secara Pragmatik menjawab tidak pada konteks yang benar.
Mieke Pronk-Boerma juga membagi periode perkembangan bicara menjadi periode pra-verbal dan periode verbal. Periode pra verbal menurutnya merupakan periode yang sangat penting, yang dibaginya menjadi:
- minggu ke 0 - 6 : menangis
- minggu ke 6 hingga bulan ke 4 : vokalisasi : ah, uh
- bulan ke 4 - 8 : babbling atau mengoceh (bunyian vocal terus menerus), misalnya: gagaggagagag. .aaaaaa,. ..tatatatatatata.
Pada periode ini bunyi bahasa ibu juga diproduksinya. Si anak juga akan mengikuti apa yang ibu ucapkan, sambil ia mengikuti ucapan ibu atau pengasuhnya, segera ia akan mengucapkan papa, mama. Seorang bayi yang tuli, juga akan melakukan babbling ini, tetapi kemudian akan berhenti di usianya yang ke 8 -9 bulan.
- Bulan ke 8 - 12: social babbling, yaitu mengocah dengan cara dimana
- pola bunyian dari sekitarnya akan diambil alihnya, ia juga akan melakukan imitasi pola bunyian kalimat. Pola bunyian yang tidak termasuk dalam bahasa ibu akan segera hilang. Kemudian anak akan mendengarkan, mengoceh dan mengikuti, terus menerus hingga terjadilah pemahaman terhadap kata-kata, dan penggunaan kata-kata; pemahaman kata akan dengan sendirinya kemudian diucapkannya. Dalam periode ini muncul bentuk yang disebut echolalia yaitu si anak hanya mengulang apa kata pengasuh tanpa kata-kata tersebut mempunyai maksud tertentu atau tanpa arti apa-apa.
Periode verbal mempunyai beberapa fase yaitu:
- bulan ke 12 - 15 : yang merupakan fase kalimat dengan satu kata. Misalnya seorang anak mengatakan: "Mobil!" Maksudnya adalah: "Saya minta sebuah mobil!" atau: "Beri saya mobil itu!" atau: "Itu mobil bagus!" dan sebagainya. Si anak akan menanyakan nama-nama segala sesuatu dengan cara menunjuk-nunjuk dan dengan cara tertentu ia menyebutkannya kembali. Si anak belum menyangkal dengan kata, tetapi sudah membuat gerakan menggeleng dengan kepala.
- Bulan ke 15 - 2 tahun: fase kalimat dengan dua kata. Seorang anak usia dua tahun biasanya sudah mempunyai 270 kata. Ia juga bertanya dengan intonasi bertanya. Ia mulai menyangkal dengan kata-kata. Banyak kata-kata yang masih terpotong , misalnya "minum" menjadi "mium".
- Usia 2 - 3 tahun: yang merupakan fase kalimat dengan banyak kata. Kalimatterdiri dari kata benda dan kata kerja. Apa yang diucapkan lebih kepada arti atau maksud kalimat yang diucapkan, namun belum dalam bentuk kalimat yang benar. Tetapi dalam usia ini daftar kata yang dimiliki akan meningkat dengan pesat. Suku kata akan diucapkan dengan lebih baik. Ia juga mulai menggunakan bentuk kamu-dan saya. Kadang ia masih menggunakan bentuk -kamu jika berkata pada dirinya sendiri. :"Mana bonekamu? " padahal maksudnya: "Dimana boneka itu saya taruh?"
- Usia 3 - 4 tahun: si anak akan banyak mengerti berbagai hal, dan banyak bercerita. Ia juga sudah bisa mengucapkan bunyian berbagai huruf kecuali /s/l/r. Juga masih ada beberapa kesalahan dengan pengucapan kata sambung, tetapi sudah bisa berbicara dengan aturan sebuah kalimat termasuk urutan kata, imbuhan, dan pemotongan kalimat. Kata jamak juga bisa dibentuk. Seringkali masih ada kata-kata yang diulang -ulang karena berpikir baginya lebih cepat daripada mengucapkan kalimat. Nampaknya seperti seorang anak yang gagap, tetapi sebetulnya bukan.
- Usia 4 - 6 tahun: Di usia enam anak-anak ini akan semakin baik mengucapkan berbagai huruf, juga untuk huruf-huruf yang sulit seperti s dan r. Ia juga semakin membaik dengan aturan pembuatan kalimat, termasuk juga penggunaan kata penghubung: dan, tapi, atau, karena, sebab. dlsb. Dalam usia ini anak juga mulai dengan menyampaikan pemikiran dari abstraksinya.
Sumber:
http://sandrafdewi.multiply.com/journal/item/6/Bagaimana_Cara_Anak_Belajar_Bicara
1.Hanya mengalami gangguan ekspresif dengan pemahaman normal dengan sedikit atau tanpa komorbiditas - gangguan lain yang menyertainya (pure dysphasia development atau expressive language disorder menurut DSM IV)
2.Gangguan campuran antara perkembangan bahasa ekspresif dan reseptif (mixed receptive-expressive language disorder DSM IV). Seringkali terjadi adanya deskrepansi (perbedaan) yang bermakna antara skor tes verbal IQ dengan performal (non-verbal) IQ, dimana skor verbal IQ mencapai skor yang sangatrendah. Atau non-verbal IQ mencapai skor lebih tinggi daripada tes pemahaman bahasa. Pemahaman bahasa lebih rendah daripada rata-rata anak seusianya, artinya ada gangguan perkembangan bahasa reseptif (receptive dysphasia). 1 dan 2 di atas dapat terjadi pada anak yang mengalami gangguan perkembangan bahasa dan bicara.
B. Gangguan bahasa reseptif: diluar definisi dysphasia development, karena pemahaman bahasa lebih jelek daripada bahasa ekspresif.
1.Kemampuan reseptif dan ekspresif sangat rendah (delay atau tertinggal); seringkali diikuti dengan gangguan nonverbal (mengalami juga keterbelakangan mental). Dalam bentuk yang parah didapatkan asymbolic mental retardation atau "mute autistic". Pemahaman bahasa dan bicara sama sekali tak nampak.
2.Verbal-auditory agnosia atau congenital word deafness (bentuk ringan dari phonologic perception problem)
3.Cortical deafness, total auditory agnosia (congenital auditory imperception).
4.Gangguan sensorik pendengaran yang parah.
C. Gangguan semantik-pragmatik
Gangguan bahasa Semantik (pengertian) - pragmatik (penggunaan) sering dimulai dengan bahasa dengan echolalia yang banyak.
D. Gangguan kelancaran bicara, atau gagap.
E. Mutisme selektif (tidak mau bicara dalam situasi atau tempat tertentu)
F. Miskin bahasa karena kurang stimulasi
G. Gangguan artikulasi dan gangguan perkembangan bahasa dan bicara, sering disebabkan karena masalah seperti dalam pembangian 1 & 2
Gangguan perkembangan bicara dan bahasa karena sebab-sebab lain:
1. Child-afasia (disebabkan karena traumatic, tumor, infeksi)
2. Landau-Kleffner- syndrom (gejala mirip pada pembangian B)
3. Kemunduran perkembangan bahasa dan bicara dengan penyebab tak diketahui dengan atau tanpa epilepsi saat tidur dan gangguan nosologi yang tak diketahui penyebabnya, sering juga terjadi pada Autisme Spectrum Disorder (ASD).
BAGAIMANA ANAK BELAJAR BICARA
1. Aspek Semantik (arti bahasa).
Bila seorang anak akan mengatakan atau memahami sesuatu, ia harus mempunyai daftar kata-kata atau vokabulari yang cukup memadai, yang dengan kata lain kita bisa mengatakan bahwa:
- si anak mempunyai cukup kata-kata agar bisa memproduksi dan memahami (bahasa aktif dan pasif);
- menemukan kata-kata yang tepat (memanggil kata dari daftar memori);
- memahami apa yang diucapkan (pengertian kalimat).
Seorang anak kecil belajar berbicara mula-mula adalah dengan cara menunjuk berbagai benda-benda yang ada di sekitarnya atau kata kerja yang harus digunakannya. Menunjuk benda-benda yang dapat dilihatnya (kursi, meja, makan, boneka dlsb), atau kata yang dapat menunjukkan pada pengertian tempat "disini" atau "sekarang".
Daftar kata-kata ini akan segera meningkat tanpa batas. Namun bisa diperkirakan bahwa seorang anak pada usia dua tahun setidaknya memerlukan 270 kata, 900 kata di usianya yang ketiga, dan sekitar 2500 hingga 4000 kata di usianya yang ke enam. Walau begitu seorang anak sebetulnya mempunyai lebih banyak lagi kata-kata (daftar kata-kata yang pasif) daripada yang bisa ia produksi (sebagai daftar kata aktif). Daftar kata pasif seorang anak berusia enam tahun bisa dua kali lipat banyaknya dibanding dengan daftar kata aktif yang dimilikinya. Dengan kata lain anak berusia tiga hingga lima tahun akan mengalami kesulitan memanggil kata-kata yang berada di dalam memorinya; seringkali sulit menggunakan kata pada tempat dan waktu yang tepat. Kadang terjadi seorang anak akan membuat kata-kata sendiri (neologis), atau bicaranya kacau, sepotong-sepotong, dan diulang-ulang.
2. Pembentukan bahasa.
Bagaimana sebuah kata atau kalimat dibentuk? Aspek pembentukan kata dan kalimat seperti yang kutuliskan di atas akan menyangkut pada tiga bagian aspek yaitu:
a. aspek fonologis
Anak kita harus bisa belajar menggunakan dan mengucapkan bunyian dengan cara yang benar. Artinya bahwa bicara mempunyai kaitan dengan aspek fonologis ini. Bila seorang anak mengalami gangguan fonologis ini, maka kelak ia akan mengalami masalah dalam bahasa dan bicara. Di usia kira-kira lima bulan, refleks oral (mulut) seperti misalnya refleks menghisap (untuk menyusu) akan hilang, berganti dengan gerakan-gerakan yang baik dengan lidahnya, bibirnya, suara decak halus, rahang bawah, dan tenggorokan. Ia juga belajar membedakan bunyian dan mengingatnya sebagai bunyian tertentu. Apabila ia mendenger bunyian itu kembali, maka ia bisa mengenalnya kembali, serta menggunakannya untuk tujuan tertentu. Pada akhirnya kemudian ia bisa berbicara dengan tujuan tertentu: misalnya mengucapkan kata mama akan berbeda artinya jika mengucapkan maem atau makan.
Pada akhir tahun pertama umumnya anak-anak mempelajari bunyian dengan pola bunyian yang sama.
Pada akhir tahun kedua ia mulai bisa mengucapkan kata-kata berupa beberapa suku kata dengan baik
karena kontrol otot-otot sudah semakin baik, yaitu otot lidah, bibir dan langit-langit. Dan juga ia sudah mampu mendengarkan dengan baik. Tinggal beberapa kata seperti s/l/r/ barulah akan dikuasai dengan baik di usianya yang kelima atau keenam.
Sekalipun seorang anak bisa mengucapkan bunyian dengan baik, bukan berarti ia akan bisa juga dengan baik mengucapkan kata-kata. Ia masih harus belajar lebih banyak lagi untuk mengucapkan kata-kata dengan baik, sehingga tidak meletakkan bunyian itu di tempat yang salah. Misalnya pabrik menjadi perabik. Lokomotip menjadi molokotip. Baru pada usia enam tahun, kita boleh mengharapkan bahwa seorang anak haruslah sudah bisa dengan baik mengucapkan urutan bunyian itu dengan benar, menjadi sebuah kata yang mempunyai makna.
b. aspek morfologis
Dengan cara yang tepat anak mempelajari sebuah kata dan mengubahnya dengan cara yang benar, yaitu:
- penggunaan kata-kata jamak
- penggunaan awalan dan imbuhan
- penggunaan kata yang memberi penjelasan pertambahan dan perbedaan
- penggunaan kata kerja
Pada anak usia empat tahun biasanya sudah bisa menggunakan bentuk kata jamak
secara baik tanpa kesalahan, penggunaan imbuhan, pertambahan - perbedaan, dan kata kerja.
c. aspek sintaksis
Dalam fase ini anak akan belajar membangun kalimat dengan baik.
- ia akan berbicara dengan urutan kata-kata secara benar dalam sebuah kalimat
- kalimat dalam bentuk lengkap, dan tidak ada kata yang tertinggal
- ia memahami berbagai perbedaan muatan kalimat misalnya kalimat bertanya, kalimat berempati, kalimat mengharap, atau kalimat menyangkal.
Anak yang mengalami masalah dalam siktaksis akan berkata misalnya: "Kabel sudah telepon rusak", yang seharusnya diucapkan: "Kabel telepon sudah rusak." Atau "Mau minum." Seharusnya: "Saya mau minum."
3. Penggunaan bahasa, aspek pragmatik
Dalam hal ini si anak akan menggunakan bahasa dalam konteks yang tepat dan untuk apa. Beberapa contoh yang berkaitan dengan aspek pragmatik:
- Bila ada seseorang tengah berbicara, maka ia tidak akan berbicara secara bersamaan, tetapi menunggu seseorang tadi selesai bicara.
- Ia menjawab apa yang ditanya teman bicaranya, misalnya:
. Pada pertanyaan : "Apakah engkau akan menggunakan jaket? " ia menjawab : "Tidak saya merasa cukup hangat". Jawaban ini cocok dengan pertanyaannya.
. Seorang anak bercerita bahwa saat berulang tahun ia diajak berenang oleh orang tuanya, temannya
bereaksi: "Tadi pagi saya melihat anjing besar sekali?" Reaksi ini tidak sesuai dengan apa yang menjadi topic bicara.
. Kita bertanya pada anak kita: "Apakah engkau sudah mengikat tali sepatumu?" Lalu dijawab oleh anak kita: "Saya baru saja makan es krim." Jawaban ini secara Pragmatik menjawab tidak pada konteks yang benar.
Mieke Pronk-Boerma juga membagi periode perkembangan bicara menjadi periode pra-verbal dan periode verbal. Periode pra verbal menurutnya merupakan periode yang sangat penting, yang dibaginya menjadi:
- minggu ke 0 - 6 : menangis
- minggu ke 6 hingga bulan ke 4 : vokalisasi : ah, uh
- bulan ke 4 - 8 : babbling atau mengoceh (bunyian vocal terus menerus), misalnya: gagaggagagag. .aaaaaa,. ..tatatatatatata.
Pada periode ini bunyi bahasa ibu juga diproduksinya. Si anak juga akan mengikuti apa yang ibu ucapkan, sambil ia mengikuti ucapan ibu atau pengasuhnya, segera ia akan mengucapkan papa, mama. Seorang bayi yang tuli, juga akan melakukan babbling ini, tetapi kemudian akan berhenti di usianya yang ke 8 -9 bulan.
- Bulan ke 8 - 12: social babbling, yaitu mengocah dengan cara dimana
- pola bunyian dari sekitarnya akan diambil alihnya, ia juga akan melakukan imitasi pola bunyian kalimat. Pola bunyian yang tidak termasuk dalam bahasa ibu akan segera hilang. Kemudian anak akan mendengarkan, mengoceh dan mengikuti, terus menerus hingga terjadilah pemahaman terhadap kata-kata, dan penggunaan kata-kata; pemahaman kata akan dengan sendirinya kemudian diucapkannya. Dalam periode ini muncul bentuk yang disebut echolalia yaitu si anak hanya mengulang apa kata pengasuh tanpa kata-kata tersebut mempunyai maksud tertentu atau tanpa arti apa-apa.
Periode verbal mempunyai beberapa fase yaitu:
- bulan ke 12 - 15 : yang merupakan fase kalimat dengan satu kata. Misalnya seorang anak mengatakan: "Mobil!" Maksudnya adalah: "Saya minta sebuah mobil!" atau: "Beri saya mobil itu!" atau: "Itu mobil bagus!" dan sebagainya. Si anak akan menanyakan nama-nama segala sesuatu dengan cara menunjuk-nunjuk dan dengan cara tertentu ia menyebutkannya kembali. Si anak belum menyangkal dengan kata, tetapi sudah membuat gerakan menggeleng dengan kepala.
- Bulan ke 15 - 2 tahun: fase kalimat dengan dua kata. Seorang anak usia dua tahun biasanya sudah mempunyai 270 kata. Ia juga bertanya dengan intonasi bertanya. Ia mulai menyangkal dengan kata-kata. Banyak kata-kata yang masih terpotong , misalnya "minum" menjadi "mium".
- Usia 2 - 3 tahun: yang merupakan fase kalimat dengan banyak kata. Kalimatterdiri dari kata benda dan kata kerja. Apa yang diucapkan lebih kepada arti atau maksud kalimat yang diucapkan, namun belum dalam bentuk kalimat yang benar. Tetapi dalam usia ini daftar kata yang dimiliki akan meningkat dengan pesat. Suku kata akan diucapkan dengan lebih baik. Ia juga mulai menggunakan bentuk kamu-dan saya. Kadang ia masih menggunakan bentuk -kamu jika berkata pada dirinya sendiri. :"Mana bonekamu? " padahal maksudnya: "Dimana boneka itu saya taruh?"
- Usia 3 - 4 tahun: si anak akan banyak mengerti berbagai hal, dan banyak bercerita. Ia juga sudah bisa mengucapkan bunyian berbagai huruf kecuali /s/l/r. Juga masih ada beberapa kesalahan dengan pengucapan kata sambung, tetapi sudah bisa berbicara dengan aturan sebuah kalimat termasuk urutan kata, imbuhan, dan pemotongan kalimat. Kata jamak juga bisa dibentuk. Seringkali masih ada kata-kata yang diulang -ulang karena berpikir baginya lebih cepat daripada mengucapkan kalimat. Nampaknya seperti seorang anak yang gagap, tetapi sebetulnya bukan.
- Usia 4 - 6 tahun: Di usia enam anak-anak ini akan semakin baik mengucapkan berbagai huruf, juga untuk huruf-huruf yang sulit seperti s dan r. Ia juga semakin membaik dengan aturan pembuatan kalimat, termasuk juga penggunaan kata penghubung: dan, tapi, atau, karena, sebab. dlsb. Dalam usia ini anak juga mulai dengan menyampaikan pemikiran dari abstraksinya.
Sumber:
http://sandrafdewi.multiply.com/journal/item/6/Bagaimana_Cara_Anak_Belajar_Bicara
Gangguan Bahasa Reseptif- Ekspresif
Gangguan bahasa reseptif- ekspresif mengacu pada anak- anak yang memiliki kesulitan baik dalam memahami maupun memproduksi bahasa verbal. Mungkin saja terdapat kesulitan dalam memahami kata- kata atau kalimat- kalimat. Dalam beberapa kasus, anak memiliki kesulitan memahami tipe- tipe kata atau kalimat tertentu (seperti kata- kata yang mengekspresikan perbedaan kuantitas; large, big, atau huge), istilah- istilah spasial (sperti dekat atau jauh), atau tipe- tipe kaliamat (seperti kalimat yang dimulai dengan kata unlike). Kasus- kasus lain ditandai oleh kesulitan memahami kata- kata dan kalimat- kalimat sederhana.
Sumber:
Greene B., Rathus. A, & Nevid S. 2005. Psikologi Abnormal Jilid 2. PT. Gelora Aksara Pratama: ERLANGGA.
Sumber:
Greene B., Rathus. A, & Nevid S. 2005. Psikologi Abnormal Jilid 2. PT. Gelora Aksara Pratama: ERLANGGA.
Gagap
Gagap merupakan gangguan bicara, dengan indikasi tersendatnya pengucapan kata-kata atau rangkaian kalimat. Kelainan ini dapat berupa kehilangan ide untuk mengeluarkan kata-kata, pengulangan beberapa suku kata, kesulitan mengeluarkan bunyi pada huruf-huruf tertentu, sampai dengan ketidakmampuan mengeluarkan kata-kata sama sekali.
Gagap biasanya berhubungan dengan masalah kepercayaan diri dan mudah gugup. Apabila seorang penderita gagap berhadapan dengan situasi atau seseorang yang membuatnya gugup, maka reaksi pada tubuh yang sering terjadi adalah ketegangan yang terlihat saat berbicara yang dibarengi oleh gerakan-gerakan wajah, gerakan kaki, tangan, dan sebagainya.
Jenis-jenis gagap menurut fasenya.
• Gagap Perkembangan - Terjadi biasanya pada usia 2-4 tahun. Kondisi ini tergolong wajar, karena merupakan rangkaian proses perkembangan bicara sang anak. Hal ini bisa saja terjadi karena ketidaksinkronan emosi anak dengan pengaturan alat bicara saat berbicara. Gagap perkembangan biasanya akan sembuh dengan sendirinya seiring bertambahnya usia anak
• Gagap Sementara - Anak berusia sekitar 5-8 tahun juga dapat mengalami gagap ini, karena faktor psikologis dari lingkungan, misal kecemasan, kepanikan, ketakutan. Jenis gagap ini akan lenyap sendiri meskipun tanpa terapi tertentu. Sebagai orang tua, kita hanya perlu bersabar dan jangan memarahi anak ketika menunjukkan gejala gagap.
• Gagap Menetap - Problem gagap ini biasanya dari usia 8 tahun sampai dewasa, bahkan sampai usia lanjut. Bila Sementara ini tidak disembuhkan tuntas, biasanya akan berlanjut sampai dewasa/tua. Penyebab masalahnya biasanya disebabkan oleh faktor psikologis, misalnya stress, kecemasan berlebihan, takut salah bicara, merasa rendah diri, merasa suaranya kurang enak didengar, merasa tidak percaya diri, dll.
Penyebab Gagap
Gagap bisa disebabkan oleh faktor fisik maupun psikologis. Penyebab fisik yaitu kemungkinan berasal dari keturunan yang menyebabkan ketidaksempurnaan secara fisik seperti gangguan pada syaraf bicara, gangguan alat bicara, keterbatasan lidah. Penyebab psikologis yaitu ketegangan yang berasal dari reaksi seseorang terhadap lingkungannya, stress mental karena sesuatu yang dirasakan tidak dapat dilakukannya.
Menurut penelitian, gagap lebih banyak disebabkan oleh faktor psikologis dibanding fisiologis. Trauma, ketakutan, kecemasan, dan kesedihan pada masa kecil bisa menyebabkan seseorang menjadi gagap sampai dewasa. Misalnya, anak yang kedua orang tuanya sering bertengkar, sehingga membuat anak takut, cemas, sedih, dan sering menangis. Cara bicara yang gagap ketika menangis bisa menjadi "kebiasaan" sampai dewasa.
Pengalaman kami membantu klien yang gagap lumayan banyak. Sehingga wajar apabila kami sama sekali tidak meragukan kemampuan kami untuk membantu klien yang menderita gagap. Bahkan kami memberi garansi kembali kepada setiap klien. Sebab itu, bagi Anda yang mengalami gagap dan sudah mencoba banyak cara untuk menghilangkan gagap tapi belum berhasil, bisa mencoba metode teknik penyembuhan gagap dengan hipnoterapi yang kami kembangkan.
Gagap biasanya berhubungan dengan masalah kepercayaan diri dan mudah gugup. Apabila seorang penderita gagap berhadapan dengan situasi atau seseorang yang membuatnya gugup, maka reaksi pada tubuh yang sering terjadi adalah ketegangan yang terlihat saat berbicara yang dibarengi oleh gerakan-gerakan wajah, gerakan kaki, tangan, dan sebagainya.
Jenis-jenis gagap menurut fasenya.
• Gagap Perkembangan - Terjadi biasanya pada usia 2-4 tahun. Kondisi ini tergolong wajar, karena merupakan rangkaian proses perkembangan bicara sang anak. Hal ini bisa saja terjadi karena ketidaksinkronan emosi anak dengan pengaturan alat bicara saat berbicara. Gagap perkembangan biasanya akan sembuh dengan sendirinya seiring bertambahnya usia anak
• Gagap Sementara - Anak berusia sekitar 5-8 tahun juga dapat mengalami gagap ini, karena faktor psikologis dari lingkungan, misal kecemasan, kepanikan, ketakutan. Jenis gagap ini akan lenyap sendiri meskipun tanpa terapi tertentu. Sebagai orang tua, kita hanya perlu bersabar dan jangan memarahi anak ketika menunjukkan gejala gagap.
• Gagap Menetap - Problem gagap ini biasanya dari usia 8 tahun sampai dewasa, bahkan sampai usia lanjut. Bila Sementara ini tidak disembuhkan tuntas, biasanya akan berlanjut sampai dewasa/tua. Penyebab masalahnya biasanya disebabkan oleh faktor psikologis, misalnya stress, kecemasan berlebihan, takut salah bicara, merasa rendah diri, merasa suaranya kurang enak didengar, merasa tidak percaya diri, dll.
Penyebab Gagap
Gagap bisa disebabkan oleh faktor fisik maupun psikologis. Penyebab fisik yaitu kemungkinan berasal dari keturunan yang menyebabkan ketidaksempurnaan secara fisik seperti gangguan pada syaraf bicara, gangguan alat bicara, keterbatasan lidah. Penyebab psikologis yaitu ketegangan yang berasal dari reaksi seseorang terhadap lingkungannya, stress mental karena sesuatu yang dirasakan tidak dapat dilakukannya.
Menurut penelitian, gagap lebih banyak disebabkan oleh faktor psikologis dibanding fisiologis. Trauma, ketakutan, kecemasan, dan kesedihan pada masa kecil bisa menyebabkan seseorang menjadi gagap sampai dewasa. Misalnya, anak yang kedua orang tuanya sering bertengkar, sehingga membuat anak takut, cemas, sedih, dan sering menangis. Cara bicara yang gagap ketika menangis bisa menjadi "kebiasaan" sampai dewasa.
Pengalaman kami membantu klien yang gagap lumayan banyak. Sehingga wajar apabila kami sama sekali tidak meragukan kemampuan kami untuk membantu klien yang menderita gagap. Bahkan kami memberi garansi kembali kepada setiap klien. Sebab itu, bagi Anda yang mengalami gagap dan sudah mencoba banyak cara untuk menghilangkan gagap tapi belum berhasil, bisa mencoba metode teknik penyembuhan gagap dengan hipnoterapi yang kami kembangkan.
Gagap
Gagap merupakan masalah pertuturan di mana sebutan (biasanya) huruf pertama atau syllable sesuatu perkataan diulang tanpa kawalan. Sebagai contoh, gagap pada perkataan "meja" akan menjadi samaada "m-m-m-m-...m-meja" or "me-me-me-me-...-me-meja". Ini biasanya berlaku dengan fenom bermula dengan /p/, /b/ atau konsonent plosive yang lain. Gagap merupakan proses luar sedar yang membantutkan komunikasi biasa. Walaupun terdapat teknik bantu diri yang boleh diajar , dan dapat membantu sesetengah orang, mereka yang gagap tidak dapat menghentikan proses tersebut, dan kerisauan atau kegelisahan meningkatkan lagi masaalah tersebut. Dalam bahasa Inggeris British iatilah stammering digunakan bagi merujuk kepada tersekat dan terhenti-henti pada sesuatu perkataan atau syllables sementara istilah stuttering digunakan bagi merujuk kepada pertuturan berulang seperti digambarkan di atas.
Sebab dan mula berlaku
Biasanya, gagap bermula awal sedikit sebelum remaja, dan kadang kala ia hilang selepas baligh. Bagaimanapun, jika ia berterusan sehingga usia matang, ia biasanya kekal selama-lamanya. Ia tiga kali lebih cenderung kepada kanak-kanak lelaki berbanding kanak-kanak perempuan untuk menghadapi masaalah ini. Gagap boleh dirawat melalui terapi pertuturan, tetapi keputusannya berbeza-beza. Biasanya, masaalah boleh berkurangan, tetapi tidak terdapat cara objektif untuk mengukur keputusannya
Gagap kadang kala bertukar menjadi tersekat, ia itu, walau huruf atau syllable pertama menjadi mustahil untuk disebut, contoh. tersekat. Ini sering mendorong kepada sebutan mengarut menggantikanm perkataan tersebut; menyebabkan syllables tiada makna menggantikan perkataan itu; sering kali memaksa cubaan berulang kali bagi menyebut perkataan tersebut; dan dalam kes melampau boleh menyebabkan seseorang gagap berhenti cuba menyebut perkataan tersebut dan menggantikannya dengan perkataan yang lain sama sekali. Penjelasan biasa yang digunakan adalah ketika cuba mengelakkan gagap atau bimbangkan kegagapan ketika menyebut menyebabkan gagal menyebutnya sama sekali. Ini juga merupakan tindakan luar kawal walaupun permulaan gagap kepada tersekat boleh juga separa maksud partly intentional.
Terdapat juga kemungkinan komponen genetik kepada gagap, kerana ia boleh diwarisi; walaupun tiada gen khusus dijumpai masa kini.
Pada masa lalu, masalah ini sering dikatakan masalah (psychological), seperti kanak-kanak belajar bertutur dan merasa bimbang akibat gagal mencari perkataan yang khusus. Ini disebabkan mereka yang gagap kadang-kala mampu bertutur secara normal, terutama ketika berada dalam keadaan tenang. Ini menunjukkan ia bukannya disebabkan kecacatan fizikal.
Barangkali pandangan meluas masa kini adalah ia disebabkan oleh masalah penyelarasan neural dalam otak. Penyelidikan terkini menunjukkan gagap berkait dengan ganguan fiber antara kawasan pertuturan dengan kawasan perancang pertuturan kedua-duanya di kiri sereberal hemisphere otak. Gangguan ini boleh disebabkan kerosakan otak awal atau kaitan genetik.
Gagap kemungkinannya disebabkan oleh (psychogenic) (berasal dalam pemikiran), walaupun ia jarang berlaku. Ia berlaku kepada mereka yang mempunyai masalah mental atau dalam keadaan tertekan.
Satu keadaan yang diketahui dengan jelas adalah is menjadi teruk dengan kebimbangan. Kebimbangan melampau juga boleh, walaupun jarang, menyebabkan ia timbul pada mereka yang tidak pernah gagap sebelum ini. Dikatakan, hanya cara untuk mengurangkan gagap adalah mengajar mereka bertenang. Ini dapat membenarkan mereka bertutur tanpa gagap sehingga sesuatu tekanan timbul. Pastinya tidak semua orang boleh diajar bertenang, dan bukan semua orang yang kelihatan bertenang akan menerima kebaikan yang jelas.
Sumber:
http://ms.wikipedia.org/wiki/Gagap
Sebab dan mula berlaku
Biasanya, gagap bermula awal sedikit sebelum remaja, dan kadang kala ia hilang selepas baligh. Bagaimanapun, jika ia berterusan sehingga usia matang, ia biasanya kekal selama-lamanya. Ia tiga kali lebih cenderung kepada kanak-kanak lelaki berbanding kanak-kanak perempuan untuk menghadapi masaalah ini. Gagap boleh dirawat melalui terapi pertuturan, tetapi keputusannya berbeza-beza. Biasanya, masaalah boleh berkurangan, tetapi tidak terdapat cara objektif untuk mengukur keputusannya
Gagap kadang kala bertukar menjadi tersekat, ia itu, walau huruf atau syllable pertama menjadi mustahil untuk disebut, contoh. tersekat. Ini sering mendorong kepada sebutan mengarut menggantikanm perkataan tersebut; menyebabkan syllables tiada makna menggantikan perkataan itu; sering kali memaksa cubaan berulang kali bagi menyebut perkataan tersebut; dan dalam kes melampau boleh menyebabkan seseorang gagap berhenti cuba menyebut perkataan tersebut dan menggantikannya dengan perkataan yang lain sama sekali. Penjelasan biasa yang digunakan adalah ketika cuba mengelakkan gagap atau bimbangkan kegagapan ketika menyebut menyebabkan gagal menyebutnya sama sekali. Ini juga merupakan tindakan luar kawal walaupun permulaan gagap kepada tersekat boleh juga separa maksud partly intentional.
Terdapat juga kemungkinan komponen genetik kepada gagap, kerana ia boleh diwarisi; walaupun tiada gen khusus dijumpai masa kini.
Pada masa lalu, masalah ini sering dikatakan masalah (psychological), seperti kanak-kanak belajar bertutur dan merasa bimbang akibat gagal mencari perkataan yang khusus. Ini disebabkan mereka yang gagap kadang-kala mampu bertutur secara normal, terutama ketika berada dalam keadaan tenang. Ini menunjukkan ia bukannya disebabkan kecacatan fizikal.
Barangkali pandangan meluas masa kini adalah ia disebabkan oleh masalah penyelarasan neural dalam otak. Penyelidikan terkini menunjukkan gagap berkait dengan ganguan fiber antara kawasan pertuturan dengan kawasan perancang pertuturan kedua-duanya di kiri sereberal hemisphere otak. Gangguan ini boleh disebabkan kerosakan otak awal atau kaitan genetik.
Gagap kemungkinannya disebabkan oleh (psychogenic) (berasal dalam pemikiran), walaupun ia jarang berlaku. Ia berlaku kepada mereka yang mempunyai masalah mental atau dalam keadaan tertekan.
Satu keadaan yang diketahui dengan jelas adalah is menjadi teruk dengan kebimbangan. Kebimbangan melampau juga boleh, walaupun jarang, menyebabkan ia timbul pada mereka yang tidak pernah gagap sebelum ini. Dikatakan, hanya cara untuk mengurangkan gagap adalah mengajar mereka bertenang. Ini dapat membenarkan mereka bertutur tanpa gagap sehingga sesuatu tekanan timbul. Pastinya tidak semua orang boleh diajar bertenang, dan bukan semua orang yang kelihatan bertenang akan menerima kebaikan yang jelas.
Sumber:
http://ms.wikipedia.org/wiki/Gagap
Gagap Ternyata Keturunan?
Dunia medis telah lama berusaha memecahkan alasan di balik fenomena gagap. Temuan terbaru menyebutkan, gagap ternyata ada dalam gen. Oh ya?
Beberapa ilmuwan medis, sempat menganggap gagap (stutter) adalah sebuah misteri. Selama puluhan tahun, mereka menyalahkan masalah emosional, orangtua yang tidak terlalu perhatian, dan guru yang menakutkan sebagai penyebabnya utamanya. Namun mereka kini telah menemukan gen-gen yang bisa menjelaskan beberapa kasus gagap.
“Ini merupakan langkah yang sangat penting,” papar Presiden Stuttering Foundation Jane Fraser, dalam hasil riset yang dirilis dalam New England Journal of Medicine pekan ini.
Periset yang ikut serta dalam studi pemerintah ini menemukan mutasi di tiga gen yang sepertinya menjadi penyebab masalah bicara di beberapa orang. Fenomena itu cenderung terjadi turun temurun dan riset-riset sebelumnya menunjukkan ada koneksi antargen. Hingga saat ini, periset masih belum bisa menemukan gen mana yang menjadi biang keroknya.
Seorang ahli genetika dan penulis senior studi ini, Dennis Drayna mengatakan, ia berharap hasil ini membantu meyakinkan mereka yang meragukan. Bahwa gagap merupakan masalah biologis. Dengan demikian, ada kemungkinan penyembuhan gagap dengan terapi enzim suatu hari kelak.
Sebelum ada penyebab yang jelas, gagap seringkali dikaitkan dengan beberapa hal. Seperti gugup (nervousness), kurang intelijensia, stres, dan bahkan bimbingan orangtua yang buruk (bad parenting). Pengidapnya mengatakan mereka tak bisa menghilangkan hal itu di kepala mereka. Fraser mengatakan, banyak orangtua yang anaknya gagap, menelepon dan khawatir mereka telah melakukan sesuatu yang buruk.
“Temuan ini bisa menghilangkan kekhawatiran mereka,” lanjut Fraser.
Sementara Drayna dan sejumlah ahli lainnya mengatakan stres dan kegelisahan bisa memperparah gagap. Ia meyakinkan, gagap bukanlah kelainan emosional. “Hal itu tidak datang dari interaksi dengan manusia lainnya,” imbuhnya.
Gagap biasanya dimulai ketika anak-anak belajar bicara. Beberapa tak lagi mengalaminya ketika otak mereka mulai tumbuh. Namun beberapa lainnya, masih tetap mengalaminya.
Drayna yang bekerja untuk Institute on Deafness and Other Communication Disorders mengakui, kelainan ini termasuk salah satu yang sulit dipelajari. Sebab, manusia sebagai obyek penelitiannya sehingga tak bisa diletakkan dalam tabung reaksi. Ia sendiri memulai studi itu dengan melihat secara umum, seperti sebuah keluarga asal Pakistan yang anggotanya banyak mengidap gagap.
Kemudian, ditemukan mutasi pada kromosom 12. Peneliti menemukan mutasi yang sama dan dua gen termutasi lainnya dalam sebuah kelompok yang terdiri dari 400 orang dari Pakistan, AS, dan Inggris yang juga menderita gagap. Pada kelompok sama yang tidak mengalami gagap, mereka tak menemukan kelainan pada gen tersebut. Kecuali satu orang relawan asal Pakistan.
Para ahli mengestimasi, tiga varian gen itu terdapat pada 9% dari seluruh kasus gagap. Tim itu memastikan, di antara 50%-70% kasus terdapat komponen genetis. Namun untuk lebih pastinya lagi, mereka hingga hari ini masih meneliti sejumlah kasus gagap. Seperti dikatakan Simon E Fisher dari Oxford University Inggris, yang merasa temuan ini barulah awal.
Tiga gen yang ditunjuk tim Amerika itu membantu kinerja semacam ‘tempat sampah’ di mana sel membuang ‘kotoran’. Dalam kasus gagap, mutasi merecoki proses itu dan mempengaruhi sel otak yang mengendalikan berbicara. “Selama puluhan tahun mencari penyebab gagap, tak ada satupun yang menyebutkan sel yang diwariskan sebagai salah satunya,” ujarnya.
Dua di antara gen itu sebelumnya juga dikaitkan dengan penyakit langka yang muncul ketika sel ‘tempat sampah’ tadi tidak berfungsi dengan baik. Beberapa kelainan serupa selama ini diobati dengan mengganti enzim yang hilang. Periset mengatakan, metode yang sama tampaknya bisa digunakan untuk terapi gagap.
Sumber:
http://www.inilah.com/news/read/gaya-hidup/2010/02/14/342131/gagap-ternyata-keturunan/
Beberapa ilmuwan medis, sempat menganggap gagap (stutter) adalah sebuah misteri. Selama puluhan tahun, mereka menyalahkan masalah emosional, orangtua yang tidak terlalu perhatian, dan guru yang menakutkan sebagai penyebabnya utamanya. Namun mereka kini telah menemukan gen-gen yang bisa menjelaskan beberapa kasus gagap.
“Ini merupakan langkah yang sangat penting,” papar Presiden Stuttering Foundation Jane Fraser, dalam hasil riset yang dirilis dalam New England Journal of Medicine pekan ini.
Periset yang ikut serta dalam studi pemerintah ini menemukan mutasi di tiga gen yang sepertinya menjadi penyebab masalah bicara di beberapa orang. Fenomena itu cenderung terjadi turun temurun dan riset-riset sebelumnya menunjukkan ada koneksi antargen. Hingga saat ini, periset masih belum bisa menemukan gen mana yang menjadi biang keroknya.
Seorang ahli genetika dan penulis senior studi ini, Dennis Drayna mengatakan, ia berharap hasil ini membantu meyakinkan mereka yang meragukan. Bahwa gagap merupakan masalah biologis. Dengan demikian, ada kemungkinan penyembuhan gagap dengan terapi enzim suatu hari kelak.
Sebelum ada penyebab yang jelas, gagap seringkali dikaitkan dengan beberapa hal. Seperti gugup (nervousness), kurang intelijensia, stres, dan bahkan bimbingan orangtua yang buruk (bad parenting). Pengidapnya mengatakan mereka tak bisa menghilangkan hal itu di kepala mereka. Fraser mengatakan, banyak orangtua yang anaknya gagap, menelepon dan khawatir mereka telah melakukan sesuatu yang buruk.
“Temuan ini bisa menghilangkan kekhawatiran mereka,” lanjut Fraser.
Sementara Drayna dan sejumlah ahli lainnya mengatakan stres dan kegelisahan bisa memperparah gagap. Ia meyakinkan, gagap bukanlah kelainan emosional. “Hal itu tidak datang dari interaksi dengan manusia lainnya,” imbuhnya.
Gagap biasanya dimulai ketika anak-anak belajar bicara. Beberapa tak lagi mengalaminya ketika otak mereka mulai tumbuh. Namun beberapa lainnya, masih tetap mengalaminya.
Drayna yang bekerja untuk Institute on Deafness and Other Communication Disorders mengakui, kelainan ini termasuk salah satu yang sulit dipelajari. Sebab, manusia sebagai obyek penelitiannya sehingga tak bisa diletakkan dalam tabung reaksi. Ia sendiri memulai studi itu dengan melihat secara umum, seperti sebuah keluarga asal Pakistan yang anggotanya banyak mengidap gagap.
Kemudian, ditemukan mutasi pada kromosom 12. Peneliti menemukan mutasi yang sama dan dua gen termutasi lainnya dalam sebuah kelompok yang terdiri dari 400 orang dari Pakistan, AS, dan Inggris yang juga menderita gagap. Pada kelompok sama yang tidak mengalami gagap, mereka tak menemukan kelainan pada gen tersebut. Kecuali satu orang relawan asal Pakistan.
Para ahli mengestimasi, tiga varian gen itu terdapat pada 9% dari seluruh kasus gagap. Tim itu memastikan, di antara 50%-70% kasus terdapat komponen genetis. Namun untuk lebih pastinya lagi, mereka hingga hari ini masih meneliti sejumlah kasus gagap. Seperti dikatakan Simon E Fisher dari Oxford University Inggris, yang merasa temuan ini barulah awal.
Tiga gen yang ditunjuk tim Amerika itu membantu kinerja semacam ‘tempat sampah’ di mana sel membuang ‘kotoran’. Dalam kasus gagap, mutasi merecoki proses itu dan mempengaruhi sel otak yang mengendalikan berbicara. “Selama puluhan tahun mencari penyebab gagap, tak ada satupun yang menyebutkan sel yang diwariskan sebagai salah satunya,” ujarnya.
Dua di antara gen itu sebelumnya juga dikaitkan dengan penyakit langka yang muncul ketika sel ‘tempat sampah’ tadi tidak berfungsi dengan baik. Beberapa kelainan serupa selama ini diobati dengan mengganti enzim yang hilang. Periset mengatakan, metode yang sama tampaknya bisa digunakan untuk terapi gagap.
Sumber:
http://www.inilah.com/news/read/gaya-hidup/2010/02/14/342131/gagap-ternyata-keturunan/
Mengatasi Kecemasan pada Anak
KECEMASAN pada anak berhubungan dengan keterampilan sosial. Semakin tidak terampil, si buah hati akan merasa takut berada di lingkungan baru. Bagaimana mengatasinya?
Orangtua Budi, 6, sama sekali tidak menyangka jika hari pertama ke sekolah menjadi hari paling menakutkan bagi buah hatinya. Bagaimana tidak, Budi yang biasanya ceria, setiap pagi selalu bangun dengan tawa yang menghiasi wajah, sekarang malah menangis begitu memasuki halaman sekolah.
Budi seakan takut menginjakkan kaki di sekolah. Tangisnya semakin menjadi-jadi ketika menyaksikan anak-anak seusianya yang tidak dikenal. Budi semakin kencang bergelayutan di pangkuan ibunya, seakan tidak ingin ditinggalkan. Kondisi tersebut tentu saja membuat orangtua Budi sangat heran dan sama sekali tidak menyangka bahwa buah hatinya akan setakut itu berada di lingkungan baru.
Kejadian itu sebenarnya wajar dialami anak-anak. Sebab, masa awal anak-anak (early childhood) merupakan periode perkembangan yang terentang dari akhir masa bayi hingga usia kira-kira 5 atau 6 tahun.
Pada masa ini, anak mulai belajar untuk mandiri, mengembangkan berbagai keterampilan seperti pengenalan huruf, mematuhi perintah, dan menghabiskan waktu dengan bermain, terutama dengan teman sebayanya. Periode ini disebut juga tahun-tahun prasekolah, karena merupakan masa persiapan bagi anak untuk memasuki sekolah dasar.
Taman kanak-kanak merupakan tempat yang tepat bagi anakanak untuk mempersiapkan dirinya sebelum memasuki sekolah dasar.
Taman kanak-kanak merupakan salah satu media yang bisa menyediakan fasilitas yang dibutuhkan anak dalam mengembangkan fungsi intelektual dan potensi lain yang dimilikinya. Selain itu, anak akan mulai belajar untuk dapat menguasai lingkungan sosial yang lebih luas daripada lingkungan keluarga.
Pertama kali anak memasuki lingkungan baru di antaranya taman kanak-kanak, umumnya mereka mengalami ketakutan dan kekhawatiran. Manifestasi dari perasaan takut ini bisa menimbulkan macam-macam gejala gangguan, antara lain berupa, kejang atau sakit pada perut, sering buang air besar, sering kencing, sakit kepala, dan timbulnya tics (gerak-gerak facial pada wajah, misalnya berkedip, bergeleng-geleng, berkenyit atau anak jadi cepat marah. Ada kalanya anak juga jadi pemurung dan penakut.
Hasil survei awal yang dilakukan peneliti menunjukkan bahwa pada minggu-minggu pertama anak memasuki taman kanak-kanak, beberapa anak menangis karena harus berpisah dengan orangtuanya, anak tidak ingin ditinggal orangtuanya, anak menjadi pendiam dan pemalu, dan juga anak datang ke sekolah dengan wajah murung. Fenomena ini bukan hanya terjadi di Indonesia, melainkan juga di Amerika Serikat, di mana banyak ditemui anak-anak yang mengeluh dan menolak untuk pergi ke sekolah.
Penolakan tersebut ditunjukkan dengan munculnya keluhan anak seperti sakit perut setiap Senin pagi, anak terlihat enggan dan harus dipaksa berangkat ke sekolah, anak dengan sengaja melupakan sesuatu supaya terlambat pergi ke sekolah, anak sering berkata benci sekolah atau tidak ingin berangkat sekolah, dan ketika berada di sekolah selalu mengatakan ingin pulang.
"Ketakutan yang menghinggapi anak-anak ketika berada dalam lingkungan baru itu, menan- dakan bahwa sebenarnya anak belum siap dan kurangnya sosialisasi dari orangtua," kata Psikolog Anak Alumni Universitas Indonesia (UI) Dr Farah Agustin.
Farah menambahkan, sosialisasi yang dapat dilakukan orangtua seharusnya adalah dengan sering bercerita kepada anak bahwa lingkungannya yang baru adalah sebuah tempat yang menyenangkan dan membuat anak jadi lebih pandai.
"Dibutuhkan kesabaran bagi orangtua, karena tidak semua anak bisa beradaptasi dengan cepat di lingkungan barunya," terang dia.
Perilaku anak yang muncul terkait dengan penolakan untuk ke sekolah jika berlangsung dalam waktu yang panjang dan terjadi pada usia pertumbuhan, imbuh Farah, bukanlah suatu hal yang bisa dianggap ringan, tetapi mengarah pada masalah yang lebih serius. Salah satunya adalah perasaan cemas yang dialami saat akan masuk sekolah. Dan berdasarkan data penelitian tahun 2003 di Amerika Serikat, menunjukkan bahwa gangguan kecemasan adalah salah satu bentuk penyakit jiwa terbanyak yang dialami anak-anak dan 10 persen di antaranya membutuhkan perawatan medis.
Jadi, risiko anak-anak prasekolah di Amerika Serikat untuk terkena gangguan kecemasan bisa naik di atas 10 persen.
Kecemasan ini sendiri dapat berpengaruh negatif pada diri anak dalam jangka panjang, di antaranya hilangnya kepercayaan diri, sulit untuk bersosialisasi, perasaan tidak berdaya, anak terlihat menjadi pemurung, dan tidak jarang muncul perasaan khawatir.
Kecemasan masuk sekolah secara sederhana dapat diartikan sebagai bagian dari kecemasan umum akibat rasa takut berpisah dari ibu atau pengganti ibu, dan ketidakmampuan berdiri sendiri. Sedangkan menurut Kendall, Howard, dan Epps (dalam Goldstein, 1995), kecemasan yang dialami anak- anak dapat berpengaruh pada peran anak di rumah, di sekolah, ataupun dengan teman sebayanya.
Untuk mengatasi dan menghindari rasa cemas ini, anak-anak menggunakan berbagai macam teknik atau cara, di antaranya dengan memilih tetap tinggal di rumah daripada ke sekolah yang didasarkan pada alasan-alasan yang negatif. Kecemasan yang selalu melekat pada pikiran anakanak biasanya disebabkan adanya gangguan-gangguan yang datang dari sekolah. Anak mencoba untuk menghindari gangguan tersebut dengan menolak ke sekolah.
Meskipun demikian, penolakan untuk ke sekolah tetap merupakan perilaku yang negatif pada anak-anak. Sebab, salah satu penyebab anak-anak mengalami kecemasan masuk sekolah adalah adanya sesuatu yang mengganggu mereka, antara lain adanya permasalahan pada guru atau dengan teman, ketidakmampuan belajar, perubahan di rumah, tidak ingin ditinggalkan orangtua, perasaan malu, merasa gugup di sekolah, kelas atau situasi sekolah yang baru, tugas-tugas sekolah yang terlalu mudah dan membosankan, tugastugas sekolah yang terlalu sulit dan membuat frustrasi.
Hal ini sejalan dengan pendapat Hurlock (1993) yang mengatakan bahwa rasa cemas akan cenderung meningkat bila tiba saatnya ke sekolah dan beberapa yang disebabkan aspek situasi di sekolah. "Cara mengatasinya adalah orangtua harus mengetahui apa yang menjadi permasalahan anak-anak mereka. Kalau perlu, lakukan pendekatan kepada guru dan teman-temannya. Selain itu, bertanyalah tentang bagaimana tingkah laku anak ketika berada di sekolah," tutur psikolog berkacamata tersebut.
Sumber:
http://lifestyle.okezone.com/read/2009/07/16/196/239224/mengatasi-kecemasan-pada-anak
Orangtua Budi, 6, sama sekali tidak menyangka jika hari pertama ke sekolah menjadi hari paling menakutkan bagi buah hatinya. Bagaimana tidak, Budi yang biasanya ceria, setiap pagi selalu bangun dengan tawa yang menghiasi wajah, sekarang malah menangis begitu memasuki halaman sekolah.
Budi seakan takut menginjakkan kaki di sekolah. Tangisnya semakin menjadi-jadi ketika menyaksikan anak-anak seusianya yang tidak dikenal. Budi semakin kencang bergelayutan di pangkuan ibunya, seakan tidak ingin ditinggalkan. Kondisi tersebut tentu saja membuat orangtua Budi sangat heran dan sama sekali tidak menyangka bahwa buah hatinya akan setakut itu berada di lingkungan baru.
Kejadian itu sebenarnya wajar dialami anak-anak. Sebab, masa awal anak-anak (early childhood) merupakan periode perkembangan yang terentang dari akhir masa bayi hingga usia kira-kira 5 atau 6 tahun.
Pada masa ini, anak mulai belajar untuk mandiri, mengembangkan berbagai keterampilan seperti pengenalan huruf, mematuhi perintah, dan menghabiskan waktu dengan bermain, terutama dengan teman sebayanya. Periode ini disebut juga tahun-tahun prasekolah, karena merupakan masa persiapan bagi anak untuk memasuki sekolah dasar.
Taman kanak-kanak merupakan tempat yang tepat bagi anakanak untuk mempersiapkan dirinya sebelum memasuki sekolah dasar.
Taman kanak-kanak merupakan salah satu media yang bisa menyediakan fasilitas yang dibutuhkan anak dalam mengembangkan fungsi intelektual dan potensi lain yang dimilikinya. Selain itu, anak akan mulai belajar untuk dapat menguasai lingkungan sosial yang lebih luas daripada lingkungan keluarga.
Pertama kali anak memasuki lingkungan baru di antaranya taman kanak-kanak, umumnya mereka mengalami ketakutan dan kekhawatiran. Manifestasi dari perasaan takut ini bisa menimbulkan macam-macam gejala gangguan, antara lain berupa, kejang atau sakit pada perut, sering buang air besar, sering kencing, sakit kepala, dan timbulnya tics (gerak-gerak facial pada wajah, misalnya berkedip, bergeleng-geleng, berkenyit atau anak jadi cepat marah. Ada kalanya anak juga jadi pemurung dan penakut.
Hasil survei awal yang dilakukan peneliti menunjukkan bahwa pada minggu-minggu pertama anak memasuki taman kanak-kanak, beberapa anak menangis karena harus berpisah dengan orangtuanya, anak tidak ingin ditinggal orangtuanya, anak menjadi pendiam dan pemalu, dan juga anak datang ke sekolah dengan wajah murung. Fenomena ini bukan hanya terjadi di Indonesia, melainkan juga di Amerika Serikat, di mana banyak ditemui anak-anak yang mengeluh dan menolak untuk pergi ke sekolah.
Penolakan tersebut ditunjukkan dengan munculnya keluhan anak seperti sakit perut setiap Senin pagi, anak terlihat enggan dan harus dipaksa berangkat ke sekolah, anak dengan sengaja melupakan sesuatu supaya terlambat pergi ke sekolah, anak sering berkata benci sekolah atau tidak ingin berangkat sekolah, dan ketika berada di sekolah selalu mengatakan ingin pulang.
"Ketakutan yang menghinggapi anak-anak ketika berada dalam lingkungan baru itu, menan- dakan bahwa sebenarnya anak belum siap dan kurangnya sosialisasi dari orangtua," kata Psikolog Anak Alumni Universitas Indonesia (UI) Dr Farah Agustin.
Farah menambahkan, sosialisasi yang dapat dilakukan orangtua seharusnya adalah dengan sering bercerita kepada anak bahwa lingkungannya yang baru adalah sebuah tempat yang menyenangkan dan membuat anak jadi lebih pandai.
"Dibutuhkan kesabaran bagi orangtua, karena tidak semua anak bisa beradaptasi dengan cepat di lingkungan barunya," terang dia.
Perilaku anak yang muncul terkait dengan penolakan untuk ke sekolah jika berlangsung dalam waktu yang panjang dan terjadi pada usia pertumbuhan, imbuh Farah, bukanlah suatu hal yang bisa dianggap ringan, tetapi mengarah pada masalah yang lebih serius. Salah satunya adalah perasaan cemas yang dialami saat akan masuk sekolah. Dan berdasarkan data penelitian tahun 2003 di Amerika Serikat, menunjukkan bahwa gangguan kecemasan adalah salah satu bentuk penyakit jiwa terbanyak yang dialami anak-anak dan 10 persen di antaranya membutuhkan perawatan medis.
Jadi, risiko anak-anak prasekolah di Amerika Serikat untuk terkena gangguan kecemasan bisa naik di atas 10 persen.
Kecemasan ini sendiri dapat berpengaruh negatif pada diri anak dalam jangka panjang, di antaranya hilangnya kepercayaan diri, sulit untuk bersosialisasi, perasaan tidak berdaya, anak terlihat menjadi pemurung, dan tidak jarang muncul perasaan khawatir.
Kecemasan masuk sekolah secara sederhana dapat diartikan sebagai bagian dari kecemasan umum akibat rasa takut berpisah dari ibu atau pengganti ibu, dan ketidakmampuan berdiri sendiri. Sedangkan menurut Kendall, Howard, dan Epps (dalam Goldstein, 1995), kecemasan yang dialami anak- anak dapat berpengaruh pada peran anak di rumah, di sekolah, ataupun dengan teman sebayanya.
Untuk mengatasi dan menghindari rasa cemas ini, anak-anak menggunakan berbagai macam teknik atau cara, di antaranya dengan memilih tetap tinggal di rumah daripada ke sekolah yang didasarkan pada alasan-alasan yang negatif. Kecemasan yang selalu melekat pada pikiran anakanak biasanya disebabkan adanya gangguan-gangguan yang datang dari sekolah. Anak mencoba untuk menghindari gangguan tersebut dengan menolak ke sekolah.
Meskipun demikian, penolakan untuk ke sekolah tetap merupakan perilaku yang negatif pada anak-anak. Sebab, salah satu penyebab anak-anak mengalami kecemasan masuk sekolah adalah adanya sesuatu yang mengganggu mereka, antara lain adanya permasalahan pada guru atau dengan teman, ketidakmampuan belajar, perubahan di rumah, tidak ingin ditinggalkan orangtua, perasaan malu, merasa gugup di sekolah, kelas atau situasi sekolah yang baru, tugas-tugas sekolah yang terlalu mudah dan membosankan, tugastugas sekolah yang terlalu sulit dan membuat frustrasi.
Hal ini sejalan dengan pendapat Hurlock (1993) yang mengatakan bahwa rasa cemas akan cenderung meningkat bila tiba saatnya ke sekolah dan beberapa yang disebabkan aspek situasi di sekolah. "Cara mengatasinya adalah orangtua harus mengetahui apa yang menjadi permasalahan anak-anak mereka. Kalau perlu, lakukan pendekatan kepada guru dan teman-temannya. Selain itu, bertanyalah tentang bagaimana tingkah laku anak ketika berada di sekolah," tutur psikolog berkacamata tersebut.
Sumber:
http://lifestyle.okezone.com/read/2009/07/16/196/239224/mengatasi-kecemasan-pada-anak
Mengatasi Depresi Pada Anak-Anak
Anak Anda yang berusia 3 tahun ternyata tidak seriang biasanya, ia tidak ‘ceriwis’ saat pagi tiba, bukan tidak mungkin ia juga menolak untuk makan.
Daripada bercanda bersama saudara-saudaranya, atau menggambar di bukunya, ia cenderung berada di tepi jendela sambil menatap kosong ke luar, mungkinkah seorang balita mengalami depresi?
Seperti kebanyakan orang lainnya, Anda mungkin berasumsi kalau anak pra sekolah terlalu kecil untuk merasa sedih. Tapi ada penelitian terbaru yang menyatakan bahwa depresi klinis itu ternyata tidak mengenal usia. Depresi – bahkan keinginan untuk bunuh diri – sama berpengaruhnya pada balita dan remaja seperti pada orang dewasa.
Para peneliti di Washington University School of Medicine, mengemukakan bahwa anak-anak mengalami symptom depresi yang sama seperti yang sering ditemukan pada orang dewasa, bahkan sama tingkat keparahannya. Menurut the National Mental Health Association, satu dari tiga anak di Amerika menderita depresi. Namun, walaupun sudah berbicara mengenai statistik, depresi tetap merupakan penyakit yang tak terdeteksi dan tak terawat antara anak-anak dan remaja.
Tidak seperti bintik-bintik merah pada penyakit campak, atau hidung yang memerah pada penyakit flu, simptom depresi tidaklah terlalu kongkrit, dan sebagai konsekuensinya, seringkali hal ini tidak terdeteksi oleh orang tua.
Apa sih tanda-tanda depresi kanak-kanak? Apa saja perilaku yang perlu diawasi oleh orang tua? Biasanya anak-anak yang menderita depresi secara persisten selalu terganggu, menarik diri, dan lethargic, kata Dr Elizabeth Rody, direktur medis serta psikiater anak dan remaja untuk Magellan Behavioral Health di New Jersey.
Anak yang depresi juga kehilangan minat untuk melakukan kegiatan yang sebelumnya sangat mereka sukai, sementara simptom lainnya meliputi :
• Tangis terus menerus dan kesedihan persisten
• Kurangnya antusiasme atau motivasi
• Meningkatnya kemarahan
• Kelelahan kronis atau kekurangan energi
• Menarik diri dari keluarga, teman dan aktivitas yang tadinya disukai
• Perubahan kebiasaan makan dan tidur (adanya kenaikan atau penurunan berat tubuh yang terlihat jelas, suka sekali tidur, sulit tidur)
• Keluhan yang sangat sering mengenai masalah fisik, seperti sakit perut atau pusing
• Kurangnya konsentrasi dan suka lupa
• Perasaan tidak berharga atau perasaan bersalah yang berlebihan
• Sensitifitas berlebihan sampai penolakan atau kegagalan
• Perkembangan mayor yang tertunda (pada balita – tidak berjalan, berbicara atau mengekspresikan diri )
• Bermain yang melibatkan kekerasan, baik terhadap diri sendiri maupun orang lain, atau dengan tema yang sedih.
• Seringnya muncul pembicaraan mengenai kematian atau bunuh diri.
Tidaklah biasa bagi anak-anak untuk tetap merasa bersedih dari waktu ke waktu. Dengan mengetahui ini, bagaimana orang tua dapat membedakan fluktuasi mood normal dari depresi yang serius? Jawabannya adalah pada durasi dari perilaku depresif tersebut.
Menurut Mental Health: A Report of the Surgeon General, anak-anak depresi mengalami episode depresi yang biasanya bertahan dari tujuh sampai sembilan bulan, meskipun beberapa ahli perkembangan anak yang mengatakan bahwa perilaku depresif yang bertahan lebih dari dua minggu memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.
Tapi bagaimana pun juga, paling baik adalah untuk membiarkan profesional di bagian kesehatan mental untuk memutuskannya.
Depresi bukanlah satu-satunya alasan adanya perilaku ‘nakal’ anak. Masalah fisiologis, seperti malnutrisi, mononucleosis, alergi dan penyakit lainnya dapat menimbulkan mood yang marah-marah, keletihan dan penarikan diri. Ini mengapa Rody menekankan bahwa orang tua harus membawa anak mereka kepada dokter keluarga terlebih dulu, sebelum membuat janji dengan seorang profesional kesehatan mental.
Bila ternyata anak Anda bukan mengalami masalah kesehatan umum, maka langkah selanjutnya adalah untuk membuat janji dengan psikiater atau psikolog anak dan remaja untuk evaluasi. Sebagai tambahan dari serangkaian tes psikologis dan kerja darah, orang tua juga harus siap untuk me-review seluruh sejarah kesehatan anak.
Meskipun penyebab pasti dari depresi kanak-kanak tidak juga diketahui, penelitian depresi pada orang dewasa menyatakan bahwa tergantung pada predisposisi genetis dan pengaruh lingkungan. "Sebagian dari lingkungan dan genetik," kata Rody. "Bila dibandingkan antara depresi dengan penyakit jantung. Anda dapat memiliki sejarah sakit jantung di keluarga dan pada waktu yang sama Anda tidak menjaga pola hidup Anda. Keduanya mungkin menyebabkan Anda terkena serangan jantung. Depresi juga seperti itu, disebabkan oleh kombinasi kompleks dari berbagai faktor."
Anak-anak yang orang tua atau/dan saudaranya menderita depresi lebih mungkin mengembangkan simptom penyakit ini. Tidak mampu belajar (Learning disabilities), seperti tidak mampu berkonsentrasi/hiperaktif, Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) dan disleksia juga berkontribusi pada timbulnya depresi kanak-kanak. Faktor lingkungan yang membuat anak-anak berisiko menderita gangguan depresi meliputi pelecehan fisik, seksual, dan verbal, anak yang terlantar dan adanya sejarah pemakaian obat-obatan dalam keluarga.
Perceraian serta kehilangan orang yang dicintai juga dapat menimbulkan emosi yang labil pada anak-anak, tapi tidak selalu merupakan penyebab depresi.
Meskipun anak Anda baru balita, emosinya sangatlah nyata. Para ahli percaya bahwa makin banyak orang tua memberi perhatian pada perasaan anaknya, maka makin baiklah kemampuannya untuk mencari bantuan pada depresi. "Jika anak Anda mengatakan, ‘saya sangat sedih dan ingin lompat dari jendela’, sebaiknya Anda memandang perkataan ini secara serius, " kata Rody memperingatkan.
Tanyakan pada anak Anda hal-hal di bawah ini untuk mengetahui penyebab kesedihan anak Anda :
• Apa yang terjadi hari ini sehingga kamu sangat sedih?
• Apa yang membuat kamu bahagia?
• Apa sih yang kamu cari?
• Apa yang kamu inginkan terjadi padamu?
• Jika kamu dapat mengubah dirimu, apa yang ingin kamu ubah?
Perawatan bagi anak dan remaja yang menderita depresi termasuk kombinasi dari psikoterapi individu dan konseling keluarga. Supaya optimal, menurut Rody, terapi haruslah melibatkan orang tua, saudara dan orang yang penting dalam kehidupan sang anak, seperti guru dan kakek-nenek.
Perawatan lainnya meliputi terapi bermain, evaluasi berkelanjutan dan pada beberapa kasus, menggunakan obat. Obat antidepresi seringkali digunakan untuk merawat kasus depresi menengah. Yang penting juga, belumlah diijinkan untuk memberikan obat antidepresi pada anak di bawah usia 8 tahun.
Sumber:
http://www.kapanlagi.com/a/mengatasi-depresi-pada-anak-anak.html
Daripada bercanda bersama saudara-saudaranya, atau menggambar di bukunya, ia cenderung berada di tepi jendela sambil menatap kosong ke luar, mungkinkah seorang balita mengalami depresi?
Seperti kebanyakan orang lainnya, Anda mungkin berasumsi kalau anak pra sekolah terlalu kecil untuk merasa sedih. Tapi ada penelitian terbaru yang menyatakan bahwa depresi klinis itu ternyata tidak mengenal usia. Depresi – bahkan keinginan untuk bunuh diri – sama berpengaruhnya pada balita dan remaja seperti pada orang dewasa.
Para peneliti di Washington University School of Medicine, mengemukakan bahwa anak-anak mengalami symptom depresi yang sama seperti yang sering ditemukan pada orang dewasa, bahkan sama tingkat keparahannya. Menurut the National Mental Health Association, satu dari tiga anak di Amerika menderita depresi. Namun, walaupun sudah berbicara mengenai statistik, depresi tetap merupakan penyakit yang tak terdeteksi dan tak terawat antara anak-anak dan remaja.
Tidak seperti bintik-bintik merah pada penyakit campak, atau hidung yang memerah pada penyakit flu, simptom depresi tidaklah terlalu kongkrit, dan sebagai konsekuensinya, seringkali hal ini tidak terdeteksi oleh orang tua.
Apa sih tanda-tanda depresi kanak-kanak? Apa saja perilaku yang perlu diawasi oleh orang tua? Biasanya anak-anak yang menderita depresi secara persisten selalu terganggu, menarik diri, dan lethargic, kata Dr Elizabeth Rody, direktur medis serta psikiater anak dan remaja untuk Magellan Behavioral Health di New Jersey.
Anak yang depresi juga kehilangan minat untuk melakukan kegiatan yang sebelumnya sangat mereka sukai, sementara simptom lainnya meliputi :
• Tangis terus menerus dan kesedihan persisten
• Kurangnya antusiasme atau motivasi
• Meningkatnya kemarahan
• Kelelahan kronis atau kekurangan energi
• Menarik diri dari keluarga, teman dan aktivitas yang tadinya disukai
• Perubahan kebiasaan makan dan tidur (adanya kenaikan atau penurunan berat tubuh yang terlihat jelas, suka sekali tidur, sulit tidur)
• Keluhan yang sangat sering mengenai masalah fisik, seperti sakit perut atau pusing
• Kurangnya konsentrasi dan suka lupa
• Perasaan tidak berharga atau perasaan bersalah yang berlebihan
• Sensitifitas berlebihan sampai penolakan atau kegagalan
• Perkembangan mayor yang tertunda (pada balita – tidak berjalan, berbicara atau mengekspresikan diri )
• Bermain yang melibatkan kekerasan, baik terhadap diri sendiri maupun orang lain, atau dengan tema yang sedih.
• Seringnya muncul pembicaraan mengenai kematian atau bunuh diri.
Tidaklah biasa bagi anak-anak untuk tetap merasa bersedih dari waktu ke waktu. Dengan mengetahui ini, bagaimana orang tua dapat membedakan fluktuasi mood normal dari depresi yang serius? Jawabannya adalah pada durasi dari perilaku depresif tersebut.
Menurut Mental Health: A Report of the Surgeon General, anak-anak depresi mengalami episode depresi yang biasanya bertahan dari tujuh sampai sembilan bulan, meskipun beberapa ahli perkembangan anak yang mengatakan bahwa perilaku depresif yang bertahan lebih dari dua minggu memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.
Tapi bagaimana pun juga, paling baik adalah untuk membiarkan profesional di bagian kesehatan mental untuk memutuskannya.
Depresi bukanlah satu-satunya alasan adanya perilaku ‘nakal’ anak. Masalah fisiologis, seperti malnutrisi, mononucleosis, alergi dan penyakit lainnya dapat menimbulkan mood yang marah-marah, keletihan dan penarikan diri. Ini mengapa Rody menekankan bahwa orang tua harus membawa anak mereka kepada dokter keluarga terlebih dulu, sebelum membuat janji dengan seorang profesional kesehatan mental.
Bila ternyata anak Anda bukan mengalami masalah kesehatan umum, maka langkah selanjutnya adalah untuk membuat janji dengan psikiater atau psikolog anak dan remaja untuk evaluasi. Sebagai tambahan dari serangkaian tes psikologis dan kerja darah, orang tua juga harus siap untuk me-review seluruh sejarah kesehatan anak.
Meskipun penyebab pasti dari depresi kanak-kanak tidak juga diketahui, penelitian depresi pada orang dewasa menyatakan bahwa tergantung pada predisposisi genetis dan pengaruh lingkungan. "Sebagian dari lingkungan dan genetik," kata Rody. "Bila dibandingkan antara depresi dengan penyakit jantung. Anda dapat memiliki sejarah sakit jantung di keluarga dan pada waktu yang sama Anda tidak menjaga pola hidup Anda. Keduanya mungkin menyebabkan Anda terkena serangan jantung. Depresi juga seperti itu, disebabkan oleh kombinasi kompleks dari berbagai faktor."
Anak-anak yang orang tua atau/dan saudaranya menderita depresi lebih mungkin mengembangkan simptom penyakit ini. Tidak mampu belajar (Learning disabilities), seperti tidak mampu berkonsentrasi/hiperaktif, Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) dan disleksia juga berkontribusi pada timbulnya depresi kanak-kanak. Faktor lingkungan yang membuat anak-anak berisiko menderita gangguan depresi meliputi pelecehan fisik, seksual, dan verbal, anak yang terlantar dan adanya sejarah pemakaian obat-obatan dalam keluarga.
Perceraian serta kehilangan orang yang dicintai juga dapat menimbulkan emosi yang labil pada anak-anak, tapi tidak selalu merupakan penyebab depresi.
Meskipun anak Anda baru balita, emosinya sangatlah nyata. Para ahli percaya bahwa makin banyak orang tua memberi perhatian pada perasaan anaknya, maka makin baiklah kemampuannya untuk mencari bantuan pada depresi. "Jika anak Anda mengatakan, ‘saya sangat sedih dan ingin lompat dari jendela’, sebaiknya Anda memandang perkataan ini secara serius, " kata Rody memperingatkan.
Tanyakan pada anak Anda hal-hal di bawah ini untuk mengetahui penyebab kesedihan anak Anda :
• Apa yang terjadi hari ini sehingga kamu sangat sedih?
• Apa yang membuat kamu bahagia?
• Apa sih yang kamu cari?
• Apa yang kamu inginkan terjadi padamu?
• Jika kamu dapat mengubah dirimu, apa yang ingin kamu ubah?
Perawatan bagi anak dan remaja yang menderita depresi termasuk kombinasi dari psikoterapi individu dan konseling keluarga. Supaya optimal, menurut Rody, terapi haruslah melibatkan orang tua, saudara dan orang yang penting dalam kehidupan sang anak, seperti guru dan kakek-nenek.
Perawatan lainnya meliputi terapi bermain, evaluasi berkelanjutan dan pada beberapa kasus, menggunakan obat. Obat antidepresi seringkali digunakan untuk merawat kasus depresi menengah. Yang penting juga, belumlah diijinkan untuk memberikan obat antidepresi pada anak di bawah usia 8 tahun.
Sumber:
http://www.kapanlagi.com/a/mengatasi-depresi-pada-anak-anak.html
Kecemasan Karena Berpisah
Kecemasan Karena Berpisah adalah kecemasan yang dirasakan oleh anak ketika orang tuanya meninggalkannya sendiri.
Menangis ketika ditinggalkan oleh ibunya atau menangis jika didekati orang yang tidak dikenalnya, merupakan suatu tahap perkembangan normal yang ditemukan pada bayi usia 8 bulan dan berlangsung sampai usia 18-24 bulan.
Pada umur 2 tahun, anak batita (dibawah tiga tahun) mulai memahami bahwa orang tuanya mungkin tidak terlihat oleh mata tetapi mereka pasti akan kembali.
Pada saat bayi berkembang dan lebih memperhatikan serta berinteraksi dengan lingkungannya, dia akan mengalami berbagai emosi seperti rasa percaya, rasa aman dan nyaman. Jika dia merasa kurang akrab dengan lingkungannya, maka akan timbul rasa takut.
Pada usia 8-24 bulan, anak-anak mengalami perasaan takut jika tidak berada dalam lingkungan yang akrab dan aman. Mereka mengenal orang tuanya sebagai lingkungan yang akrab dan aman. Jika berpisah dari orang tua, mereka merasa terancam dan tidak aman.
Gejalanya bisa berupa:
- Kesedihan berlebih ketika berpisah dengan ibu
- Khawatir akan kehilangan atau terjadi sesuatu yang buruk pada ibu
- Sering enggan pergi ke sekolah atau tempat lainnya karena takut berpisah
- Tidak mau tidur jika tidak ditemani oleh orang dewasa
- Mimpi buruk
- Sering mengeluhkan keadaan fisiknya
Beberapa orang tua (terutama yang baru pertama kali memiliki anak) menduga bahwa kecemasan karena berpisah ini merupakan suatu gangguan emosional dan mereka menghadapinya dengan bersikap protektif. Sang ayah mengartikan kecemasan karena berpisah sebagai pertanda bahwa anak terlalu dimanja dan menyalahkan ibunya atau mencoba untuk merubah perilaku anak dengan cara memarahi dan memberi hukuman.
Sebaiknya orang tua diyakinkan bahwa perilaku anak adalah normal.
Orang tua didorong untuk tidak terlalu protektif dan mengekang anak serta dianjurkan untuk membiarkan anaknya berkembang secara normal.
Penyelesaian terhadap masalah kecemasan ini tergantung kepada rasa aman dan rasa percaya yang mereka miliki terhadap orang selain orang tuanya, lingkungannya dan keyakinan akan kembalinya orang tua mereka.
Meskipun anak telah berhasil melewati masa perkembangan ini, kecemasan karena berpisah mungkin akan kembali pada saat anak mengalami stres. Kebanyakan anak akan mengalami kecemasan jika berada dalam situasi yang tidak dikenalnya dengan baik, terutama jika terpisah dari orang tuanya.
Daftar Pustaka
http://www.tanyadokter.com/disease.asp?id=1001387
Menangis ketika ditinggalkan oleh ibunya atau menangis jika didekati orang yang tidak dikenalnya, merupakan suatu tahap perkembangan normal yang ditemukan pada bayi usia 8 bulan dan berlangsung sampai usia 18-24 bulan.
Pada umur 2 tahun, anak batita (dibawah tiga tahun) mulai memahami bahwa orang tuanya mungkin tidak terlihat oleh mata tetapi mereka pasti akan kembali.
Pada saat bayi berkembang dan lebih memperhatikan serta berinteraksi dengan lingkungannya, dia akan mengalami berbagai emosi seperti rasa percaya, rasa aman dan nyaman. Jika dia merasa kurang akrab dengan lingkungannya, maka akan timbul rasa takut.
Pada usia 8-24 bulan, anak-anak mengalami perasaan takut jika tidak berada dalam lingkungan yang akrab dan aman. Mereka mengenal orang tuanya sebagai lingkungan yang akrab dan aman. Jika berpisah dari orang tua, mereka merasa terancam dan tidak aman.
Gejalanya bisa berupa:
- Kesedihan berlebih ketika berpisah dengan ibu
- Khawatir akan kehilangan atau terjadi sesuatu yang buruk pada ibu
- Sering enggan pergi ke sekolah atau tempat lainnya karena takut berpisah
- Tidak mau tidur jika tidak ditemani oleh orang dewasa
- Mimpi buruk
- Sering mengeluhkan keadaan fisiknya
Beberapa orang tua (terutama yang baru pertama kali memiliki anak) menduga bahwa kecemasan karena berpisah ini merupakan suatu gangguan emosional dan mereka menghadapinya dengan bersikap protektif. Sang ayah mengartikan kecemasan karena berpisah sebagai pertanda bahwa anak terlalu dimanja dan menyalahkan ibunya atau mencoba untuk merubah perilaku anak dengan cara memarahi dan memberi hukuman.
Sebaiknya orang tua diyakinkan bahwa perilaku anak adalah normal.
Orang tua didorong untuk tidak terlalu protektif dan mengekang anak serta dianjurkan untuk membiarkan anaknya berkembang secara normal.
Penyelesaian terhadap masalah kecemasan ini tergantung kepada rasa aman dan rasa percaya yang mereka miliki terhadap orang selain orang tuanya, lingkungannya dan keyakinan akan kembalinya orang tua mereka.
Meskipun anak telah berhasil melewati masa perkembangan ini, kecemasan karena berpisah mungkin akan kembali pada saat anak mengalami stres. Kebanyakan anak akan mengalami kecemasan jika berada dalam situasi yang tidak dikenalnya dengan baik, terutama jika terpisah dari orang tuanya.
Daftar Pustaka
http://www.tanyadokter.com/disease.asp?id=1001387
Gangguan Kecemasan
A.Definisi dan Tipe-tipe Gangguan Kecemasan
Menurut Ismira Dewi, anxiety disorder atau gangguan kecemasan merupakan suatu keadaan yang dialami seseorang sehingga menimbulkan perasaan cemas dan khawatir secara berlebihan dalam jangka waktu yang cukup lama. Kecemasan dapat terjadi dalam berbagai situasi dan kondisi, termasuk didalamnya adalah ketakutan yang besar terhadap beberapa kondisi, yang kemudian dikenal dengan sebutan gangguan kecemasan umum atau generalized anxiety disorder (GAD). Gangguan kecemasan umum ini ditandai dengan kecemasan dan kekhawatiran yang berlebihan. Keadaan ini membuat seseorang akan sulit mengendalikan ketakutan yang muncul saat itu. Dr. Evalina Asnawi Hutagalung, Sp.Kj. menjelaskan bahwa anxietas adalah perasaan yang difius, yang sangat tidak menyenangkan, agak tidak menentu dan kabur tentang sesuatu yang akan terjadi. Perasaan ini disertai dengan suatu atau beberapa reaksi badaniah yang khas dan yang akan datang berulang bagi seseorang tertentu. Perasaan ini dapat berupa rasa kosong di perut, dada sesak, jantung berdebar, keringat berlebihan, sakit kepala atau rasa mau kencing atau buang air besar. Perasaan ini disertai dengan rasa ingin bergerak dan gelisah.
Anxietas adalah perasaan tidak senang yang khas yang disebabkan oleh dugaan akan bahaya atau frustrasi yang mengancam yang akan membahayakan rasa aman, keseimbangan, atau kehidupan seseorang individu atau kelompok biososialnya.
Di dalam Rangkuman Mata Kuliah PGTK2404 Penanganan Anak Berkelainan (Anak dengan Kebutuhan Khusus) yang diterbitkan Universitas Terbuka, diuraikan bahwa kecemasan merupakan ketakutan akan hal-hal yang akan dialami di masa depan dan keadaan tersebut mempengaruhi individu dalam berbagai area fungsional. Kecemasan memiliki tiga komponen dasar, yaitu keadaan subjektif, respons tingkah laku, dan respons fisiologis. Derajat kecemasan yang tinggi terjadi pada anak usia antara dua dan enam tahun. Dalam jumlah tertentu, kecemasan adalah sesuatu yang normal. Kecemasan baru disebut sebagai gangguan jika terdapat pengalaman yang intens, tidak rasional, dan perasaan tidak mampu untuk mengatasi. Terdapat beberapa tipe gangguan kecemasan, yaitu :
1.Fobia
Fobia adalah ketakutan yang berlebihan yang disebabkan oleh benda, binatang ataupun peristiwa tertentu, sifatnya biasanya tidak rasional, dan timbul akibat peristiwa traumatik yang pernah dialami individu. Fobia dibedakan menjadi dua jenis, yaitu: a. Fobia Spesifik Ketakutan berlebih yang disebabkan oleh benda, atau peristiwa traumatik tertentu, misalnya: ketakutan terhadap kucing (ailurfobia), ketakutan terhadap ketinggian (acrofobia), ketakutan terhadap tempat tertutup (agorafobia), fobia terhadap kancing baju, dsb. b. Fobia Sosial Ketakutan berlebih pada kerumunan atau tempat umum. ketakutan ini disebabkan akibat adanya pengalaman yang traumatik bagi individu pada saat ada dalam kerumunan atau tempat umum. Misalnya dipermalukan didepan umum, ataupun suatu kejadian yang mengancam dirinya pada saat diluar rumah.
2.Obsesif Kompulsif
Obsesif adalah pemikiran yang berulang dan terus-menerus. Sedangkan kompulsif adalah pelaksanaan dari pemikirannya tersebut.
3.Post Traumatik-Stress Disorder
(Gangguan Stress Pasca Trauma)
PTSD merupakan kecemasan akibat peristiwa traumatik yang biasanya dialami oleh veteran perang atau orang-orang yang mengalami bencana alam.
4.Generalized Anxiety Disorder
(Gangguan Kecemasan Tergeneralisasikan)
Tanda-tanda; kecemasan kronis terus menerus rnencakup situasi hidup (cemas akan terjadi kecelakaan, kesulitan finansial). Ada keluhan somatik: berpeluh, merasa panas, jantung berdetak keras, perut tidak enak, diare, sering buang air kecil, dingin, tangan basah, mulut kering, tenggorokan terasa tersumbat, sesak nafas, hiperaktivitas sistem saraf otonomik.
5.Gangguan Panik
Tanda-tanda: sekonyong-sekonyong sesak nafas, detak jantung keras, sakit di dada, merasa tercekik, pusing, berpeluh, bergetar, ketakutan yang sangat akan teror, ketakutan akan ada hukuman.
B.Gejala-gejala Gangguan Kecemasan Umum
Anak dan remaja dengan gangguan kecemasan secara umum atau
generalized anxiety disorder (GAD) sering terbelenggu dalam kekhawatiran terhadap kesuksesan dan kemampuan mereka guna mendapatkan pengakuan dari orang lain. Dalam hal ini anak menerapkan target yang cukup tinggi dalam mengerjakan tugasnya agar diperoleh hasil yang sempurna. Pencapaian target tersebut muncul karena adanya perasaan ketakutan yang cukup mendalam, ketakutan akan gagal, ditolak, dihina taupun diejek oleh lingkungannya. Adanya tuntutan yang berlebih ini kurang didukung dengan perasaan dan keadaan dirinya karena mereka memiliki keragu-raguan yang besar dan tidak yakin atas kemampuannya, bahkan mengkritik dirinya dengan menilai kelemahan yang ada dalam dirinya. Selain itu anak juga menunjukkan perilaku yang kaku dan kekhawatiran yang berlebih terhadap suatu aturan. Sebagian anak menunjukkan sikap pemalu, dan tidak merasa nyaman dengan suatu hobbi atau kegiatan rekreasi bersama. Tidak jarang diantara mereka menyadari bahwa keadaan dan kekhawatiran yang dialami lebih disebabkan karena situasi yang sedang terjadi, namun mereka tidak dapat menghentikan kecemasannya tersebut. Berikut ini bentuk perilaku dari gangguan kecemasan umum atau GAD (generalized anxiety disorder) pada anak-anak :
•Gelisah, gemetar, berkeringat;
•Jantung berdegup kencang, sesak nafas;
•Sering buang air kecil;
•Sulit berkonsentrasi;
•Menangis, marah (tantrum), berdiam diri, ketakutan, tergantung;
•Mudah merasa lelah;
•Pemalu yang berlebihan;
•Merasa ingin melarikan diri dari tempat tersebut;
Menghindari interaksi dengan orang baru, dan merasa menderita dengan lingkungan sosial yang baru. Gangguan kecemasan umum pada anak ini biasanya terjadi dan menetap selama enam bulan dan berpengaruh pada perilaku sehari-hari baik di rumah, sekolah, atau dengan teman-temannya.
C.Faktor-Faktor Penyebab Gangguan Kecemasan
Gangguan cemas mempunyai penyebab multifaktorial, faktor biologis, psikologis, dan sosial. Faktor biologis kecemasan akibat reaksi syaraf otonom yang berlebihan dan terjadi pelepasan katekholamine. Dilihat dari aspek psikoanalisis kecemasan dapat terjadi akibat impuls-impuls bawah sadar yang masuk ke alam sadar. Mekanisme pertahanan jiwa yang tidak sepenuhnya berhasil dapat menimbulkan kecemasan yang mengambang, Displacement dapat mengakibatkan reaksi fobia, reaksi formasi, dan undoing dapat mengakibatkan gangguan obsesi kompulsif. Sedangkan ketidakberhasilan represi mengakibatkan gangguan panik. Dari pendekatan sosial, ansietas dapat disebabkan karena frustasi, konflik, tekanan atau krisis. Menurut psikolog anak dr. Devita Kusindiati, M.Psi. ada beberapa faktor yang menyebabkan anak mengalami kecemasan antara lain : 1.Merasa tidak aman, 2.Orang tua/guru tidak konsisten dalam mendidik atau mengasuh anak sehingga membuat anak bingung dan cemas, 3.Orangtua yang perfeksionis, 4.Pola asuh permisif (permissiveness), 5.Banyak dikritik oleh orang tua atau teman sebaya, 6.Frustasi yang berlebihan. Secara umum bisa disimpulkan bahwa kecemasan timbul akibat adanya respons terhadap kondisi stres atau konflik. Rangsangan berupa konflik, baik yang datang dari luar maupun dalam diri sendiri akan menimbulkan respons dari sistem saraf yang mengatur pelepasan hormon tertentu. Akibat pelepasan hormon tersebut, maka muncul perangsangan pada organ-organ seperti lambung, jantung, pembuluh daerah maupun alat-alat gerak. Karena bentuk respons yang demikian, penderita biasanya tidak menyadari hal itu sebagai hubungan sebab akibat. Apakah seseorang akan mengalami anxietas atau tidak dan berapa beratnya, sangat tergantung pada berbagai faktor. Faktor itu ada yang bersumber pada keadaan biologis, kemampuan beradaptasi/mempertahankan diri terhadap lingkungan yang diperoleh dari perkembangan dan pengalamannya, serta adaptasi terhadap rangsangan, situasi atau stressor yang dihadapi.
Menurut Ismira Dewi, anxiety disorder atau gangguan kecemasan merupakan suatu keadaan yang dialami seseorang sehingga menimbulkan perasaan cemas dan khawatir secara berlebihan dalam jangka waktu yang cukup lama. Kecemasan dapat terjadi dalam berbagai situasi dan kondisi, termasuk didalamnya adalah ketakutan yang besar terhadap beberapa kondisi, yang kemudian dikenal dengan sebutan gangguan kecemasan umum atau generalized anxiety disorder (GAD). Gangguan kecemasan umum ini ditandai dengan kecemasan dan kekhawatiran yang berlebihan. Keadaan ini membuat seseorang akan sulit mengendalikan ketakutan yang muncul saat itu. Dr. Evalina Asnawi Hutagalung, Sp.Kj. menjelaskan bahwa anxietas adalah perasaan yang difius, yang sangat tidak menyenangkan, agak tidak menentu dan kabur tentang sesuatu yang akan terjadi. Perasaan ini disertai dengan suatu atau beberapa reaksi badaniah yang khas dan yang akan datang berulang bagi seseorang tertentu. Perasaan ini dapat berupa rasa kosong di perut, dada sesak, jantung berdebar, keringat berlebihan, sakit kepala atau rasa mau kencing atau buang air besar. Perasaan ini disertai dengan rasa ingin bergerak dan gelisah.
Anxietas adalah perasaan tidak senang yang khas yang disebabkan oleh dugaan akan bahaya atau frustrasi yang mengancam yang akan membahayakan rasa aman, keseimbangan, atau kehidupan seseorang individu atau kelompok biososialnya.
Di dalam Rangkuman Mata Kuliah PGTK2404 Penanganan Anak Berkelainan (Anak dengan Kebutuhan Khusus) yang diterbitkan Universitas Terbuka, diuraikan bahwa kecemasan merupakan ketakutan akan hal-hal yang akan dialami di masa depan dan keadaan tersebut mempengaruhi individu dalam berbagai area fungsional. Kecemasan memiliki tiga komponen dasar, yaitu keadaan subjektif, respons tingkah laku, dan respons fisiologis. Derajat kecemasan yang tinggi terjadi pada anak usia antara dua dan enam tahun. Dalam jumlah tertentu, kecemasan adalah sesuatu yang normal. Kecemasan baru disebut sebagai gangguan jika terdapat pengalaman yang intens, tidak rasional, dan perasaan tidak mampu untuk mengatasi. Terdapat beberapa tipe gangguan kecemasan, yaitu :
1.Fobia
Fobia adalah ketakutan yang berlebihan yang disebabkan oleh benda, binatang ataupun peristiwa tertentu, sifatnya biasanya tidak rasional, dan timbul akibat peristiwa traumatik yang pernah dialami individu. Fobia dibedakan menjadi dua jenis, yaitu: a. Fobia Spesifik Ketakutan berlebih yang disebabkan oleh benda, atau peristiwa traumatik tertentu, misalnya: ketakutan terhadap kucing (ailurfobia), ketakutan terhadap ketinggian (acrofobia), ketakutan terhadap tempat tertutup (agorafobia), fobia terhadap kancing baju, dsb. b. Fobia Sosial Ketakutan berlebih pada kerumunan atau tempat umum. ketakutan ini disebabkan akibat adanya pengalaman yang traumatik bagi individu pada saat ada dalam kerumunan atau tempat umum. Misalnya dipermalukan didepan umum, ataupun suatu kejadian yang mengancam dirinya pada saat diluar rumah.
2.Obsesif Kompulsif
Obsesif adalah pemikiran yang berulang dan terus-menerus. Sedangkan kompulsif adalah pelaksanaan dari pemikirannya tersebut.
3.Post Traumatik-Stress Disorder
(Gangguan Stress Pasca Trauma)
PTSD merupakan kecemasan akibat peristiwa traumatik yang biasanya dialami oleh veteran perang atau orang-orang yang mengalami bencana alam.
4.Generalized Anxiety Disorder
(Gangguan Kecemasan Tergeneralisasikan)
Tanda-tanda; kecemasan kronis terus menerus rnencakup situasi hidup (cemas akan terjadi kecelakaan, kesulitan finansial). Ada keluhan somatik: berpeluh, merasa panas, jantung berdetak keras, perut tidak enak, diare, sering buang air kecil, dingin, tangan basah, mulut kering, tenggorokan terasa tersumbat, sesak nafas, hiperaktivitas sistem saraf otonomik.
5.Gangguan Panik
Tanda-tanda: sekonyong-sekonyong sesak nafas, detak jantung keras, sakit di dada, merasa tercekik, pusing, berpeluh, bergetar, ketakutan yang sangat akan teror, ketakutan akan ada hukuman.
B.Gejala-gejala Gangguan Kecemasan Umum
Anak dan remaja dengan gangguan kecemasan secara umum atau
generalized anxiety disorder (GAD) sering terbelenggu dalam kekhawatiran terhadap kesuksesan dan kemampuan mereka guna mendapatkan pengakuan dari orang lain. Dalam hal ini anak menerapkan target yang cukup tinggi dalam mengerjakan tugasnya agar diperoleh hasil yang sempurna. Pencapaian target tersebut muncul karena adanya perasaan ketakutan yang cukup mendalam, ketakutan akan gagal, ditolak, dihina taupun diejek oleh lingkungannya. Adanya tuntutan yang berlebih ini kurang didukung dengan perasaan dan keadaan dirinya karena mereka memiliki keragu-raguan yang besar dan tidak yakin atas kemampuannya, bahkan mengkritik dirinya dengan menilai kelemahan yang ada dalam dirinya. Selain itu anak juga menunjukkan perilaku yang kaku dan kekhawatiran yang berlebih terhadap suatu aturan. Sebagian anak menunjukkan sikap pemalu, dan tidak merasa nyaman dengan suatu hobbi atau kegiatan rekreasi bersama. Tidak jarang diantara mereka menyadari bahwa keadaan dan kekhawatiran yang dialami lebih disebabkan karena situasi yang sedang terjadi, namun mereka tidak dapat menghentikan kecemasannya tersebut. Berikut ini bentuk perilaku dari gangguan kecemasan umum atau GAD (generalized anxiety disorder) pada anak-anak :
•Gelisah, gemetar, berkeringat;
•Jantung berdegup kencang, sesak nafas;
•Sering buang air kecil;
•Sulit berkonsentrasi;
•Menangis, marah (tantrum), berdiam diri, ketakutan, tergantung;
•Mudah merasa lelah;
•Pemalu yang berlebihan;
•Merasa ingin melarikan diri dari tempat tersebut;
Menghindari interaksi dengan orang baru, dan merasa menderita dengan lingkungan sosial yang baru. Gangguan kecemasan umum pada anak ini biasanya terjadi dan menetap selama enam bulan dan berpengaruh pada perilaku sehari-hari baik di rumah, sekolah, atau dengan teman-temannya.
C.Faktor-Faktor Penyebab Gangguan Kecemasan
Gangguan cemas mempunyai penyebab multifaktorial, faktor biologis, psikologis, dan sosial. Faktor biologis kecemasan akibat reaksi syaraf otonom yang berlebihan dan terjadi pelepasan katekholamine. Dilihat dari aspek psikoanalisis kecemasan dapat terjadi akibat impuls-impuls bawah sadar yang masuk ke alam sadar. Mekanisme pertahanan jiwa yang tidak sepenuhnya berhasil dapat menimbulkan kecemasan yang mengambang, Displacement dapat mengakibatkan reaksi fobia, reaksi formasi, dan undoing dapat mengakibatkan gangguan obsesi kompulsif. Sedangkan ketidakberhasilan represi mengakibatkan gangguan panik. Dari pendekatan sosial, ansietas dapat disebabkan karena frustasi, konflik, tekanan atau krisis. Menurut psikolog anak dr. Devita Kusindiati, M.Psi. ada beberapa faktor yang menyebabkan anak mengalami kecemasan antara lain : 1.Merasa tidak aman, 2.Orang tua/guru tidak konsisten dalam mendidik atau mengasuh anak sehingga membuat anak bingung dan cemas, 3.Orangtua yang perfeksionis, 4.Pola asuh permisif (permissiveness), 5.Banyak dikritik oleh orang tua atau teman sebaya, 6.Frustasi yang berlebihan. Secara umum bisa disimpulkan bahwa kecemasan timbul akibat adanya respons terhadap kondisi stres atau konflik. Rangsangan berupa konflik, baik yang datang dari luar maupun dalam diri sendiri akan menimbulkan respons dari sistem saraf yang mengatur pelepasan hormon tertentu. Akibat pelepasan hormon tersebut, maka muncul perangsangan pada organ-organ seperti lambung, jantung, pembuluh daerah maupun alat-alat gerak. Karena bentuk respons yang demikian, penderita biasanya tidak menyadari hal itu sebagai hubungan sebab akibat. Apakah seseorang akan mengalami anxietas atau tidak dan berapa beratnya, sangat tergantung pada berbagai faktor. Faktor itu ada yang bersumber pada keadaan biologis, kemampuan beradaptasi/mempertahankan diri terhadap lingkungan yang diperoleh dari perkembangan dan pengalamannya, serta adaptasi terhadap rangsangan, situasi atau stressor yang dihadapi.
Subscribe to:
Comments (Atom)
